Assalaamu'alaikum wr wb.
R. Sunarman wrote:
> >Menurut pemahaman saya, analogi itu seharusnya:
> >
> >Rujak = kebenaran versi Allah, the truth
> >Pemakan rujak = Nabi, wali dan siapapun yang tahu metodenya.
> >Qur'an, Injil, Taurat = Deskripsi dalam bentuk perkataan dari pembuat
> >rujak [di antaranya melalui malaikat Jibril]
> >Hadist = deskripsi rujak oleh pemakan rujak yang diceritakan kembali
> >oleh orang lain.
Rozy Andrianto replied:
> Dilihat dari analogi diatas. Apakah siapapun yang tahu metode, atau yang
> diajarkan metode dapat menjadi pemakan rujak dalam arti rujak kebenaran
> versi ALloh.
Di sini berlaku asas ilmiah. Kalau semua prosedur dilakukan dengan
tepat dan parameternya terkendali, hasilnya "pasti". Akan tetapi,
sesuai dengan asas ilmiah pula, kepastian tersebut mempunyai galat
[dalam istilah statistik], artinya masih ada kemungkinan penyimpangan
sebesar sekian persen (0,01 - 0,05%). Dalam alam metafisik, kasus
penyimpangan dari keteraturan itu dikaitkan dengan perkataan 'illa
maasyaa Allah' yang berkali-kali muncul dalam Al Qur'an.
Salah satu kaidah yang boleh dipegang dalam pencarian kebenaran ini
ialah QS 2:269
"Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang
realita, Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah
dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang
berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran."
> Dengan melalui bimbingan mursyid (yang mengajarkan metode untuk dapat
> memakan rujak), apakah sudah tidak diperlukan lagi Qur`an (sebagai deskripsi
> dari pembuat rujak), dan juga Hadits (deskripsi rujak oleh pemakan rujak
> yang diceritakan kembali oleh orang lain). Kan mursyid sudah dapat
> menunjukkan cara untuk memakan rujak. Dan katanya mursyid sudah langsung
> berhubungan dengan Alloh.
Al Qur'an tetap dipakai sebagai acuan utama.
Harap merenungkan lagi kutipan ayat 2:269 di atas.
Tasawuf berupaya mendapatkan hikmah tersebut, bukan hendak menandingi
atau bahkan menafikan Al Qur'an.
Maqam seorang nabi, mursyid dan salik itu berlainan. Kepada seorang
nabi, Allah memberi petunjuk bagi seluruh umat nabi itu; dan ini
merupakan petunjuk yang bersifat generik, yang berlaku umum bagi semua
orang. Seorang mursyid hanya diberi petunjuk sebatas untuk disampaikan
kepada anak-bimbingnya. Sedangkan seorang salik hanya diberi petunjuk
untuk dirinya sendiri.
Dengan demikian tidak mungkin seorang mursyid atau seorang salik
diberi petunjuk atau pemahaman sebesar yang diberikan kepada seorang
nabi. Petunjuk-petunjuk ini berfungsi sebagai supplemen Al Qur'an dan
berlaku khusus [hanya terbatas] bagi penerima petunjuk, bukan untuk
konsumsi umum. Tiap orang mendapatkan petunjuk yang khas karena tiap
individu mempunyai peran yang khas di dalam alam semesta ini.
Dengan tasawuf, taraf keyakinan tentang kebenaran yang tertulis di
dalam Al Quran yang semula hanya "ilmul yaqin", ditingkatkan menjadi
"ainul yaqin" dan pada akhirnya mencapai "haqqul yaqin."
Contohnya, neraka dan surga itu bukan hanya sekedar diimani (diyakini
tanpa melihat), tetapi ditingkatkan menjadi "melihat" dan "merasakan".
Dengan begitu, tanpa ditakut-takuti lagi, orang pasti berupaya keras
untuk menjauhinya dengan meninggalkan semua perbuatan yang terlarang.
Demikian pula, tanpa diiming-imingi lagi sebagai hadiah, orang yang
melihat surga akan rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi
memperoleh sorga itu. Orang menjadi tidak lagi berani berlalai-lalai
dalam _mendirikan_ shalat, bersedekah dan melakukan amal kebaikan yang
lain. Basically, that is what sufism all about.
Ngomong-ngomong soal sorga, jujur saja, kalau saya hanya sekedar
membaca secara harafiah deskripsi Al Qur'an dan Hadits mengenai sorga,
saya kurang tertarik untuk masuk sorga. Apa sih enaknya tempat yang di
bawahnya mengalir sungai-sungai? Apa enaknya dilayani oleh pelayan
yang tampan-tampan dan cantik-cantik? Apa enaknya isteri yang tetap
perawan? Apa enaknya minum khamar yang tidak memabukkan?
Orang yang 'menempuh perjalanan ke Barat' untuk mencari 'kitab suci'
akan melihat bahwa ternyata sorga memang demikian adanya seperti
uraian di dalam Qur'an dan Hadits, tetapi kini dalam bentuk realita,
bukan sekedar kata-kata. Perkataan itu ternyata hanya kiasan belaka.
Ternyata sungai itu bukan sungai, pelayan itu bukan wanita dan bukan
pria, khamar itu bukan khamar -- seperti bayangan kita semula; namun
ia tetap tidak menyalahkan deskripsi semula, ia memahami mengapa
deskripsi itu tidak bisa tepat dengan faktanya. Di sinilah letak
perbedaan antara orang yang sekedar beriman dan orang melihat dan
merasakan.
> Apakah malah bimbingan dari mursyid melalui perkataannya itu disebut hadits
> ??
Tidak. Hadits adalah perkataan dan/atau perbuatan Nabi sebagaimana
diceritakan oleh orang-orang yang 'dipercaya' menurut kaidah tertentu.
Karena mursyid bukan nabi, perkataannya bukan hadits.
Musyid yang baik bukanlah mursyid yang banyak memberi indoktinasi
dengan 'memaksakan' pemahaman-pemahamannya sendiri; ia haruslah orang
yang mampu mengantarkan muridnya menemukan 'guru' yang bersemayam di
dalam hati murid itu sendiri, dan mengajarkan bagaimana cara yang baik
untuk berguru kepada guru internal itu. Melalui guru internal itulah
manusia dapat menyelam di lautan ilmu Allah yang tak terhingga
besarnya. Apalah artinya semilyar perkataan mursyid dibanding dengan
lautan ilmu itu!
[... ini untuk mancing pertanyaan lebih lanjut].
Wassalaamu'alaikum wr wb.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)