Mejuah-juah permilis kerina,
Enda sitik ku dat bas Carlos nari, kuakap perlu ka itambahken ku 
persoalen enda. Bujur melala ibas tanggapan positif sienggo 
iberekendu kerina.
MUG

Den tis 2008-06-24 skrev Muhamad Carlos Patriawan 
<[EMAIL PROTECTED]>:


Från: Muhamad Carlos Patriawan <[EMAIL PROTECTED]>
Ämne: Re: dalan siapai, serpang siapai . . . kam kutimai . . .
Till: "MU Ginting" <[EMAIL PROTECTED]>
Datum: tisdag 24 juni 2008 23.21


--- In [email protected], MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Sekarang kelihatannya yang terlihat menonjol ialah laissez-faire-
liberalism (klasik) atau laissez-faire-neoliberalim walaupun disini
tidak juga mungkin dibikin batas yang jelas (per negara) seperti p

==========

Ini ada tanggapan  Hatta terhadap "Laissez
Faire", dari tulisanya pada 1959 :

Q: Bagaimana jadinya teori ekonomi Laissez Faire dalam prakteknya ?

Hatta: Itu semua teorinya.  Dalam praktek tidak banyak daripada
dunia impian Adam Smith itu yang terjadi. Semua orang keluar mengadu
peruntungan dengan jalan `permainan dari pada tenaga masyrakat'.
Tetapi bagaimana sifat merdekanya ? itulah yang tidak ada !

Tindakan merdeka dan persaingan merdeka mungkin bisa baik hasilnya
apabila subjek-subjek ekonomi itu kira kira sama kuat kedudukanya.
sama sama tjerdik dan sama sama mempunyai kepandaian. Itulah yang
tidak ada dari awal.

Seperti disebut tadi, kaum buruh tidak mempunyai kekuatan dengan
adanya larangan berkoalisi sedangkan kaum kapitalis jang dari semua
sudah kuat karena memiliki alat2 penghasil dapat kebabasan menyusun
kekuatanya. Rakjat banyak jang hidup dari sehari ke sehari dari
tangan kemelut dihalau masuk ke arena perjuangan kelas sosial yang
sedih dengan tidak ada pertahanan. Akibatnya kehancuran hidup dan
demoralisasi.

Maka karena itu jang kaya bertambah kaja dengan laissez faire ini
sedangkan yang miskin tambah melarat. The rule of the market
menghendaki the rule of the game. Yang pertama diadakan, yang
kemudian tidak diperbuat sehingga permainan merdeka daripada tentaga
masyrakat sebenarnya tidak jalan. The rule of the game itu rupanya
yang dikehendaki kemudian hari oleh gerakan neo-liberalisme.

--- In [email protected], Loreta Sekali 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Serpang siapai, turang
> kam kutimai, Iting
> Ibas kemulihendu,
> 
> I Göteborg nari, turang nguda
> Kam kal ngé ndubé
> petandakensa aku
> ras Karo Énda Ndai
> 
> Tatap taré, kila
> sapo terulang
> inganta ndubé runggu
> ras teman-teman
> 
> Kuinget kenca, beré Karo
> arihta ndubé
> i paspasen Silindung Bulan
> deherken Sangka Manuk
> 
> Sangana kéna ngelajangken bana
> pegedang sura
> pegedang até geget
> 
> Enggo gia, Tigan ....
> Nandé Tigan kukelengi....
> (Iyoh mis tereteh pé. Stop ... Stop musik)
> 
> Loreta
> Salam ama Bibi, Kila
 
> --- On Wed, 25/6/08, shodan purba <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> From: shodan purba <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: [tanahkaro] dalan siapai, serpang siapai . . . kam 
kutimai . . .
> To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED]
> Date: Wednesday, 25 June, 2008, 12:17 AM
     
>             MJJ:
> Pengantar yang bagus, intellectually stimulating. ..
> Mungkinkah saya satu waktu menemukan simpang itu? Saya pikir tidak 
akan mungkin, pertama begitulah persoalannya jadi ada (exis) karena 
tidak tau dimana simpang perjumpaan itu, tidak akan pernah 
menemukan. Tetapi mendekati simpang itu adalah mungkin!
> Dalam bahasa yang saya anut, simpang itu adalah the new 
equilibrium, Jerusalem simbaru yang "dengan sengaja" menjadi 
PERAYAKEN. Kita akan sampai pada jerusalem-jerusalem tetapi manusia 
akan harus menemukan jerusalem simbaru seterusnya.. ..

> Bujur, Sentabi,
> Bp. Nona Sampaguita  
> 
> --- On Tue, 6/24/08, MU Ginting <[EMAIL PROTECTED] se> wrote:
> 
> From: MU Ginting <[EMAIL PROTECTED] se>
> Subject: [tanahkaro] dalan siapai, serpang siapai . . . kam 
kutimai . . .
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com, [EMAIL PROTECTED] ps.com, 
komunitaskaro@ yahoogroups. com
> Date: Tuesday, June 24, 2008, 8:59 AM

> Kapitalisme, sosialisme/komunism e atau jalan tengah . . . 
> Saya sering punya pikiran atau semacam kecurigaan terhadap teman-
teman dimilis ini atau bahkan diseluruh Indonesia dikalangan manusia 
Indonesia atau juga saya yakin seluruh dunia, bahwa jalan mana yang 
akan kita (kemanusiaan) tempuh dalam mencapai masyarakat adil dan 
mankmur seakan-akan belum selesai diputuskan. Dan saya sebagai orang 
’hebat’ begini mau bikin putusan hehehe . . . bukan hanya untuk 
rakyat Karo dan Indonesia tetapi juga untuk rakyat seluruh jagad. 
Mampukah saya? Jelas mampu, saya optimis, kan hanya dalam diskusi. 
> Dalan siapai, serpang siapai . . . kam kutimai . . . jalan yang 
mana, simpang yang mana . . . kam (yang dicintai) akan saya 
tunggu . . . lirik lagu Karo yang selalu menuntut saya berpikir 
lebih jauh tentang Karo dan Indonesia, tetapi juga bikin saya 
semakin dekat. Mungkinkah saya satu waktu menemukan simpang itu? 
Saya pikir tidak akan mungkin, pertama begitulah persoalannya jadi 
ada (exis) karena tidak tau dimana simpang perjumpaan itu, tidak 
akan pernah menemukan. Tetapi mendekati simpang itu adalah mungkin!
> Pengalaman sejarah: Stalin coba ambil satu jalan, menemukan 
simpangnya dan terpaksa bunuh belasan juta orang Rusia dan banyak 
juga dari etnis-etnis minoritas di Soviet. Polpot coba juga, 
terpaksa juga bunuh satu juta lebih orang Kambodja. Suharto coba 
juga, terpaksa juga bunuh 3 juta orang Indonesia. Pelajaran sejarah, 
pelajaran pahit, makanan pahit. Masih ada yang mau makan?
> Merkantilisme, laissez-faire . . .liberalisme . . 
sosialisme/komunism e . . neoliberalisme. 
> Sekarang kelihatannya yang terlihat menonjol ialah laissez-faire- 
liberalism (klasik) atau laissez-faire- neoliberalim walaupun disini 
tidak juga mungkin dibikin batas yang jelas (per negara) seperti 
perceraian blok-barat dan blok-timur dimasa lalu. Tetapi bisa diduga-
duga seperti India, China disatu pihak dan Indonesia, USA dipihak 
lain. Semua negeri ini juga berjalan dan berkembang menurut proses 
dialektika, artinya tidak ada yang tetap, rakyat dibanyak negeri 
sudah semakin pandai dan tambah banyak jumlahnya. Salah satu sebab 
dugaan-dugaan ekonomi sering salah karena faktor pertambahan 
penduduk yang luar biasa atas ekonomi sering terlupakan. Jalan yang 
tepat ialah jalan yang mendekati simpang tadi, supaya semakin dekat 
ke ketepatan, harus melewati semua kontradiksi dan pertentangan, 
proses perkembangan hal-ihwal. Apa yang tepat harus lewat 
kontradiksi dan pertentangan. Demikian juga apa yang tidak tepat, 
artinya melalui proses dan perjuangan antara
>  segi-segi yang bertentangan. Salah satu kebanggaan saya atas 
milis kita ini ialah bahwa disini kita bisa mendekati 'kebenaran' 
lewat perjuangan antara pendapat-pendapat kita yang bertentangan. 
Bangga kan kita? Milis kita jadi mini dunia. Dunia berkembang 
begitu, sedar atau tidak kita. 
> Perkembangan dialektika ketingkat sekarang ini memungkinkan kita 
mengikuti persoalan dunia lebih ringan dan lebih banyak kemungkinan 
mencapai kesimpulan yang pantas dan adil. Dialektika klasik atau 
saya sebut embrio dialektika sudah lama ada didunia dan diketahui 
rakyat atau filosof terdahulu, tetapi belum lengkap/sempurna seperti 
sekarang. 500 th SM Heraklitos melihat proses dialektika 'panta rei' 
(semua mengalir), tidak mungkin kita menginjakkan kaki di sungai 
yang sama dua kali, katanya. Air sungai sudah ganti lagi kalau kita 
datang yang kedua kalinya, karena sungai mengalir. Ini mengatakan 
proses yang berjalan terus. Di Karo 'caingi muat jilena' (disobek 
tambah cantik, dalam menjait baju) atau 'seh sura-sura tangkel 
sinanggel' (begitu sampai cita-cita langsung datang problem lain 
atau disini kesusahan). Ini menjelaskan pertentangan dan proses 
pertentangan bejalan. Di Minang, 'cabiak-cabiak bulu ayam' (cubit 
sana cubit sini sedikit-sedikit
>  mencari mana yang benar), atau 'basilang kayu ditungku mako 
apinyo hiduik' (api hidup ditungku kalau kayunya disilangkan) . 
Disini juga menunjukkan pertentangan dan prosesnya. 
> Embrio dialektika ini sudah ada dinegeri kita sejak lama, tetapi 
tidak pernah tertulis dibuku barat. Dan kita juga tidak pernah 
mengembangkan secara seksama. Tetapi biar begitupun pengetahuan 
manusia soal dialektika sekarang sudah lebih tinggi, di Indonesia 
dan termasuk di milis kita. Karena itu sudah mungkin kita menilai 
dunia dan proses perkembangannya dengan memakai metode dialektika 
dan itu pulalah yang membikin saya optimis. 
> Untuk menyingkat, saya akhiri dengan mengatakan jalan yang kita 
ambil ialah jalan yang cocok untuk kita, semua yang menguntungkan 
rakyat diambil dan yang merugikan dibuang. Tapi untuk memilih ini 
semua harus lewat perjuangan dari segi-segi bertentangan, cabiak-
cabiak bulu ayam atau caingi muat jilena. Misalnya dalam menilai 
liberalisme, sosial-lieberalisme atau neo-liberalisme dan 
kapitalisme. Perkembangan dan struktur intern masyarakat kita juga 
tidak ada yang sama dengan negeri manapun didunia. 
 
> Kapitalisme labo kreasi manusia, tapi enda evolusi perkembangan 
cara produksi (sistem produksi) menggantikan sistem si enggo kolot 
(feodalisme) . Enda sistem 'penghisapan manusia atas manusia' nina 
kalak sosialis/komunis ibas sura-sura kemanusiaanna demi persamaan 
dan keadilan. Tetapi 'yang buruk masih tetap baik' untuk menerangi 
trowongan gelap yang telah menutupi kehidupan manusia selama berabad-
abad, kata Keynes. Dalam kapitalisme ada kreasi menciptakan yang 
baru, dibawah syarat kebebasan berpikir serta upah yang lumayan bagi 
penciptanya. Mungkinkah ada kreasi tanpa kedua syarat ini? Tetapi 
yang pasti ialah bahwa tidak akan ada perkembangan (kemajuan?) tanpa 
kreasi baru. 
> (Milis tanahkaro, Tue Dec 4, 2007 12:24 pm) 
 
> Enda ka lebe
> Mejuah-juah kita kerina
> MUG


Kirim email ke