Serpang siapai, turang
kam kutimai, Iting
Ibas kemulihendu,

I Göteborg nari, turang nguda
Kam kal ngé ndubé
petandakensa aku
ras Karo Énda Ndai

Tatap taré, kila
sapo terulang
inganta ndubé runggu
ras teman-teman

Kuinget kenca, beré Karo
arihta ndubé
i paspasen Silindung Bulan
deherken Sangka Manuk

Sangana kéna ngelajangken bana
pegedang sura
pegedang até geget

Enggo gia, Tigan ....
Nandé Tigan kukelengi....
(Iyoh mis tereteh pé. Stop ... Stop musik)

Loreta
Salam ama Bibi, Kila






--- On Wed, 25/6/08, shodan purba <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: shodan purba <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [tanahkaro] dalan siapai, serpang siapai . . . kam kutimai . . .
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, 25 June, 2008, 12:17 AM










    
            MJJ:
Pengantar yang bagus, intellectually stimulating. ..
Mungkinkah saya satu waktu menemukan simpang itu? Saya pikir tidak akan 
mungkin, pertama begitulah persoalannya jadi ada (exis) karena tidak tau dimana 
simpang perjumpaan itu, tidak akan pernah menemukan. Tetapi mendekati simpang 
itu adalah mungkin!
Dalam bahasa yang saya anut, simpang itu adalah the new equilibrium, Jerusalem 
simbaru yang "dengan sengaja" menjadi PERAYAKEN. Kita akan sampai pada 
jerusalem-jerusalem tetapi manusia akan harus menemukan jerusalem simbaru 
seterusnya.. ..
 
Bujur, Sentabi,
Bp. Nona Sampaguita  

--- On Tue, 6/24/08, MU Ginting <[EMAIL PROTECTED] se> wrote:

From: MU Ginting <[EMAIL PROTECTED] se>
Subject: [tanahkaro] dalan siapai, serpang siapai . . . kam kutimai . . .
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com, [EMAIL PROTECTED] ps.com, komunitaskaro@ 
yahoogroups. com
Date: Tuesday, June 24, 2008, 8:59 AM









 
Kapitalisme, sosialisme/komunism e atau jalan tengah . . . 
Saya sering punya pikiran atau semacam kecurigaan terhadap teman-teman dimilis 
ini atau bahkan diseluruh Indonesia dikalangan manusia Indonesia atau juga saya 
yakin seluruh dunia, bahwa jalan mana yang akan kita (kemanusiaan) tempuh dalam 
mencapai masyarakat adil dan mankmur seakan-akan belum selesai diputuskan. Dan 
saya sebagai orang ’hebat’ begini mau bikin putusan hehehe . . . bukan hanya 
untuk rakyat Karo dan Indonesia tetapi juga untuk rakyat seluruh jagad. 
Mampukah saya? Jelas mampu, saya optimis, kan hanya dalam diskusi. 
Dalan siapai, serpang siapai . . . kam kutimai . . . jalan yang mana, simpang 
yang mana . . . kam (yang dicintai) akan saya tunggu . . . lirik lagu Karo yang 
selalu menuntut saya berpikir lebih jauh tentang Karo dan Indonesia, tetapi 
juga bikin saya semakin dekat. Mungkinkah saya satu waktu menemukan simpang 
itu? Saya pikir tidak akan mungkin, pertama begitulah persoalannya jadi ada 
(exis) karena tidak tau dimana simpang perjumpaan itu, tidak akan pernah 
menemukan. Tetapi mendekati simpang itu adalah mungkin!
Pengalaman sejarah: Stalin coba ambil satu jalan, menemukan simpangnya dan 
terpaksa bunuh belasan juta orang Rusia dan banyak juga dari etnis-etnis 
minoritas di Soviet. Polpot coba juga, terpaksa juga bunuh satu juta lebih 
orang Kambodja. Suharto coba juga, terpaksa juga bunuh 3 juta orang Indonesia. 
Pelajaran sejarah, pelajaran pahit, makanan pahit. Masih ada yang mau makan?
Merkantilisme, laissez-faire . . .liberalisme . . sosialisme/komunism e . . 
neoliberalisme. 
Sekarang kelihatannya yang terlihat menonjol ialah laissez-faire- liberalism 
(klasik) atau laissez-faire- neoliberalim walaupun disini tidak juga mungkin 
dibikin batas yang jelas (per negara) seperti perceraian blok-barat dan 
blok-timur dimasa lalu. Tetapi bisa diduga-duga seperti India, China disatu 
pihak dan Indonesia, USA dipihak lain. Semua negeri ini juga berjalan dan 
berkembang menurut proses dialektika, artinya tidak ada yang tetap, rakyat 
dibanyak negeri sudah semakin pandai dan tambah banyak jumlahnya. Salah satu 
sebab dugaan-dugaan ekonomi sering salah karena faktor pertambahan penduduk 
yang luar biasa atas ekonomi sering terlupakan. Jalan yang tepat ialah jalan 
yang mendekati simpang tadi, supaya semakin dekat ke ketepatan, harus melewati 
semua kontradiksi dan pertentangan, proses perkembangan hal-ihwal. Apa yang 
tepat harus lewat kontradiksi dan pertentangan. Demikian juga apa yang tidak 
tepat, artinya melalui proses dan perjuangan antara
 segi-segi yang bertentangan. Salah satu kebanggaan saya atas milis kita ini 
ialah bahwa disini kita bisa mendekati 'kebenaran' lewat perjuangan antara 
pendapat-pendapat kita yang bertentangan. Bangga kan kita? Milis kita jadi mini 
dunia. Dunia berkembang begitu, sedar atau tidak kita. 
Perkembangan dialektika ketingkat sekarang ini memungkinkan kita mengikuti 
persoalan dunia lebih ringan dan lebih banyak kemungkinan mencapai kesimpulan 
yang pantas dan adil. Dialektika klasik atau saya sebut embrio dialektika sudah 
lama ada didunia dan diketahui rakyat atau filosof terdahulu, tetapi belum 
lengkap/sempurna seperti sekarang. 500 th SM Heraklitos melihat proses 
dialektika 'panta rei' (semua mengalir), tidak mungkin kita menginjakkan kaki 
di sungai yang sama dua kali, katanya. Air sungai sudah ganti lagi kalau kita 
datang yang kedua kalinya, karena sungai mengalir. Ini mengatakan proses yang 
berjalan terus. Di Karo 'caingi muat jilena' (disobek tambah cantik, dalam 
menjait baju) atau 'seh sura-sura tangkel sinanggel' (begitu sampai cita-cita 
langsung datang problem lain atau disini kesusahan). Ini menjelaskan 
pertentangan dan proses pertentangan bejalan. Di Minang, 'cabiak-cabiak bulu 
ayam' (cubit sana cubit sini sedikit-sedikit
 mencari mana yang benar), atau 'basilang kayu ditungku mako apinyo hiduik' 
(api hidup ditungku kalau kayunya disilangkan) . Disini juga menunjukkan 
pertentangan dan prosesnya. 
Embrio dialektika ini sudah ada dinegeri kita sejak lama, tetapi tidak pernah 
tertulis dibuku barat. Dan kita juga tidak pernah mengembangkan secara seksama. 
Tetapi biar begitupun pengetahuan manusia soal dialektika sekarang sudah lebih 
tinggi, di Indonesia dan termasuk di milis kita. Karena itu sudah mungkin kita 
menilai dunia dan proses perkembangannya dengan memakai metode dialektika dan 
itu pulalah yang membikin saya optimis. 
Untuk menyingkat, saya akhiri dengan mengatakan jalan yang kita ambil ialah 
jalan yang cocok untuk kita, semua yang menguntungkan rakyat diambil dan yang 
merugikan dibuang. Tapi untuk memilih ini semua harus lewat perjuangan dari 
segi-segi bertentangan, cabiak-cabiak bulu ayam atau caingi muat jilena. 
Misalnya dalam menilai liberalisme, sosial-lieberalisme atau neo-liberalisme 
dan kapitalisme. Perkembangan dan struktur intern masyarakat kita juga tidak 
ada yang sama dengan negeri manapun didunia. 
 
Kapitalisme labo kreasi manusia, tapi enda evolusi perkembangan cara produksi 
(sistem produksi) menggantikan sistem si enggo kolot (feodalisme) . Enda sistem 
'penghisapan manusia atas manusia' nina kalak sosialis/komunis ibas sura-sura 
kemanusiaanna demi persamaan dan keadilan. Tetapi 'yang buruk masih tetap baik' 
untuk menerangi trowongan gelap yang telah menutupi kehidupan manusia selama 
berabad-abad, kata Keynes. Dalam kapitalisme ada kreasi menciptakan yang baru, 
dibawah syarat kebebasan berpikir serta upah yang lumayan bagi penciptanya. 
Mungkinkah ada kreasi tanpa kedua syarat ini? Tetapi yang pasti ialah bahwa 
tidak akan ada perkembangan (kemajuan?) tanpa kreasi baru. 
(Milis tanahkaro, Tue Dec 4, 2007 12:24 pm) 
 
Enda ka lebe
Mejuah-juah kita kerina
MUG
 






Ta semester! - sök efter resor hos Yahoo! Shopping. 
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum: http://shopping. yahoo.se/ 
c-169901- resor-biljetter. html



      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      __________________________________________________________
Sent from Yahoo! Mail.
A Smarter Email http://uk.docs.yahoo.com/nowyoucan.html

Kirim email ke