Membatasi masuknya barang impor kalau tak salah tdk dpt dilakukan dg penetapan 
tarif bea masuk.

Tapi kalo pemerintah (negara ketiga) mau, dia bs batasi impornya dg alasan 
melindungi petani. Juga membatasi dg alasan teknis keselamatan dan keamanan 
konsumen . 

Mangga kita pernah ditolak; udang pernah ditolak; aren (brown sugar) pun harus 
organik. Kayu/rotan tak boleh diekspor...

Kita menolak masuknya jagung dg alasan PMK, antrax, menolak impor chicken leg 
quarter dg skema Halal dll

Siapa yg bermain??? Petani??? Saya rasa industri agribisnis negara yg 
bersangkutan.

Mau saya katakan, kemitraan petani (organisasi petani)  dan industri pertanian 
setali mata uang. Tinggal bagaimana pemerintah memfasilitasinya, jangan ikut 
nyatut....he he...

Bagem lebe....



 

Igan Brecca®

-----Original Message-----
From: Advent Tambun <[email protected]>
Date: Mon, 1 Feb 2010 23:05:09 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [tanahkaro] Re: Petani Karo buang kentang dan tomat

Apakah ada kemungkinan nantinya, tomat cina atau atau thailand dijual di pasar 
Brastagi? apakah ada kemungkinan bahwa penanam modal membangun industri tomat 
di dataran tinggi karo sehingga harga tomat dikantrol oleh perusahaan besar 
tersebut, dan petani hanya akan menjadi tukang petik tomat? 

mejuah-juah
advent tambun


________________________________
From: Firman Surbakti <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, February 2, 2010 10:00:53 AM
Subject: RE: [tanahkaro] Re: Petani Karo buang kentang dan tomat

   
Sayang sekali ..sampai dibuang
percuma..knp nggak undang aja orang2 dari panti asuhan dan sejenisnya untuk
memanen sendiri (gratis) pasti mereka mau ya…
Daripada dibuang percuma…
 
Regards
Firman S
 
 

________________________________
 
From:tanahk...@yahoogrou ps.com [mailto:tanahkaro@ yahoogroups. com] On Behalf 
Of Alexander Firdaust
Sent: Sunday, January 31, 2010
3:11 AM
To: tanahk...@yahoogrou ps.com
Cc: komunitaskaro@ yahoo.com
Subject: Bls: [tanahkaro] Re:
Petani Karo buang kentang dan tomat
 
  
perbahan enggo agak ndekah tomat lanai lit
regana,rikut pe cuaca lanai menentu piahna enggo kurang derastis sinuan tomat i
kutanta kila 

Pada Sab, 30 Jan 2010 10:40 PST gintingmu menulis:

>I Eropah terutama Prancis mekatep kang petani-petani enda 
>erbahan protes salu ngamburken hasil pertanian ku tengah 
>dalan i kota-kota, termasuk susu. Terakap kang iakap kalak 
>tani enda erbahan lebih besar pengaruh/kesan protes adah 
>bdai. Gia ijenda kalak petani la kurang pupuk hehehe . . . 
>Piah teringet ka aku tomat Kutanangka, ja kam ndai Alexander?
>Kuja dage i dayaken tomat simejile adah ndai? Ise ndia si 
>ngasup ngergai keringat ras susah-payah petani Karo?
>Salalm mejuah-juah
>MUG
>
>--- In tanahk...@yahoogrou ps.com,
"Kikin Tarigan" <kikintarigan@ ...> wrote:
>Re: [tanahkaro] Petani Karo buang kentang dan tomat 
>
>Bukankah bs djadikan pupuk??
>
>Atau pupuk kimia lebih ampuh??
>
>Igan Brecca®
>
>
>----------- --------- --------- --------- --------- --------- --
>
>From: Alexander Firdaust <daustcoker@ ...> 
>Date: Sat, 30 Jan 2010 02:28:06 -0800 (PST)
>To: <infok...@yahoogroup s.com>;
<tanahk...@yahoogrou ps.com>;
<komunitaskaro@ yahoogroups. com>
>Subject: [tanahkaro] Petani Karo buang kentang dan tomat 
>
>BRASTAGI - Petani di kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara terpaksa membuang
hasil pertaniannya seperti kentang dan tomat, karena anjloknya harga komoditas
pertanian tersebut di pasar lokal.
>
>"Kami terpaksa membuang atau membiarkan tanaman kentang dan tomat
hingga busuk di pohon, karena harga jual jatuh hanya Rp 2.000 per kg,"
ungkap Anto Barus, petani di desa Laugendek, Tanah Karo, tadi pagi.
>
>Dikemukakan, tidak ada gunanya memanen hasil pertaniannya kalau hanya rugi,
sebab harga tidak menutupi biaya panen dan transportasi sehingga lebih baik
dibiarkan membusuk di pohon atau diberikan kepada orang.
>
>Sebelumnya harga tomat di tingkat petani sempat Rp7.000 per kg dan kentang
Rp6.000 per kg, tetapi kini harganya benar-benar anjlok, tutur Anto yang mengaku
kini harus melakukan diversifikasi tanaman.
>
>Diversifikasi tanaman yang dilakukan petani Karo tersebut, seperti
mengembangkan tanaman jeruk manis, daun prei, cabai merah dan terong belanda
yang harganya di pasaran cukup stabil.
>
>Seperti harga jeruk di tingkat petani masih bertahan Rp5.000 per kg, cabai
merah Rp8.000 per kg, terong belanda Rp7.000 kg dan permintaan juga cukup
tinggi.
>
>Petani yang memiliki lahan seluas sepuluh hektare itu, mengharapkan harga
sayur-mayur kembali membaik sehingga mereka bisa menguliahkan anak sampai
menjadi sarjana.
>
>(dat07/ann)
>
>SUMBER: http://www.waspada. co.id/index. php?option= com_content& 
>view=article& id=85709: petani-karo- buang-kentang- dan-tomat& catid=15: 
>sumut&Itemid= 28
>
>
>
>Salam Mejuah Juah
>
>Karo Cyber Community
> 
>
>
 


      

Kirim email ke