--- In [email protected], "cpatriawgmail" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> --- In [email protected], MU Ginting <gintingmu@> wrote:
> 
> > Â 
> > Labo berarti tiap teori benar, tapi orientasi ndai enggo lit
> dasarna. Tiap pencipta teori tentu lit kang dasar pikirenna atau
> ideologina adi menyangkut masalah sosial dan perkembangan 
masyarakat.
> Fukuyama ibas "akhir sejarahna" jelas kang encidahken prinsip
> kebebasan (ekonomi) neoliberalisme sigundari termasuk dengan 
kekuatan
> militer. Bage kang Samuel P Huntington fokus soal "perjuangan
> civilisasi" dunia, anara islam dan China disatu pihak dan Barat
> dipihak lain. Fukuyama sudah 'tenang' merasakan kemenangan, tetapi
> Huntington masih berjuang dan bahwa identitas agama dan kultur 
adalah
> sumber konflik dunia sekarang dan seterusnya, dimana islam dan 
China
> digambarkan sebagai penentang civilisasi. Berlainan dengan Manuel
> Castells atau Naomi Klein yang melihat pentingnya pengakuan atas
> identitas dan kutur sebagai penyelesaian konflik. 

satu kritik terhadap sebagian theorist jaman dulu (bahkan yg skrg 
pun) tsb adalah kritik ditujukan terhadap kulit atau warna kulit,  
padahal didalam sebuah class/group itu terdapat sub-struktur elemen 
(society) yang berbeda pemikiran dan pemahamanya.

soal islam tdk sesuai civilization itu sebenarnya pemahaman sebagian 
kecil saja yang ultra conservatif. Kita jangan ambil contoh di 
Indonesia,  tapi di Pakistan misalnya. Di Pakistan kaum 
konservatifnya dulu  sempat melarang orang belajar bahasa inggris, 
melarang pakai sendok di tangan kanan karena dianggap peninggalan 
kolonial. Katanya mereka "tidak mungkin ada manusia yang sanggup 
terbang sampai ke  Bulan", padahal itu tahun 1968 ketika Neil 
Armstrong sudah berhasil  menginjakan kakinya dibulan. pikiran tsb 
jelas saja ditentang oleh kaum muda Pakistan yang moderat dan 
intellektual. Justru kata  mereka, kita harus belajar science dan 
teknologi dari Barat, supaya kita bisa maju dan sejajar dengan 
barat. Bisa dilihat hasilnya 30 tahun kemudian dimana jumlah imigran 
intelektual terbesar didunia (dari east ke West) selain India adalah 
Pakistan. Sekarang Pakistan adalah pemasok dokter-dokter berkualitas 
Internasional ke AS. Di Indonesiapun, jamanya masyumi  dulu , ada 
pemikiran yang terbagi atas dogmatis-konservatif dan moderat. 
Seperti Natsir dan Hatta dulu  cukup moderat, mereka tidak pernah 
anti terhadap orang barat dan tidak xenophobic.  Justru ketika orang 
Belanda diundang untuk bersama sama membangun Indonesia pasca 
pengakuan kemerdekaan Belanda 1950, orang2 belanda tersebut diusir 
karena xenophobicnya sebagian kaum  nasionalis (jaman sekarang agak 
kebalik ya ? )

soal cina, benar di jamanya Mao mereka menganut politik 
isolationism, tapi lihat sekarang, karena isolasi dan proteksi yang 
dilakukan  state terhadap negaranya, mereka berhasil mengontrol 
ekonomi dan sektor pendidikan. Sekarang kita lihat justru China 
adalah penghasil Engineer / Intellektual / Produksi terbesar didunia 
dan ketika pintu gerbang  kapitalismenya dibuka mereka menjadi 
supert power baru.

Jadi kalau Pak Huntington melihat kemajuan Pakistan, India dan 
China, mungkin ia akan merevisi kembali bukunya.

Pada hakekatnya,selalu ada perubahan dan apa yang dilakukan 
individu/pemimpin saat itu akan berpengaruh 10-30 tahun kemudian 
(dialektika?). Saya jadi ingat apa kata ha-Joon Chang , seorang 
Jenius dan ekonom revisionist:

- abad 20 Jepang dikenal sebagai bangsa pemalas 
- abad 19 Jerman dikenal sebagia bangsa pemalas.

Kalau 2 statement ini dibaca dalam konteks kekinian tentunya 
kedengaran aneh, tapi memang itu faktanya. Dibuku itu Ha-Joon Chang 
menjelaskan hubungan antara culture/budaya , sejarah dan economic 
development. 
 
Teorinya, culture bisa berubah akibat tekanan2 luar dan dalam, hanya 
saja, yang merubah sebuah group/bangsa/class menjadi lebih baik 
(secara ekonomi) dan beradab adalah ketika economic developmentnya 
semakin maju yang ditandai dengan kemajuan  Ekonomi, Intelektual dan 
Pendidikan (baca: lebih pinter dan lebih rajin).

Kalau ingat statement ini saya jadi ingat ucapanya bung hatta "yang 
terpenting buat bangsa indonesia bukanlah kekuasaan, tapi 
pendidikan", dengan pendidikan kita bisa menaikkan taraf hidup 
masyrakat.


bujur,



Carlos

Kirim email ke