Penduduk asli kota Medan jelas adalah orang Karo dan orang Karo yang diislamkan termasuk oleh Guru Patimpus sebagai guru agama (Melayu 'Delang' deli-langkat). Sisa-sisa kerajaan Aru, penduduk, panglima-panglima perangnya bersama anak buahnya yang beragama animisme seperti Guru Patimpus, semuanya diislamkan. Sampai akhir tahun 1500-an orang-oran Aru yang masih 'membandel' dituduh sebagai 'sisa-sisa pemberontak Aru' masih terus diuber sampai ke 'dataran tinggi' (kemungkinan Karo, Gayo, dan ke Singkil Pakpak). Suku-suku ini mempunyai bahasa mirip Karo. Alas, Pakpak dan Karo mempunyai 60% perbendaharaan kata-kata yang sama). Kemungkinan besar suku-suku ini adalah pecahan dari kerajaan Aru. Persamaan dan kemiripan bahasa pada suku-suku ini adalah fakta yang ada sampai sekarang, begitu juga sisa-sisa nama dalam bahasa suku-suku ini yang ada di Aceh seperti kutaraja, kutacane dll, semua jadi bukti hidup dan masih ada. Sejarawan Ichwan Azhari kita harapkan bisa memberikan fakta-fakta sejarah yang lebih banyak sehingga bisa menyumbangkan pikiran untuk mengubah sejarah berdasarkan fakta sejarah, karena beredasarkan pengalaman sejarah, hanya masa depanlah yang sudah pasti, masa lalu akan selalu berubah-ubah terutama di Indonesia dimana tidak ada barang bukti yang tahan lama seperti bangunan batu dan tulisan terpelihara seperti di Eropah misalnya. Fakta yang mau diusulkan Azhari ialah berdasarkan hari jadi buatan kolonial Belanda, dan ini katanya secara emosional tidak diterima. Hari jadi tersebut ditetapkan berdasarkan pembentukan gemeente (Dewan Kota) pada 1 April 1909 oleh kolonial Belanda. Hari dan tanggal ini memang ada faktanya, tertulis dan jelas adalah benar, artinya benar tertulis dan benar terjadi. Tetapi apa yang tidak benar ialah bahwa kuta Medan sudah ada 300 tahun sebelumnya artinya jauh sebelum th 1909, jauh sebelum Belanda datang, bahkan tidak ada hubungannya dengan Belanda. Orang Karo adalah pejuang, dan sekarang berjuang untuk keadilan, tidak hanya untuk orang Karo tetapi seluruh nation Indonesai yang multi etnis ini. Untuk keadilan juga perlu mencari kebenaran, dan kebenaran yang sudah ada dan pasti ialah bahwa penduduk asli kota Medan ialah orang Karo, jadi tidak mungkin orang Belanda membikin hari jadi kota Medan. Tetapi seperti saya bilang diatas, Ichwan Azhari tetap kita harpkan tak lelahnya mencari dan membeberkan fakta- fakta sejarah yang bisa menjadi pegangan kita semua warga negara Medan, paling diharapkan ialah fakta-fakta yang tidak ditulis Belanda, artinya jauh sebelum era kolonial Belanda. Dari pembeberan fakta dan 'emosionalnya' kelihatan juga kalau Ichwan Azhari mau menutupi 'sesuatu' fakta. Ini sudah disinggung oleh Juara Ginting, yaitu soal perlawanan sengit orang Karo dibawah Datuk Sunggal Surbakti berlangsung selama 25 tahun. 'Tidak ada perang di Medan' kata Azhari. Perang itu sampai dinyanyikan, korbannya juga tidak sedikit, 'erkata bedil i kota Medan turang' . . . atau 'o mariam tomong da inang'. Wah, wah . . . sejarawan kita ini sudah terlalu jauh . . . mudah-mudahan tidak ada anak-sekolah yang mendengrkan penyimpangan sejarah begini.
Bujur ras mejuah-juah MUG --- In [email protected], "Radio Karo Accees Global" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Rapatkan barisan, siap grak................ > > On Sun, Jul 6, 2008 at 12:13 PM, Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > sumber: > > http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/sumatera- utara/menggugat-fakta-kota-medan.html > > > > Menggugat Fakta Kota Medan Saturday, 05 July 2008 > > > > SEJAK1971,seluruh masyarakat sepakat 1 Juli 1590 dijadikan tonggak sejarah > > lahirnya Medan sebagai kota.Sejak itu tidak ada yang menggugat keabsahan > > penetapan hasil seminar yang digelar selama tiga hari tersebut. > > > > Letusan petasan dan pawai arak-arakan yang mewarnai hari jadi Kota Medan > > ke-418, Selasa (1/7), masih menyimpan permasalahan sejarah yang mulai > > terlupakan. Medan yang didengungdengungkan menuju kota metropolitan pun > > mulai meninggalkan sejarahnya. Bak angin segar yang berembus di Kota Medan > > dan berlalu begitu saja. > > > > Pembangunan yang menjadi motor penggerak zaman tak lagi menghiraukan > > keaslian dan keasrian peninggalan sejarah kota ini. Masyarakat dan petinggi > > pemerintahan seakan tak ambil pusing dengan kesinambungan akar sejarah. > > Sejarawan dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari menyatakan, > > sejatinya, jika Medan ingin menjadi kota metropolitan, pola perkembangan > > pembangunannya harus berkesinambungan dengan masa lalu. > > > > Pembangunan kekinian tidak begitu saja meratakan sisa-sisa peninggalan > > sejarah. Ichwan berpendapat Medan dapat melihat pola perkembangan kota > > seperti di negara-negara Eropa.Di sana masyarakat maupun pejabat > > pemerintahnya menjadikan bangunan bersejarahnya sebagai bagian pusat > > perkembangan kota, bukan menghilangkan seperti yang dilakukan terhadap > > sejumlah bangunan sejarah di Medan. > > > > Ketidakpedulian terhadap nilai sejarah yang dilakukan pemerintah kota > > terjadi karena masyarakat umumnya tidak mengetahui atau memang tidak > > mengerti akar sejarah Kota Medan. Sebab, ada kesalahan penafsiran ketika 1 > > Juli 1590 dijadikan tonggak sejarah awal mula ditemukannya Medan. Begitu > > juga ketika Guru Patimpus dijadikan seorang tokoh pahlawan yang menemukan > > Kota Medan. > > > > Padahal, berdasarkan Riwayat Hamparan Perakyang menjadi landasan penetapan > > hari jadi Kota Medan,jauh sebelum Guru Patimpus datang, Medan sudah menjadi > > sebuah perkampungan. Dalam naskah Hamparan Perak tersebut juga tidak > > disebutkan tanggal dan tahun kedatangan Guru Patimpus. Padahal, panitia > > penetapan hari jadi Kota Medan ketika itu memutuskan tanggal berdasarkan > > kedatangan Guru Patimpus. > > > > Pun begitu, bukan berarti Guru Patimpus tak punya andil dalam perkembangan > > kota ketika itu.Merujuk dari sejarah riwayat tersebut, Guru Patimpus lebih > > dikenal sebagai penyebar agama Islam bagi suku Karo ketimbang penemu Kota > > Medan. Ichwan menambahkan, akar sejarah penetapan hari jadi Kota Medan akan > > lebih tepat jika dihubungkan dengan perkembangan perkebunan yang sempat > > menggemparkan perdagangan dunia dengan kualitas tembakaunya ketika itu. > > Jadi, sisasisa peninggalan sejarah yang umumnya berupa bangunan lama > > peninggalan arsitektur Eropa dapat lebih dihargai dan dilestarikan > > keasriannya. > > > > Satu hal yang perlu diingat,sejarah perkembangan perkebunan di Medan bukan > > peninggalan Belanda. Bangsa Eropa datang ke Sumatera ketika itu murni untuk > > misi dagang. Jauhharisetelahperkebunan semakin maju,pemerintah kolonial > > Belanda baru masuk ke Medan untuk mengutip retribusi pajak. > > > > ''Jadi, perkembangan perkebunan bukan semata-mata warisan Belanda,"ungkap > > pria yang menjabat Ketua Pascasarjana Antropologi Sosial Unimed itu. Ichwan > > memaparkan, penetapan hari jadi Kota Medan yang selama ini diperingati > > merupakan dasar putusan yang bersifat emosional. Sejarawan ketika itu tidak > > menginginkan hari jadi Kota Medan dihitung berdasarkan warisan Belanda. > > Sebab,sebelum 1971,hari jadi tersebut ditetapkan berdasarkan pembentukan > > gemeente (Dewan Kota) pada 1 April 1909 oleh kolonial Belanda. > > > > Saat itulah Medan ditetapkan sebagai kota madya. Seharusnya, penetapan hari > > jadi Kota Medan berdasarkan perjalanan sejarah yang jelas dasarnya.Hal itu > > agar generasi penerus dapat memahami sejarah Kota Medan secara benar dan > > menghargai peninggalannya. Saksi sejarah penetapan hari jadi Kota > > Medan,Tengku Lucman Sinar mengakui bahwa landasan perubahan penetapan > > tanggal tersebut berangkat dari rasa nasionalisme. Sebab,mereka tidak ingin > > menjadikan landasan hari lahir Medan berdasarkan warisan sejarah Belanda. > > > > Pada 1971,Wali Kota Medan saat itu,Soerkani menunjuk Tengku dan beberapa > > rekannya, yakni Prof Mahadi, HM Said,dan Mariam Darius menjadi panitia > > sejarah dan hari jadi Kota Medan. Motivasinya ketika itu yakni mencari > > penemu Kota Medan yang merupakan penduduk pribumi asli.Sebab,sebelumnya hari > > jadi didasarkan pada penemuan Kota Medan oleh orang Belanda. Dari situlah, > > dia beserta rekan-rekannya mencari penemu pertama Kota Medan. > > > > Setelah dilakukan riset serta studi pustaka, diketahuilah Guru Patimpus > > Sembiring Pelawi merupakan orang pertama yang membuka kawasan hutan antara > > Sungai Deli dan Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan. Ketua Fraksi PKS > > DPRD Medan Ikhrimah Hamidy pun sepakat pengkajian ulang hari jadi Kota Medan > > . Namun, itu harus melalui pengkajian mendalam terkait sejarah kota sehingga > > dasar hukum dan sejarahnya kuat.Dengan demikian,tidak ada lagi > > gugat-menggugat asal mula kota Medan dari generasi berikutnya. (m rinaldi > > khair/ ulfa andriani) > > > > Komentar: Mengapa dari semenjak Tahun 1971 Sejarah keberadaaan kota medan > > yang sudah disepakati bahwa penemunya adalah Guru Patimpus Sembiring Pelawi > > Tidak pernah diganggu gugat?, namun mengapa akhir-akhir ini marak > > dipertayakan tentang keabsahan bahwa Patimpuslah Sososk Pendiri Kota Medan, > > apakah ini karena adanya kegiatan Mahasiswa Karo Yang Rutin Setiap Tahun > > (dalam 3 Tahun Terakhir) Melakukan Kegiatan Memperingati Hari Ulang Tahun > > Kota Medan Dengan Aksi Peduli Guru Patimpusnya? > > > > Best Regarts > > > > www.dausmedia.cjb.net <http://daustcoker.blogs.friendster.com/> > > > > > > >
