Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Ikut nimbrung ya,

Saya setuju dengan pendapatnya Gus Lim bahwa   Hawa Nafsu jangan dibunuh melainkan
dikendalikan saja. Karena hawa nafsu dibutuhkan untuk menjalankan fungsi
kekhalifahan kita di bumi. 

Kata 'anfusakum' pada kalimat aniqtulu anfusakum tersebut bukan berarti bunuhlah hawa 
nafsumu, tetapi memang bunuhlah dirimu sendiri. Dalam tafsir jalalain dinyatakan bahwa 
 "Dan seandainya kami wajibkan kepada mereka 'bunuhlah dirimu' atau ' keluarlah kamu 
dari kampungmu' (sebagaimana kami perintahkan kepada Bani Israel... ). 

Jadi memang bunuhlah dirimu (anfusakum), bukan hawa nafsumu karena seperti kita 
ketahui hawa nafsu itu bermacam-macam, ada nafsu lawamah, amarah, sahwat dll. Nah, 
hawa nafsu yang demikian ini memang harus dikendalikan, bukan dimatikan. Oleh karena 
itulah di dalam Islam tidak dikenal istilah kerahiban yang melarang nikah. Hawa nafsu 
tersebut memang tidak boleh dibunuh. Coba umpamanya kita bunuh nafsu sahwat kita, 
gimana jadinya kita melanjutkan keturunan. Atau kita bunuh nafsu amarah kita, maka 
tidak akan tergerak hati kita untuk menolong saudara-saudara kita yang tertindas di 
kosovo, Ambon, Bosnia dll. Tapi kita juga tidak boleh mengumbar nafsu tersebut. 

Demikian sedikit sumbang saran dari saya. 

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
Ishak


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke