Mejuah-juah kerina permilis sirulo La kutteh kai siman renungenken minggu enda. Lit ka enggo kejadin seh pentingna, kematen ketua DPRDSU Aziz Angkat. Enggo ka ndai kurenungken sitik soal enda, sebab la ka mehuli adi ilewatken saja peristiwa enda ateku, sebab menyangkut proses perkembangan ’kecerdasan’ kalak Sumut ras suasana ’kondusifna’. Enggo ndai kumulai sitik tapi lenga erkedungen. Piah reh ka tangkelen ku soal renungan budaya pendatang enda. Tangkelenku mis kuje sebab aku sendiri pe kapken menam sepanjang geluhku jadi pendatang (gia i luar negeri), tapi teringet ka kalak pendatang Karo i daerah ulayat kalak Betawi (Jabotabek). Encage agamanta pe kapken agama pendatang kang salin kata Shodan Purba. Agama aslinta enggo sibuang sendiri, jilen pendatang hehehe . . .Ngumputi sienda, kalak Betawi ras kalak Karo apai jilen budayana? Pertanyaan enda provokatif saja nge kuakap, atau pertanyaan si la perlu ijawab, atau nggelitik pikiran gelah lit sinyambungken pendapatna . . . . Melala kang kuakap kutandai kalak Karo i Jakarta, tapi saling hubungenna ras kalak penduduk asli Betawi seh jarangna. Kai kin enda gelarna, masalah komunikasi atau masalah perbedaan budaya atau masalah lintas budaya. Tapi kai gia gelarna adi la ka bo lit kaipe. Komunikasi enda jelas la terpisahken ras budaya, atau bagian dari budaya, sebab banci kap sihehen bas kita Karo (budayanta) uga erkomunikasi, atau la kap lit budaya Karo adi la lit komunikasi. Maka komunikasi enda budaya ka nge kuakap. Tapi uga komunikasi ras kalak asli Betawi adah ndai? Sangana perang etnis i Kalbar/Kalteng melala kang koran singelukisken salah sada perbedaan budaya pendatang (Madura) ras kalak asli Dayak. Kalak Madura maba belati kujapape, tapi kalak Dayak maba belati atau senjata hanya kalau perang. Enda salah sada perbedaan sinimai peledakan (bom waktu) nina mbarenda. Sitik lit kang payona, atau silahangna jadi percikan api perang adah mbarenda. Maksudku tentu lit sebab sideban siterbelinen (penindasan dan exploitasi hasil SDA tanah/hutan Dayak) dan dengan sendirinya dominasi ekonomi/politik semakin ketat dari pihak pendatang. Apakah juga dominasi budaya pendatang? Tentu tidak diragukan. "Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung" Banci ka nge jenda kuncina. Tapi uga ka hubungenna ras perjuangan abadi antar etnis, ethnicgroupsself-assertion and their struggling for power + sifat/kharakter tiap etnis ka. Io oh muat lalana si man ukuren. Enda ka lebe Bujur ras mejuah-juah, selamat week end. MUG --- In [email protected], shodan purba <shodanpu...@...> wrote: MJJ: Aku la pernah erlajar budaya secara formal. Kesukuan di sebagian etnis Sumut nggo lanai tersirangken ras budaya si reh arah janah pe nggo jadi bagin agama. Emaka ada para budayawan si ngerana ibas seminar ei ngerana sibar etnis ngenca, banci jadi percakapen ei kena la seh. Eneterem jelma nggo deheren perlagu langkahna ras pembabaan geluhna ku agama sini anutna. Agama enda, maka kerina nge ibas pendatang nari?
Sentabi, Bp Nona Sampaguita From: MU Ginting <gintin...@...> To: [email protected]; [email protected]; [email protected] Sent: Friday, February 13, 2009 12:30:37 AM Subject: [tanahkaro] budaya pendatang Dominasi Budaya Pendatang Timbulkan Potensi Ketegangan MEDAN, Waspada, 15/3-2002: Terjadinya disharmoni hubungan antar etnik terutama antara pendatang dan masyarakat setempat karena adanya dominasi simbol budaya etnik pendatang dalam hubungan sosial dengan masyarakat setempat. Maka untuk mengeliminasi disharmoni itu, pendatang harus menghormati budaya etnik di samping forum dialog lintas etnik guna mewadahi proses pembelajaran pengenalan keberagaman kelompok etnik. Kesimpulan itu terekam dalam Worshop Resolusi Konflik Etnik Di Sumut yang diselenggarakan ECRSN Fakultas Sastra USU, 8-9 Maret 2002 dalam release yang diterima redaksi, Kamis (14/3). Pembicara yang tampil Dr Timo Kivimaki (Denmark), Drs Chusnul Mar'iyah (UI), Dr Irwan Abdullah (UGM), Dr Ichwan Azhari (Unimed), Drs Zulkifli Lubis, MA dan Drs Fikarwin Zuska, MA (USU). Di samping itu dalam institusi pemerintahan juga terjadi konsentrasi jabatan struktural pada kelompok etnik tertentu. Kondisi ini juga bisa menjadi faktor penyebab ketegangan. Maka untuk mengurangi potensi ketegangan itu, rekrutmen pegawai dan rotasi kepemimpinan harus berdasarkan meritokrasi, profesionalisme, keterbukaan, dan kecakapan. Pemakaian simbol budaya yang tidak sesuai kultur area dapat menjadi potensi ketegangan juga. Untuk menghindari potensi ketegangan budaya maka simbol budaya harus disesuaikan dengan kultur area. Sedangkan di tingkat provinsi pemakaian simbol-simbol budaya harus mencerminkan pluralisme budaya. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah kebijakan pemerintah yang hendaknya melibatkan kelompok masyarakat (stakeholders) dalam pengambilan keputusan. Multikulturisme merupakan sikap benih penumbuhan kultur demokrasi tetapi multikulturisme masih disikapi sebagai gagasan penghilangan batas-batas ikatan kultural kelompok etnik.(m45) __________________________________________________________ Ta semester! - sök efter resor hos Kelkoo. Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum här: http://www.kelkoo.se/c-169901-resor-biljetter.html?partnerId=96914052
