--- In [email protected], MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
"... Si inget denga uga kalak PDIP Karo i Sumut, 'mempersilahkan
dengan senang hati' orang-orang Batak masuk partai PDIP si secara
tradisional partai kalak Karo. Batak rame-rame masuk, Karo didepak,
tinggal disisakan piga-piga kibul kalak Karo di PDIP Sumut ..."

Tanpa kesadaran adanya perubahan, manusia tak butuh waktu. WAKTU
adalah sebuah perhitungan sistimatis terhadap perubahan. Tak ada yang
abadi kecuali perubahan itu sendiri, pernah diutarakan oleh kaka MU
Ginting di milis ini.

Pada waktu tertentu, berkoalisi dengan Batak memang strategi terbaik.
Tiba pula waktunya, disadari bahwa teman berkoalisi itu justru yang
membuat Karo tersingkir. Inipun sebuah kesimpulan bersifat SEMENTARA.
Suatu waktu nanti, bisa jadi, kenyataan pula bahwa berkoalisi dengan
Batak adalah yang terbaik. Berikutnya, ternyata tidak; ternyata baik,
ternyata tidak.

Begitulah teori yang menjadi kerangka menentukan SIKAP. Adakah SIKAP
tanpa kerangka teori? Sebuah SIKAP tanpa kerangka teori yang jelas
adalah SIKAP AKAPNA SAJA.Ajangna saja ukurkenna, temanna erdahin
sideban singapusi buta-butana saja banna kerina (licik, picik,
kampungan, pengecut nina sada makhluk siluman).

Jadi, menurut hemat saya, berkoalisi adalah sebuah keharusan yang
bersifat abadi, tapi, dengan siapa kita berkoalisi (?) adalah sebuah
pertanyaan yang sifatnya kontemporer. Terbeluh.

Saran saya, jangan matikan WAKTU. Jangan selesaikan persoalan dunia
ini di tangan kita sendiri dalam sekejap. Berikan kesempatan kepada
Tuhan bekerja dalam gerak-gerak alamiah.

Kita perlu teori untuk berpikir sistimatis dan agar kita bisa bekerja
SATU BAHASA dengan orang-orang lain mencapai tujuan bersama, tapi,
relakan teori diuji oleh kenyataan. Bukan kita Dibata itu yang
menentukan apa benar apa tidak.

Tulisan ini bukan untuk mengkritik tulisan kaka MU Ginting, sebaliknya
sebagai sebuah penghargaan (apresiasi) terhadap tulisannya yang 
merangkum 3 dimensi: Past, Present and Future. 

jg


Kirim email ke