Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Saya ingin menguji hipotesa bahwa kata 'anfus' di dalam alquran itu
berarti hawa nafsu ataupun jiwa yang banyak. Sedang bila 'Nafs' tunggal
maka akan berarti jiwa muthmainnah. Ternyata saya kepleset-pleset,
karena ternyata tidak selalu begitu.

Kebetulan pada ayat QS 5:30 menggunakan kata nafs tunggal dan ternyata
artinya malah hawa nafsu. Lho? Dan malah aneh bin ajaib bila diartikan
nafsu muthmainnah karena seakan nafsu muthmainnah membuat mudah Qabil
untuk membunuh habil. 
[FatawwaAAat lahu nafsuhu qatla akheehi faqatalahu faasbaha mina
alkhasireena]
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh
saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara
orang-orang yang merugi. (QS. 5:30)

Saya malah melihat bahwa untuk menunjuk pada Hawa Nafsu, maka Alquran
mengatakan sebagai al-hawa atau ahwaa seperti pada QS 6:56 serta banyak
ayat lainnya (3:39, 3:52, 3:117, 3:170 4:27 dst).

[Qul innee nuheetu an aAAbuda allatheena tadAAoona min dooni Allahi qul
la attabiAAu ahwaakum qad dalaltu ithan wama ana mina almuhtadeena]
Katakanlah:"Sesungguhnya aku dilarang menyembah ilah-ilah yang kamu
sembah selain Allah". Katakanlah:"Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu,
sungguh tersesatlah aku jika berbuat demukian dan tidaklah (pula) aku
termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS. 6:56)

Lho kok?

Wasalaamu 'alaikum wr. wb.

>----------
>From:  Abah Hilmy[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent:  Friday, 9 April 1999 15:48
>To:    [EMAIL PROTECTED]
>Subject:       Re: [Tasawuf] Hawa Nafsu, dibunuh atau dikendalikan?
>
>+AD4-Assalaamu 'alaikum wr. wb.
>
>
>Wassalamu'alaikum Wr. Wb
>
>+AD4-Saya jadi ingat waktu itu saya mengatakan secara nekad bahwa Hawa Nafsu
>+AD4-itu sebaiknya dibunuh saja dan kemudian saya percaya sama Gus Lim ketika
>+AD4-dengan bijaksana menjelaskan bahwa  Hawa Nafsu jangan dibunuh melainkan
>+AD4-dikendalikan saja. Karena hawa nafsu dibutuhkan untuk menjalankan fungsi
>+AD4-khalifah di bumi. :-)
>+AD4-
>+AD4-Tapi ketika membaca ayat-ayat 'Bunuhlah Anfusakum' seperti yang ada pada
>+AD4-QS 4:66 dan ayat lainnya saya jadi bingung lagi. Lha, di Quran dibilang
>+AD4-suruh bunuh hawa-nafsu kita, tetapi Gus Lim menjelaskan bahwa seakan
>+AD4-tanpa hawa nafsu maka kita tidak akan mampu menjalankan fungsi
>+AD4-kekhalifahan.... Eh, yang bener yang mana sih ?...  Yang jelas hawa
>+AD4-nafsu saya masih gagah-perkasa saat ini :-)
>
>
>
>Yang Abah ketahui sih makna Al Qur'an itu jelas menjelaskan.
>Jadi ketika mengartikan sesuatu harus mereferensi ke keterangan ayat yang
>lain.
>
>Kutipan lengkap dari ayat diatas adalah sebagai berikut :
>
>Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka : +ACI-Bunuhlah dirimu
>atau keluarlah kamu dari kampungmu+ACI-, niscaya mereka tidak akan
>melakukannya,
>kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka
>melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian
>itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). (QS. 4:66)
>
>
>Atau ayat berikut ini :
>+IBwgJg- maka bertaubatlah kepada Rabb yang menjadikan kamu dan bunuhlah
>dirimu.
>Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Rabb yang menjadikan kamu+ADs-
>maka
>Allah akan menerima taubatmu+ICYgHQ- (QS. 2:54)
>
>Memang benar kata Akang Ishak. Hal ini terjadi Asbab An Nuzulnya ketika
>ummat Nabi Musa diperintah Allah untuk bunuh diri.
>Tapi ingat, bahwa Al Qur'an bukan dongengan orang-orang dahulu (Al Qur'an) .
>Ia berlaku sepanjang zaman (Al Qur'an). Punya makna lahir yang indah, dan
>makna bathin yang dalam (Hadits)
>
>Nah salah satu muatan lainnya, selain menceritakan kisah umat Nabi Musa, ini
>juga memerintahkan kepada kita +ACI-membunuh anfusakum+ACI-.
>Seperti kemarin dibahas +ACI-Anfus+ACI- adalah jamak dari +ACI-Al Nafs+ACI-.
>Bisa berarti
>kumpulan Al Nafs juga bisa berarti Jiwa yang banyak yaitu Hawa Nafsu (Lihat
>Diskusi kemarin Jiwa +ACY- Ruh)
>
>
>Bunuhlah dirimu dalam ayat ini, sesungguhnya mempunyai maksud, keluar dari
>dominasi hawa nafsu. Berserah diri pada Allah dan tidak menjadikan hawa
>nafsu sebagai tuhan (penuntunnya).
>
>Sehingga, bila seorang dapat keluar dari tuntunan hawa nafsu, sesungguhnya
>Allah akan menguatkan iman mereka.
>
>Hawa Nafsu dan Syahwat ini bukan dibunuh dan dihilangkan. Tetapi
>dikendalikan (digembalakan) oleh Nafsu Muthmainnah.
>
>Ada saatnya hawa nafsu dan syahwat dikeluarkan, dan saat lain kembali
>dikekang.
>
>Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan MENAHAN diri
>dari keinginan hawa nafsunya. (QS. 79:40) maka sesungguhnya surgalah tempat
>tinggal(nya). (QS. 79:41)
>
>Keterangan kata +ACI-dibunuh+ACI- diperjelas maknanya dalam ayat diatas
>sebagai
>MENAHAN.
>
>Apabila kita menahan diri atau mengenadalikan diri dari Hawa Nafsu. Maka
>kita dikatakan MENGGEMBALAKAN hawa nafsu kita.
>Untuk itulah maka para Nabi dikatan sebagai PENGGEMBALA.
>
>Abah Hilmy
>
>
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>
>

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke