Rozy Andrianto wrote:
> sebagai orang yang sudah melihat dan merasakan Surga. Apakah
> cara merasakan dan melihanya itu seperti Isro' mi'roj-nya Nabi Muhammad.
> Dimana Nabi atas ijin Alloh diajak mengunjungi surga dan neraka.
Ya, semacam itu, tetapi dalam kapasitas yang berbeda.
Sebetulnya, kalau kita shalat dengan benar-benar khusyu', saat itu
kita mengalami mi'raj.
> Bagaimana sesuatu hal yang ghoib dan hanya dapat dirasakan setelah mati, dapat
> dirasakan ketika orang masih hidup?? Jangan bilang saya harus mengikuti
> prosedur tasawuf dulu, lho.. Mungkin mas R. Sunarman dapat menerangkan
> singkat prosesnya secara ilmiah dan masuk akal untuk dapat langsung
> merasakan tersebut.
"Mati" itu tidak harus mati. Orang dapat "mati" selagi masih hidup,
berkali-kali "mati" sesuka hati. Mi'raj hanya bisa dilakukan kalau
seseorang itu "mati". Nabi pun begitu: beliau "mati" ketika mi'raj.
Mungkin anda dapat menemukan sendiri hadits yang berisi ungkapan
"mati sebelum mati". [saya lagi nggak mood untuk mencari, nih].
Dalam Al Qur'an juga ada perintah "bunuhlah dirimu" [2:54, 4:66],
tetapi janganlah ini ditafsirkan secara harafiah menjadi
"bunuh diri" [suicide]. Tasawuf menjelaskan bagaimana cara "membunuh
diri" yang bukan bunuh diri. Caranya? Dengan shalat tahajjud, shalat
istikharah, dzikir, puasa Senin-Kamis dll. Jadi sesungguhnya
cara-cara itu tersembunyi di balik ibadah-ibadah ritual kita, tetapi
dengan diberi penekanan-penekanan tertentu dan peningkatan intensitas;
yang detailnya saya nggak berani membukanya di dini. Hanya seorang
mursyid yang berhak. Tetapi [Lihat jawaban di bawah mengapa saya tak
berani membuka.]
Kalau anda ingin dapat melihat keghaiban tanpa melalui prosedur
tasawuf anda harus mendapat dispensasi dari Allah.
Silakan mengajukan permohonan sendiri. Itu urusan anda dengan Allah.
Belajar dari mursyid sebenarnya merupakan kolusi dan nepotisme karena
kita memanfaatkan kedekatan dan hubungan khusus mursyid itu dengan
Allah. Seandainya anda punya hubungan langsung dengan Allah, buat apa
belajar dari mursyid?
> Apakah prosedur tersebut bersumber dari Nabi, atau dari
> pengalaman masing-masing mursyid??
Apa yang dilakukan Nabi di Gua Hira selama 40 hari, pada hakikatnya
adalah 'membunuh diri sendiri'. Begitupun Nabi Musa yang bermunajad di
gunung Thur selama 40 hari, tidak jauh dari hakikat yang sama.
Metode "membunuh diri" atau "bermunajad" itulah yang ditiru dan
dikembangkan para mursyid. Variasi memang ada sebagai akibat dari
pengembangan itu, dan karena itulah banyak terdapat aliran-aliran
tariqat; tiap aliran mempunyai metode sendiri yang khas.
> Dan yang masih dalam benak saya, dan Insya Alloh pernah saya ajukan dan
> milis ini dan belum terjawab. Dan juga sebagai penjembatan diskusi kita,
> karena mas R. SUnarman yang ber"tasawuf" dan saya yang hanya ber"Qur`an
> Hadits". Mas R. Sunarman saya ajak ke masalah hadits, karena tentu mas R.
> SUnarman "paham" tentang hadits dimana hadits itu yang saya imani, sedang
> saya tidak tahu ilmu tasawuf, tidak seperti anda.
> Katanya Nabi mengajarkan tasawuf secara khusus dan rahasia kepada
> sahabat-sahabat tertentu. Apakah peristiwa ini tidak tercatat dalam
> hadits-hadits yang buanyak itu. Paling tidak walau tidak shohih, yha dhoif
> lah.
Ada, dan banyak, tetapi tidak 'diumumkan'. Pusat-pusat aliran tasawuf
menyimpan koleksinya, tetapi tidak ditunjukkan kepada siapapun
kecuali orang yang berkompeten. Ini bukan tanpa tujuan.
Ajaran agama dapat dipilah menjadi dua: eksoterik dan esoterik.
Hadits-hadits yang disembunyikan itu tergolong esoterik. Orang awam
hanya boleh mempelajari kaidah-kaidah eksoterik. Kaidah-kaidah
esoterik hanya boleh dijangkau oleh orang-orang telah disucikan
jiwanya. Sangat berbahaya jika kaidah-kaidah itu jatuh ke tangan orang
yang kotor jiwanya. Pengetahuan itu hanya dapat bermanfaat bila jatuh
ke tangan orang-orang yang hatinya telah terlebih dulu "dibelenggu"
agar hanya berpihak kepada kesejahteraan manusia, kepada kebaikan.
Bahayanya dapat disamakan dengan rumus E=mc2 milik Einstein. Dari
semula Einstein sendiri tidak mau membuka penemuannya. Ia menyadari
bahaya apa yang dapat timbul dari pengetahuan itu [bahwa materi dapat
diubah menjadi energi] bila jatuh ke tangan orang-orang kotor. Namun
rupanya memang kekhawatirannya terjadi juga: dua bom atom diproduksi
sebagai senjata pemusnah masal pada PD-II. Sekarang, berapa ratus ribu
kepala bom nuklir yang tersedia dan siap ditembakkan? Kalau dengan dua
bom saja Hiroshima dan Nagasaki sudah seperti itu, bayangkan bagaimana
kalau bom nuklir yang ada sekarang diledakkan seluruhnya?
[QS 13:31 terjemahan Depag]: "Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab
suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau
bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati
dapat berbicara, (tentulah Al Qur'an itulah dia)"
Ayat di atas, biarpun tidak mengandung kata tasawuf atau thariqat, ia
berbicara tentang thariqat. Dengan menguasai metodologinya, seseorang
dapat menggoncang gunung dan membelah bumi hanya dengan membaca al
Qur'an saja. Berbahaya 'kan, kalau orang yang masih kotor jiwanya
menguasai metodologinya?
Dengan uraian itu kiranya anda mengerti mengapa hadits-hadits itu
disembunyikan, dan mengapa menu utama tasawuf adalah pembersihan diri.
Diskusi mengenai hal-hal selain upaya pembersihan diri hanya "kembang"
penghias, biar nggak monoton. Jadi jangan salah menilai, yang cuma
intermezo malah dianggap intinya. Tuh lihat, Mas Wargino sudah mulai
mengeluarkan jurus pembersihan diri itu. Semua orang boleh meniru
jurus-jurus itu. Tapi, kalau mau belajar "ilmu rahasia", harus minta
ijin dulu pada pak Mursyid. [Saya sendiri baru boleh melihat sedikit
karena jiwa saya masih berdaki tebal; sudah direndam Rinso, tapi belum
mau lepas.]
> Padahal hadits itu sudah "lengkap", sampai masalah di kamar mandi, masalah
> di tempat tidur yang rahasia pun diterangkan dalam hadits.
Ya, Al Qur'an sendiri saja sudah lengkap, apalagi ditambah dengan
hadits dan ditambah lagi dengan khotbah-khotbah para da'i. Semua cukup
memadai bagi orang awam yang memang jatahnya hanya sebegitu.
Tetapi, orang yang "nggragas" seperti saya ini seringkali tidak puas
dengan itu. Misalnya, dari Al Qur'an dan hadits saya tidak dapat
secara harafiah mengekstrapolasikan petunjuk yang ada untuk menjawab
seseorang yang datang minta saran "Mas, Bapak saya sakit keras. Sudah
sebulan memakai alat pacu jantung. Dokter bertanya apakah treatment
ini diteruskan atau dihentikan. Bagaimana baiknya? Diteruskan, buang-
buang uang yang sebetulnya diperoleh dengan utang dan kayaknya
sangat berat untuk mengembalikannya; tetapi kalau dihentikan berarti
membunuh Bapak."
Dengan berpegang kaidah tasawuf, maka pertanyaan itu dijawab dengan
menjalani thariqat yang sesuai untuk itu: shalat istikharah disertai
doa agar ditunjukkan jalan yang lurus. Dengan demikian maka Allah akan
membisikkan melalui kalbu, "Ya" atau "Tidak", bahkan mungkin juga
disertai dengan alasan-alasannya. Dengan mengikuti petunjuk itu
sebagaimana adanya tanpa direkayasa, kita terbebas dari dosa. Jawaban
semacam ini tidak tertulis di dalam Al Qur'an dan hadits
[setidak-tidaknya, dalam koleksi yang saya miliki].
Wassalaamu'alaikum wr wb.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)