[Imam Suhadi wrote:]
>Dan lagi, apabila kita sedikit mengerti konsepsi takdir secara benar...
>Bukanlah hal yang sulit bagi Allah untuk mengangkat rencana bencana ini,
>apabila umat Indonesia menyadari semua kejadian ini, kemudian bertaubat dan
>berserah diri padda Allah (Ingat kejadian Nabi Yunus A.S).
>
Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Bagaimana tanggapan pak Imam/pak Sigit/anggota milis terhadap suatu
konsep bahwa "Allah terkadang merubah kehendak-Nya" ?.
Deskripsi dari konsep ini sangat sulit saya jelaskan dengan kata-kata
tetapi mungkin saya dapat memberikan contoh mengenai hal ini misalnya
dalam Al-Quran dalam hal "Khamr" maka Allah pertama menjelaskan
kehendak-Nya secara bertahap sbb:
- Pertama kali Allah menjelaskan kehendak-Nya bahwa "Khamr itu lebih
banyak mudharatnya daaripada manfaatnya"
- Kemudian dipertajam menjadi "Jangan mabuk ketika sholat"
- Akhirnya difinalkan menjadi "Haram sama sekali minum khamr pada saat
apapun"
Contoh lain misalnya dalam sejarah turunnya Nabi & Rasul dimana Allah
menyesuaikan perintah dan larangannya sesuai keadaan mentalitas dan
kapasitas akal manusia pada saat nabi tersebut diturunkan. Jika
diibaratkan Nabi & Rasul membangun bangunan "diin" maka bangunan
tersebut dibangun setahap setahap. Seorang Nabi/Rasul menambah &
mengurangi bangunan diin atau terkadang menggantikan beberapa bangunan
darurat sebelumnya (yang dibangun nabi sebelumnya atau dibangunnya
sendiri sesuai kehendak Allah) untuk digantikan yang lebih permanen,
hingga bangunan diin itu final pada saat Allah berfirman 'Al-yauma
akmaltu lakum diinakum'.
Contoh lainnya lagi misalnya bahwa Allah tidak serta merta pada saat
wahyu pertama diturunkan langsung berkehendak agar Nabi mengangkat
senjata melawan serangan kaum musyrikin, justru sebaliknya Allah
berkehendak via Muhammad SAAW agar tidak membalas perlakuan apapun,
bahkan pada keadaan terburuk maka berkehendak agar Nabi dan Umatnya
mengungsi ke Madinah.
Contoh-contoh di atas dalam konsep ini dianggap menunjukkan bahwa
Kehendak Allah itu tidak-lah final di mana berarti pada saat lainnya
mungkin Allah berkehendak lain. Juga berarti Allah akan menurunkan
kehendak lainnya sesuai keadaan manusia pada waktu itu. Bila kehendak
Allah itu dapat dipahami salah satunya dari bisikan jiwa Muthmainnah
pada orang yang telah bertemu diri, maka kehendak Allah berupa berita
langit juga belum tentu final. Dalam konsep ini, semua kehendak Allah
memiliki syarat tertentu untuk terlaksananya kejadian tersebut.
Bila konsep ini dapat diterima, apakah berarti bahwa kehendak Allah
berujud "berita langit" yang disampaikan kepada hamba-Nya yang sholeh
tentang bencana di Indonesia, mungkin saja berubah? Tentunya ada
syarat-syarat tertentu yang mentrigger dicabutnya kehendak Allah tsb.
Apa ya kira-kira syarat-syarat agar bencana di Indonesia tsb tidak jadi
terlaksana? Apakah seperti yang pak Imam katakan bahwa bila Umat
Indonesia bertaubat dan berserah diri? Bila iya maka barangkali bukan
detail berita bencana tersebut yang penting diperhatikan melainkan
detail syarat menolaknya yang penting.
Allah meng-cancel apa yang Dia kehendaki dan meng-konfirm (apa yang Dia
kehendaki), dan disisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab. (QS. 13:39)
Orang yang percaya pada konsep ini bahkan memahami ayat di atas sebagai
bahwa Allah meng-cancel atau meng-konfirm kehendak-Nya. Meski kebanyakan
orang lain memahami ayat tersebut sebagai jika Allah berkehendak untuk
menghapus sesuatu akan dihapus-Nya sesuatu itu dst.
Saya jadi ingat "pengelana" yang bertahun-tahun cerita di berbagai milis
tentang berita langit yang diterima dari orang sholeh berujud "berita
banjir besar" yang ternyata meleset terus sehingga ybs ditertawakan
banyak orang. Mungkinkah hal inipun sebenarnya dapat diterangkan dengan
konsep ini. Sehingga bukan orang tsb bohong ataupun berita langit
tersebut bohong apalagi Allah berbohong (maha suci Allah dari sifat yang
demikian) pada orang tersebut tetapi sesungguhnya telah timbul trigger
tertentu yang menyebabkan Allah menunda atau membatalkan kejadian
tersebut. Kejadian tersebut juga menurut saya disebabkan kurang bijaknya
si pembawa berita yang menimbulkan kesan seolah 'terjadinya banjir'
merupakan bukti dari kebenaran berita tersebut, padahal seharusnya
'syarat-syarat menolak bencana' tersebut yang dipentingkan. Sehingga
tidak terjadi banjir besar tersebut, seharusnya justru merupakan
kemenangan bagi si pembawa berita bahwa tujuan telah tercapai bukan
sebaliknya.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)