MJJ: Pengantar yang bagus, intellectually stimulating... Mungkinkah saya satu waktu menemukan simpang itu? Saya pikir tidak akan mungkin, pertama begitulah persoalannya jadi ada (exis) karena tidak tau dimana simpang perjumpaan itu, tidak akan pernah menemukan. Tetapi mendekati simpang itu adalah mungkin! Dalam bahasa yang saya anut, simpang itu adalah the new equilibrium, Jerusalem simbaru yang "dengan sengaja" menjadi PERAYAKEN. Kita akan sampai pada jerusalem-jerusalem tetapi manusia akan harus menemukan jerusalem simbaru seterusnya.... Bujur, Sentabi, Bp. Nona Sampaguita
--- On Tue, 6/24/08, MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [tanahkaro] dalan siapai, serpang siapai . . . kam kutimai . . . To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Date: Tuesday, June 24, 2008, 8:59 AM Kapitalisme, sosialisme/komunism e atau jalan tengah . . . Saya sering punya pikiran atau semacam kecurigaan terhadap teman-teman dimilis ini atau bahkan diseluruh Indonesia dikalangan manusia Indonesia atau juga saya yakin seluruh dunia, bahwa jalan mana yang akan kita (kemanusiaan) tempuh dalam mencapai masyarakat adil dan mankmur seakan-akan belum selesai diputuskan. Dan saya sebagai orang ’hebat’ begini mau bikin putusan hehehe . . . bukan hanya untuk rakyat Karo dan Indonesia tetapi juga untuk rakyat seluruh jagad. Mampukah saya? Jelas mampu, saya optimis, kan hanya dalam diskusi. Dalan siapai, serpang siapai . . . kam kutimai . . . jalan yang mana, simpang yang mana . . . kam (yang dicintai) akan saya tunggu . . . lirik lagu Karo yang selalu menuntut saya berpikir lebih jauh tentang Karo dan Indonesia, tetapi juga bikin saya semakin dekat. Mungkinkah saya satu waktu menemukan simpang itu? Saya pikir tidak akan mungkin, pertama begitulah persoalannya jadi ada (exis) karena tidak tau dimana simpang perjumpaan itu, tidak akan pernah menemukan. Tetapi mendekati simpang itu adalah mungkin! Pengalaman sejarah: Stalin coba ambil satu jalan, menemukan simpangnya dan terpaksa bunuh belasan juta orang Rusia dan banyak juga dari etnis-etnis minoritas di Soviet. Polpot coba juga, terpaksa juga bunuh satu juta lebih orang Kambodja. Suharto coba juga, terpaksa juga bunuh 3 juta orang Indonesia. Pelajaran sejarah, pelajaran pahit, makanan pahit. Masih ada yang mau makan? Merkantilisme, laissez-faire . . .liberalisme . . sosialisme/komunism e . . neoliberalisme. Sekarang kelihatannya yang terlihat menonjol ialah laissez-faire- liberalism (klasik) atau laissez-faire- neoliberalim walaupun disini tidak juga mungkin dibikin batas yang jelas (per negara) seperti perceraian blok-barat dan blok-timur dimasa lalu. Tetapi bisa diduga-duga seperti India, China disatu pihak dan Indonesia, USA dipihak lain. Semua negeri ini juga berjalan dan berkembang menurut proses dialektika, artinya tidak ada yang tetap, rakyat dibanyak negeri sudah semakin pandai dan tambah banyak jumlahnya. Salah satu sebab dugaan-dugaan ekonomi sering salah karena faktor pertambahan penduduk yang luar biasa atas ekonomi sering terlupakan. Jalan yang tepat ialah jalan yang mendekati simpang tadi, supaya semakin dekat ke ketepatan, harus melewati semua kontradiksi dan pertentangan, proses perkembangan hal-ihwal. Apa yang tepat harus lewat kontradiksi dan pertentangan. Demikian juga apa yang tidak tepat, artinya melalui proses dan perjuangan antara segi-segi yang bertentangan. Salah satu kebanggaan saya atas milis kita ini ialah bahwa disini kita bisa mendekati 'kebenaran' lewat perjuangan antara pendapat-pendapat kita yang bertentangan. Bangga kan kita? Milis kita jadi mini dunia. Dunia berkembang begitu, sedar atau tidak kita. Perkembangan dialektika ketingkat sekarang ini memungkinkan kita mengikuti persoalan dunia lebih ringan dan lebih banyak kemungkinan mencapai kesimpulan yang pantas dan adil. Dialektika klasik atau saya sebut embrio dialektika sudah lama ada didunia dan diketahui rakyat atau filosof terdahulu, tetapi belum lengkap/sempurna seperti sekarang. 500 th SM Heraklitos melihat proses dialektika 'panta rei' (semua mengalir), tidak mungkin kita menginjakkan kaki di sungai yang sama dua kali, katanya. Air sungai sudah ganti lagi kalau kita datang yang kedua kalinya, karena sungai mengalir. Ini mengatakan proses yang berjalan terus. Di Karo 'caingi muat jilena' (disobek tambah cantik, dalam menjait baju) atau 'seh sura-sura tangkel sinanggel' (begitu sampai cita-cita langsung datang problem lain atau disini kesusahan). Ini menjelaskan pertentangan dan proses pertentangan bejalan. Di Minang, 'cabiak-cabiak bulu ayam' (cubit sana cubit sini sedikit-sedikit mencari mana yang benar), atau 'basilang kayu ditungku mako apinyo hiduik' (api hidup ditungku kalau kayunya disilangkan) . Disini juga menunjukkan pertentangan dan prosesnya. Embrio dialektika ini sudah ada dinegeri kita sejak lama, tetapi tidak pernah tertulis dibuku barat. Dan kita juga tidak pernah mengembangkan secara seksama. Tetapi biar begitupun pengetahuan manusia soal dialektika sekarang sudah lebih tinggi, di Indonesia dan termasuk di milis kita. Karena itu sudah mungkin kita menilai dunia dan proses perkembangannya dengan memakai metode dialektika dan itu pulalah yang membikin saya optimis. Untuk menyingkat, saya akhiri dengan mengatakan jalan yang kita ambil ialah jalan yang cocok untuk kita, semua yang menguntungkan rakyat diambil dan yang merugikan dibuang. Tapi untuk memilih ini semua harus lewat perjuangan dari segi-segi bertentangan, cabiak-cabiak bulu ayam atau caingi muat jilena. Misalnya dalam menilai liberalisme, sosial-lieberalisme atau neo-liberalisme dan kapitalisme. Perkembangan dan struktur intern masyarakat kita juga tidak ada yang sama dengan negeri manapun didunia. Kapitalisme labo kreasi manusia, tapi enda evolusi perkembangan cara produksi (sistem produksi) menggantikan sistem si enggo kolot (feodalisme) . Enda sistem 'penghisapan manusia atas manusia' nina kalak sosialis/komunis ibas sura-sura kemanusiaanna demi persamaan dan keadilan. Tetapi 'yang buruk masih tetap baik' untuk menerangi trowongan gelap yang telah menutupi kehidupan manusia selama berabad-abad, kata Keynes. Dalam kapitalisme ada kreasi menciptakan yang baru, dibawah syarat kebebasan berpikir serta upah yang lumayan bagi penciptanya. Mungkinkah ada kreasi tanpa kedua syarat ini? Tetapi yang pasti ialah bahwa tidak akan ada perkembangan (kemajuan?) tanpa kreasi baru. (Milis tanahkaro, Tue Dec 4, 2007 12:24 pm) Enda ka lebe Mejuah-juah kita kerina MUG Ta semester! - sök efter resor hos Yahoo! Shopping. Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum: http://shopping. yahoo.se/ c-169901- resor-biljetter. html
