Mejuah juah, Semakin hari semakin berat tantangan kedepan, Kepedulian akan Pendiri Kota Medan Guru Patimpus Sembiring Pelawi, yang saya tanggap adalah kepedulian yang memang berasal dari diri kita, dalam ruang ini mungkin saya berbicara lingkungan Karo.
Sebuah ide sederhana pernah diberikan oleh Bapa Sitepu Mergana, Bagaimana setiap Mobil yang ada di melintas dari kaban jahe - medan, dan juga masyarakat karo yang ada disumatera utara menempelkan stiker berlabelkan Guru Patimpus Sembiring Pelawi, Pendiri Kota Medan 1590. kalau di hitung sampai jutaan mobil orang karo yang melintas dan lalu lalang di sumatera utara. ini sebagai wujud kepedulian dan sosialisasi, sosok Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Ciri Kepedulian dapat juga diwujudkan dengan menggunakan kaos bergambarkan Monumen Guru Patimpus, Mungkin dapat di sosialisasikan ke kampus kampus, pada momen tertentu, atribut tersebuat di gunakan, sehingga bener bener memang terlihat. Memang ide ini sederhana, tapi secara pribadi aku menilai ide ini cukup mempunyai gebrakan besar dimasa yang akan datang, bisa disebut "Ikatan Emosi Karo" Itum dulu lah, gedang pun nanti ngerana. bosan yang baca Bujur Eddy Surbakti 2008/7/8 Rudy Surbakti <[EMAIL PROTECTED]>: > Semua terjadi karena kelemahan kalak karo. Semua menyepelekan kalak Karo > dan berusaha merebut apapun dari kalak karo. > > Kalak karo ingin disingkirkan dari panggung sejarah, seolah Kalak Karo > tidak ada peranan dalam sejarah dan perpolitikan Indonesia. > > Banyak teman-teman saya yg menyangkal bahwa pendiri Kota Medan adalah Guru > Patimpus yg nota bene adalah kalak Karo. > > Juga banyak yg menyangka saya membual ketika mempertahakan argumen baha > kerajaan Haru adalah kerajaan Kalak Karo. Dalam setiap percakapan sering > saya selipkan kata kata bahwa sebagian besar warga Melayu Deli ber nenek > moyangkan orang karo dan sebagian besar orang Melayu Medan adalah orang > karo. Buktinya bahwa warga Melayu yg sudah tua sekali kalau mereka masih > hidup biasanya akan paham bahasa Karo. Sejalan dengan perubahan jaman waktu > itu dimana banyak orang karo yg masuk Islam, akhirnya orang karo tsb tidak > lagi memakai marga nya. Dan akhirnya mereka disebut orang Melayu, dimana > sebenarnya melayu bukan lah termasuk suku, akan tetapi Melayu adalah sebagai > gambaran bahwa mereka adalah muslim. Karena Melayu identik dengan Islam. > > Bahkan kemarin ada info yg ingin mem'batak' kan Guru patimpus dimana > dikatakan bahwa guru Patimpus adalah keturunan dari Sisinga Mangaraja. > > Apakah kita akan berdiam diri? > > > > Wassalam, > > > > Rudy Surbakti > > Medan > > > --- On *Sun, 7/6/08, Radio Karo Accees Global < > [EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > From: Radio Karo Accees Global <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [infokaro] Re: [tanahkaro] Menggugat Fakta Kota Medan > To: [email protected] > Cc: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] > Date: Sunday, July 6, 2008, 1:16 PM > > Rapatkan barisan, siap grak........ ........ > > On Sun, Jul 6, 2008 at 12:13 PM, Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED] > com<[EMAIL PROTECTED]>> > wrote: > >> sumber: http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ sumatera- >> utara/menggugat- fakta-kota- >> medan.html<http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/sumatera-utara/menggugat-fakta-kota-medan.html> >> >> Menggugat Fakta Kota Medan >> Saturday, 05 July 2008 >> >> SEJAK1971,seluruh masyarakat sepakat 1 Juli 1590 dijadikan tonggak sejarah >> lahirnya Medan sebagai kota.Sejak itu tidak ada yang menggugat keabsahan >> penetapan hasil seminar yang digelar selama tiga hari tersebut. >> >> Letusan petasan dan pawai arak-arakan yang mewarnai hari jadi Kota Medan >> ke-418, Selasa (1/7), masih menyimpan permasalahan sejarah yang mulai >> terlupakan. Medan yang didengungdengungkan menuju kota metropolitan pun >> mulai meninggalkan sejarahnya. Bak angin segar yang berembus di Kota Medan >> dan berlalu begitu saja. >> >> Pembangunan yang menjadi motor penggerak zaman tak lagi menghiraukan >> keaslian dan keasrian peninggalan sejarah kota ini. Masyarakat dan petinggi >> pemerintahan seakan tak ambil pusing dengan kesinambungan akar sejarah. >> Sejarawan dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Ichwan Azhari menyatakan, >> sejatinya, jika Medan ingin menjadi kota metropolitan, pola perkembangan >> pembangunannya harus berkesinambungan dengan masa lalu. >> >> Pembangunan kekinian tidak begitu saja meratakan sisa-sisa peninggalan >> sejarah. Ichwan berpendapat Medan dapat melihat pola perkembangan kota >> seperti di negara-negara Eropa.Di sana masyarakat maupun pejabat >> pemerintahnya menjadikan bangunan bersejarahnya sebagai bagian pusat >> perkembangan kota, bukan menghilangkan seperti yang dilakukan terhadap >> sejumlah bangunan sejarah di Medan. >> >> Ketidakpedulian terhadap nilai sejarah yang dilakukan pemerintah kota >> terjadi karena masyarakat umumnya tidak mengetahui atau memang tidak >> mengerti akar sejarah Kota Medan. Sebab, ada kesalahan penafsiran ketika 1 >> Juli 1590 dijadikan tonggak sejarah awal mula ditemukannya Medan. Begitu >> juga ketika Guru Patimpus dijadikan seorang tokoh pahlawan yang menemukan >> Kota Medan. >> >> Padahal, berdasarkan Riwayat Hamparan Perakyang menjadi landasan penetapan >> hari jadi Kota Medan,jauh sebelum Guru Patimpus datang, Medan sudah menjadi >> sebuah perkampungan. Dalam naskah Hamparan Perak tersebut juga tidak >> disebutkan tanggal dan tahun kedatangan Guru Patimpus. Padahal, panitia >> penetapan hari jadi Kota Medan ketika itu memutuskan tanggal berdasarkan >> kedatangan Guru Patimpus. >> >> Pun begitu, bukan berarti Guru Patimpus tak punya andil dalam perkembangan >> kota ketika itu.Merujuk dari sejarah riwayat tersebut, Guru Patimpus lebih >> dikenal sebagai penyebar agama Islam bagi suku Karo ketimbang penemu Kota >> Medan. Ichwan menambahkan, akar sejarah penetapan hari jadi Kota Medan akan >> lebih tepat jika dihubungkan dengan perkembangan perkebunan yang sempat >> menggemparkan perdagangan dunia dengan kualitas tembakaunya ketika itu. >> Jadi, sisasisa peninggalan sejarah yang umumnya berupa bangunan lama >> peninggalan arsitektur Eropa dapat lebih dihargai dan dilestarikan >> keasriannya. >> >> Satu hal yang perlu diingat,sejarah perkembangan perkebunan di Medan bukan >> peninggalan Belanda. Bangsa Eropa datang ke Sumatera ketika itu murni untuk >> misi dagang. Jauhharisetelahperk ebunan semakin maju,pemerintah kolonial >> Belanda baru masuk ke Medan untuk mengutip retribusi pajak. >> >> ''Jadi, perkembangan perkebunan bukan semata-mata warisan Belanda,"ungkap >> pria yang menjabat Ketua Pascasarjana Antropologi Sosial Unimed itu. Ichwan >> memaparkan, penetapan hari jadi Kota Medan yang selama ini diperingati >> merupakan dasar putusan yang bersifat emosional. Sejarawan ketika itu tidak >> menginginkan hari jadi Kota Medan dihitung berdasarkan warisan Belanda. >> Sebab,sebelum 1971,hari jadi tersebut ditetapkan berdasarkan pembentukan >> gemeente (Dewan Kota) pada 1 April 1909 oleh kolonial Belanda. >> >> Saat itulah Medan ditetapkan sebagai kota madya. Seharusnya, penetapan >> hari jadi Kota Medan berdasarkan perjalanan sejarah yang jelas dasarnya.Hal >> itu agar generasi penerus dapat memahami sejarah Kota Medan secara benar dan >> menghargai peninggalannya. Saksi sejarah penetapan hari jadi Kota >> Medan,Tengku Lucman Sinar mengakui bahwa landasan perubahan penetapan >> tanggal tersebut berangkat dari rasa nasionalisme. Sebab,mereka tidak ingin >> menjadikan landasan hari lahir Medan berdasarkan warisan sejarah Belanda. >> >> Pada 1971,Wali Kota Medan saat itu,Soerkani menunjuk Tengku dan beberapa >> rekannya, yakni Prof Mahadi, HM Said,dan Mariam Darius menjadi panitia >> sejarah dan hari jadi Kota Medan. Motivasinya ketika itu yakni mencari >> penemu Kota Medan yang merupakan penduduk pribumi asli.Sebab,sebelumn ya >> hari jadi didasarkan pada penemuan Kota Medan oleh orang Belanda. Dari >> situlah, dia beserta rekan-rekannya mencari penemu pertama Kota Medan. >> >> Setelah dilakukan riset serta studi pustaka, diketahuilah Guru Patimpus >> Sembiring Pelawi merupakan orang pertama yang membuka kawasan hutan antara >> Sungai Deli dan Babura yang kemudian menjadi Kampung Medan. Ketua Fraksi PKS >> DPRD Medan Ikhrimah Hamidy pun sepakat pengkajian ulang hari jadi Kota Medan >> . Namun, itu harus melalui pengkajian mendalam terkait sejarah kota sehingga >> dasar hukum dan sejarahnya kuat.Dengan demikian,tidak ada lagi >> gugat-menggugat asal mula kota Medan dari generasi berikutnya. (m rinaldi >> khair/ ulfa andriani) >> >> Komentar: Mengapa dari semenjak Tahun 1971 Sejarah keberadaaan kota medan >> yang sudah disepakati bahwa penemunya adalah Guru Patimpus Sembiring Pelawi >> Tidak pernah diganggu gugat?, namun mengapa akhir-akhir ini marak >> dipertayakan tentang keabsahan bahwa Patimpuslah Sososk Pendiri Kota Medan, >> apakah ini karena adanya kegiatan Mahasiswa Karo Yang Rutin Setiap Tahun >> (dalam 3 Tahun Terakhir) Melakukan Kegiatan Memperingati Hari Ulang Tahun >> Kota Medan Dengan Aksi Peduli Guru Patimpusnya? >> >> Best Regarts >> >> www.dausmedia. cjb.net <http://daustcoker.blogs.friendster.com/> >> >> > > >
