wah, wah . . . lama-lama semakin senang saya baca semakin banyak sudut pandang 
ekonmi kita. Datang lagi pikiran 'macam-macam' di benak saya, kayaknya memang 
harus dikombinasi atau dicari balans atau keseimbangan atau 'jerusalem baru' 
antara belanja dan simpan, antara 'menari dan kerja' seperti dalam cerita 
belalang dan semut hahaha . . . Sekarang banyak pula takut simpan di bank, 
siapa tahu . . . , untungnya banyak pemerintah yang ulurkan tangan, tapi berapa 
lama bisanya . . . 
China bikin produksi besar-besara  mau dijual ke luar negeri, termasuk 
Indonesia. Negeri besar China mestinya jadi pasar besar juga pikirku. Tapi 
ternyata kewalahan begitu luar negeri tak bisa beli. Disini mungkin sifat 
telaten nyimpan tadi mesti diubah jadi lebih banyak belanja. Kita kayaknya 
memang tukang jajan, dan maunya dari luar negeri pula. Barang dalam negeri 
mereng pula mata kita melihatnya. Status? Ontahlah . . . 
Tapi memang butuh perubahan saya pikir, bagi kita soal suka jajan terutama 
barang luar negeri. Arahkan ke barang produksi dalam negeri, tetapi  sangat 
dibutuhkan perubahan struktur penanganan import-export dari pemerintah, tidak 
cukup hanya kehendak rakyat yang ingin berubah. 
Peraturan export-import merupakan kekuatan extern yang sangat besar 
mempengaruhi peningkatan produksi dalam negeri. Ilmu ini sangat dikuasai oleh 
orang-orang Eropah dan Jepang, tetapi juga China. Indonesia ugal-ugalan kata 
Rizal Ramli, ada betulnya,  . . . siapa pula yang tidak tergiur jadi 
ugal-ugalan, kan banyak untungnya  hahaha . . . ntar bahan baku rotan hilang 
karena langsung diexport mentahnya. Tukang kursi rotan PHK. Atau import beras 
besar-besaran, dan export pupuk besar-besaran, mang Karto nggak bisa nyangkol 
lagi . . . beras Thai dan kursi rotan China lebih murah . . . duit dibawah 
bantal udah habis . . .  dihabiskan untuk beras Thai dan kursi China. 

Salam belanja-simpan
MUG

--- In [email protected], MU Ginting <gintin...@...> wrote:
 
> Selasa, 10/03/2009 16:31 WIB
> SBY: Teruslah Belanja, Uang Jangan Disimpan di Bawah Bantal
> Luhur Hertanto - detikFinance
>  
> Jakarta - Laporan BI yang menyebutkan nilai tabungan masyarakat terus naik di 
> masa krisis ekonomi, merupakan hal yang baik. Tapi akan lebih baik lagi bila 
> dana tersebut juga ada yang dibelanjakan sehingga perekonomian nasional tetap 
> bergerak.
> 
> Demikian disampaikan Presiden SBY dalam sambutannya membuka sidang dewan 
> pleno I HIPMI di hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (10/3/2009).
> 
> "Terus lah belanja. Uangnya jangan disimpan di bawah bantal saja," kata dia.
> 
> Presiden SBY menyatakan bersyukur setiap kali dia melihat warung, mal dan 
> pusat perbelanjaan di Indonesia hingga kini masih ramai pengunjung. Situasi 
> ini menunjukkan rakyat masih mempunyai daya beli sehingga para produsen bisa 
> terus berpoduksi dan PHK terhindarkan.
> 
> Dia kemudian menceritakan diskusinya dengan JK tentang pengalamannya di AS 
> bulan lalu. Kata JK, sebagian besar pusat perbelanjaan di AS sedang sepi 
> pengunjung, warganya membatasi belanja sehingga banyak produsen bangkrut 
> gara-gara produknya tidak laku di pasar dan PHK pun terjadi.
> 
> "Jadi kalau mal sepi malah bahaya. Situasi bisa menjadi lebih buruk," sambung 
> SBY.(lh/qom)


Kirim email ke