Kapitalisme, sosialisme/komunisme atau jalan tengah . . .
Saya sering punya pikiran atau semacam kecurigaan terhadap teman-teman dimilis
ini atau bahkan diseluruh Indonesia dikalangan manusia Indonesia atau juga saya
yakin seluruh dunia, bahwa jalan mana yang akan kita (kemanusiaan) tempuh dalam
mencapai masyarakat adil dan mankmur seakan-akan belum selesai diputuskan. Dan
saya sebagai orang ’hebat’ begini mau bikin putusan hehehe . . . bukan hanya
untuk rakyat Karo dan Indonesia tetapi juga untuk rakyat seluruh jagad.
Mampukah saya? Jelas mampu, saya optimis, kan hanya dalam diskusi.
Dalan siapai, serpang siapai . . . kam kutimai . . . jalan yang mana, simpang
yang mana . . . kam (yang dicintai) akan saya tunggu . . . lirik lagu Karo yang
selalu menuntut saya berpikir lebih jauh tentang Karo dan Indonesia, tetapi
juga bikin saya semakin dekat. Mungkinkah saya satu waktu menemukan simpang
itu? Saya pikir tidak akan mungkin, pertama begitulah persoalannya jadi ada
(exis) karena tidak tau dimana simpang perjumpaan itu, tidak akan pernah
menemukan. Tetapi mendekati simpang itu adalah mungkin!
Pengalaman sejarah: Stalin coba ambil satu jalan, menemukan simpangnya dan
terpaksa bunuh belasan juta orang Rusia dan banyak juga dari etnis-etnis
minoritas di Soviet. Polpot coba juga, terpaksa juga bunuh satu juta lebih
orang Kambodja. Suharto coba juga, terpaksa juga bunuh 3 juta orang Indonesia.
Pelajaran sejarah, pelajaran pahit, makanan pahit. Masih ada yang mau makan?
Merkantilisme, laissez-faire . . .liberalisme . . sosialisme/komunisme . .
neoliberalisme.
Sekarang kelihatannya yang terlihat menonjol ialah laissez-faire-liberalism
(klasik) atau laissez-faire-neoliberalim walaupun disini tidak juga mungkin
dibikin batas yang jelas (per negara) seperti perceraian blok-barat dan
blok-timur dimasa lalu. Tetapi bisa diduga-duga seperti India, China disatu
pihak dan Indonesia, USA dipihak lain. Semua negeri ini juga berjalan dan
berkembang menurut proses dialektika, artinya tidak ada yang tetap, rakyat
dibanyak negeri sudah semakin pandai dan tambah banyak jumlahnya. Salah satu
sebab dugaan-dugaan ekonomi sering salah karena faktor pertambahan penduduk
yang luar biasa atas ekonomi sering terlupakan. Jalan yang tepat ialah jalan
yang mendekati simpang tadi, supaya semakin dekat ke ketepatan, harus melewati
semua kontradiksi dan pertentangan, proses perkembangan hal-ihwal. Apa yang
tepat harus lewat kontradiksi dan pertentangan. Demikian juga apa yang tidak
tepat, artinya melalui proses dan perjuangan antara
segi-segi yang bertentangan. Salah satu kebanggaan saya atas milis kita ini
ialah bahwa disini kita bisa mendekati 'kebenaran' lewat perjuangan antara
pendapat-pendapat kita yang bertentangan. Bangga kan kita? Milis kita jadi mini
dunia. Dunia berkembang begitu, sedar atau tidak kita.
Perkembangan dialektika ketingkat sekarang ini memungkinkan kita mengikuti
persoalan dunia lebih ringan dan lebih banyak kemungkinan mencapai kesimpulan
yang pantas dan adil. Dialektika klasik atau saya sebut embrio dialektika sudah
lama ada didunia dan diketahui rakyat atau filosof terdahulu, tetapi belum
lengkap/sempurna seperti sekarang. 500 th SM Heraklitos melihat proses
dialektika 'panta rei' (semua mengalir), tidak mungkin kita menginjakkan kaki
di sungai yang sama dua kali, katanya. Air sungai sudah ganti lagi kalau kita
datang yang kedua kalinya, karena sungai mengalir. Ini mengatakan proses yang
berjalan terus. Di Karo 'caingi muat jilena' (disobek tambah cantik, dalam
menjait baju) atau 'seh sura-sura tangkel sinanggel' (begitu sampai cita-cita
langsung datang problem lain atau disini kesusahan). Ini menjelaskan
pertentangan dan proses pertentangan bejalan. Di Minang, 'cabiak-cabiak bulu
ayam' (cubit sana cubit sini sedikit-sedikit mencari
mana yang benar), atau 'basilang kayu ditungku mako apinyo hiduik' (api hidup
ditungku kalau kayunya disilangkan). Disini juga menunjukkan pertentangan dan
prosesnya.
Embrio dialektika ini sudah ada dinegeri kita sejak lama, tetapi tidak pernah
tertulis dibuku barat. Dan kita juga tidak pernah mengembangkan secara seksama.
Tetapi biar begitupun pengetahuan manusia soal dialektika sekarang sudah lebih
tinggi, di Indonesia dan termasuk di milis kita. Karena itu sudah mungkin kita
menilai dunia dan proses perkembangannya dengan memakai metode dialektika dan
itu pulalah yang membikin saya optimis.
Untuk menyingkat, saya akhiri dengan mengatakan jalan yang kita ambil ialah
jalan yang cocok untuk kita, semua yang menguntungkan rakyat diambil dan yang
merugikan dibuang. Tapi untuk memilih ini semua harus lewat perjuangan dari
segi-segi bertentangan, cabiak-cabiak bulu ayam atau caingi muat jilena.
Misalnya dalam menilai liberalisme, sosial-lieberalisme atau neo-liberalisme
dan kapitalisme. Perkembangan dan struktur intern masyarakat kita juga tidak
ada yang sama dengan negeri manapun didunia.
Kapitalisme labo kreasi manusia, tapi enda evolusi perkembangan cara produksi
(sistem produksi) menggantikan sistem si enggo kolot (feodalisme). Enda sistem
'penghisapan manusia atas manusia' nina kalak sosialis/komunis ibas sura-sura
kemanusiaanna demi persamaan dan keadilan. Tetapi 'yang buruk masih tetap baik'
untuk menerangi trowongan gelap yang telah menutupi kehidupan manusia selama
berabad-abad, kata Keynes. Dalam kapitalisme ada kreasi menciptakan yang baru,
dibawah syarat kebebasan berpikir serta upah yang lumayan bagi penciptanya.
Mungkinkah ada kreasi tanpa kedua syarat ini? Tetapi yang pasti ialah bahwa
tidak akan ada perkembangan (kemajuan?) tanpa kreasi baru.
(Milis tanahkaro, Tue Dec 4, 2007 12:24 pm)
Enda ka lebe
Mejuah-juah kita kerina
MUG
__________________________________________________________
Ta semester! - sök efter resor hos Yahoo! Shopping.
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum här:
http://shopping.yahoo.se/c-169901-resor-biljetter.html?partnerId=96914052