>[Ishak ANwar wrote:]
>Assalaamu 'alaikum wr. wb.
>Ikut nimbrung ya,
>Saya setuju dengan pendapatnya Gus Lim bahwa Hawa Nafsu jangan dibunuh
melainkan
dikendalikan saja. Karena hawa nafsu dibutuhkan untuk menjalankan fungsi
kekhalifahan kita di bumi.
>Kata 'anfusakum' pada kalimat aniqtulu anfusakum tersebut bukan berarti
bunuhlah hawa nafsumu, tetapi memang bunuhlah dirimu sendiri. Dalam tafsir
jalalain dinyatakan bahwa "Dan seandainya kami wajibkan kepada mereka
'bunuhlah dirimu' atau ' keluarlah kamu dari kampungmu' (sebagaimana kami
perintahkan kepada Bani Israel... ).
Memang dalam hal ini mufasiriin juga beda pendapat (dua versi) ada yang
menyatakan dengan jelas 'membunuh diri' ada yang membunuh/mengendalikan
hawa nafsu. Tapi akar kata 'qatala' sendiri memang artinya membunuh.
Karena memang ada dua versi,.. ya silakan mau yang mana. Tapi untuk bunuh
diri sebaiknya dipikir lagi.
Saya sependapat dengan Abah kalau Al-quran itu bukan hanya cerita lama
yang tidak berlaku lagi, tapi ingat 'masih berlaku' disini bisa jadi kita
disuruh mengambil pelajaran dari kisah-kisah orang-orang dulu. Bukan selalu
berarti semua perintah orang-orang dulu itu juga harus kita laksanakan apa
adanya, kecuali ada penegasan ulang.
Misalnya puasa, orang dulu sudah diwajibkan puasa. Lalu Allah menegaskan
ulang kita diwajibkan puasa sebagaimana orang dulu...
Kurang lebih mohon maaf,
Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)