Agus Haryono wrote:

> Assalamu'alaikum wr.wb.
>
> [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> > Assalaamu 'alaikum wr. wb.
> >
> > Alhamdulillah, saya sependapat dengan pak Syariefudin, bahwa Allah hanya
> > mencipta kecuali hanya kebaikan.
>
> Maaf pak Wargino, ada yang sedikit membingungkan saya pada tulisan bapak di
> atas yaitu "Allah hanya mencipta kecuali hanya kebaikan". Mungkin, ini baru
> kemungkinan lho pak, yang bapak maksud menurut saya "Allah hanya mencipta
> kecuali hanya untuk kebaikan".Dalam pandangan saya saat ini,  Allah
> menyediakan hal/keadaan yang namanya kebaikan dan keburukan, dan Allah
> menginginkan hamba-Nya melakukan (berbuat yang menjadi) kebaikan dan
> meninggalkan/menjauhi keburukan. Sebagaimana Allah menyediakan hal yang
> namanya perintah dan larangan, dan Allah lebih senang bila hamba-Nya
> melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
> Dari pengertian di atas, saya simpulkan bahwa Allah memberikan pilihan kepada
> manusia untuk berbuat, tapi ada pilihan dalam berbuat yang memang Allah
> kehendaki agar manusia memilih seperti kehendak-Nya. Dan dari pilihan-pilihan
> ini Allah sediakan konsekwensinya. Sama keadaannya seperti kita waktu ulangan
> dengan jawaban pilihan a,b,c,d di sekolah. Kita diberi kebebasan oleh guru
> untuk memilih jawaban. Namun jawaban yang benar adalah yang sesuai dengan
> ilmu yang telah disampaikan sebelumnya oleh guru. Seperti kita sekarang boleh
> memilih hal kebaikan atau keburukan, namun yang benar adalah yang sesuai
> dengan ilmu yang telah disampaikan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw.
> Cuma bila kita belum memahami ilmu itu perlu menanyakan kepada yang lebih
> mengerti, seperti kita dulu juga akan bertanya kepada teman atau kakak kelas
> yang lebih mengerti, bila kita belum mengerti, walaupun ilmu itu telah
> dijelaskan oleh guru. Maaf, sekalli lagi mohon maaf, tidak ada maksud daya
> untuk menggurui.
>
> > >[Syariefudin Algadrie wrote:]
> > >Sekarang, kalau kita perhatikan dengan seksama maka kita akan
> > >mendapatkan bahwa pensifatan baik terhadap sesuatu berbeda dengan
> > >pensifatan buruk/jelek terhadap sesuatu itu. Maksudnya, sesuatu itu akan
> > >dikatakan baik karena adanya kesempurnaannya dan apa-apa yang menunjang
> > >keberadaan dan kesempurnaannya itu. Seperti hidup, ilmu dan makanan.
> > >Jadi, kebaikan berkenaan dengan keberadaan semua itu. Lain halnya dengan
> > >keburukan atau kejelekan. Semuanya itu dikatakan buruk bukan karena
> > >keberadaan mereka. Mati, buta, bodoh, racun dan sebagainya itu tidak
> > >dikatakan buruk karena diri mereka masing masing. Akan tetapi karena
> > >masing masing mereka menerangkan atau menyebabkan ketiadaan. Dikatakan
> > >buruk/jelek karena mati menerangkan ketiadaan hidup; buta menerangkan
> > >ketiadaan penglihatan; bodoh menerangkan ketiadaan ilmu; racun
> > >menyebabkan kematian (ketiadaan hidup) dan seterusnya. Dan kalau bukan
> > >karena  hal-hal yang ada dibalik mereka (keburukan), maka mereka tidak
> > >dikatakan buruk/jelek. Dengan demikian maka jelaslah bahwa sesuatu itu
> > >disifati dengan buruk/jelek secara tidak langsung, dan yang secara
> > >langsung adalah ketiadaan yang terkandung pada diri sesuatu itu.
> >
> > >Maka, dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kebaikan bersumber dari
> > >keberadaan, sedang keburukan bersumber dari ketiadaan. Dari kesimpulan
> > >ini kita dapat menyimpulkan sesuatu yang lain, yaitu karena keburukan
> > >bersumber dari ketiadaan maka dia tidak mempunyai eksistensi sebagaimana
> > >ketiadaan itu sendiri. Sebab kalau dia itu ada atau mempunyai
> > >eksisitensi, maka tidak lagi dikatakan ketiadaan dan akan menyimpang
> > >dari sumbernya sendiri. Akhirnya, keburukan sama dengan ketiadaan. Dapat
> > >dipahami tetapi tidak mempunyai eksistensi. Kalau demikian halnya maka
> > >keburukan tidak memerlukan pencipta, karena memang tidak ada. Sehingga
> > >kita dapat menyatakan bahwa semua keberadaan yang diciptakan Tuhan ini
> > >adalah baik. Dan, Tuhan tidak pernah menciptakan keburukan. Sebab
>
> Maaf pak Syariefudin, saya belum mengerti "Tuhan tidak pernah menciptakan
> keburukan". Bukankan kita juga tidak bisa memungkiri bahwa keburukan sering
> terjadi dan bahkan kita menyaksikannya. Lalu darimana keburukan itu? Selain
> Allah tidak ada yang wujud dengan sendirinya, bukan? Dan dalam masalah
> kebaikan dan keburukan saya lebih cenderung menyebutkan Allah menyediakan
> bukan mencipta. Karena kalau mencipta berhubungan sesuatu yangbersifat
> materi/benda.
>
> > >keburukan sama dengan ketiadaan, sebagaimana maklum. Allahuakbar.
> > >Sungguh Allah lebih Agung dari pada yang dapat kita pahami.
>
> Wassalam
> Agus Haryono
>

Assalamu'alaikum Wr.Wb
Bismillahirrahmanirrahim.

Terima kasih sebelumnya atas tanggapan simpatik pak Agus atas posting saya.
Pak Agus benar bahwa keburukan sering terjadi dan kita menyaksikannya, serta
selain Allah tidak ada yang wujud dengan sendirinya. Tetapi, pak Agus, justru
karena keburukan itu sama dengan ketiadaan atau ketidakwujudan (tidak wujud) maka
keburukan tidak memerlukan pencipta. Sebab memang tidak wujud/tidak ada.
Mari kita ambil salah satu contoh bentuk keburukan yaitu kejahatan. Misalkan ada
orang katakan si A membunuh  orang lain katakan si B. Dalam hal ini A dikatakan
berbuat kejahatan karena telah membunuh B. Kalau kita perhatikan maka  kejahatan
tsb adalah berkenaan dengan matinya si B sebab kalau tidak karena
terbunuhnya/matinya si B tentu si A tidak akan dikatakan telah berbuat kejahatan
(dalam contoh kasus ini). Karena mati adalah bersumber dari ketiadaan yakni
ketiadaan hidup maka disini mati tentunya tidak memerlukan pencipta karena memang
tidak ada/tidak wujud. (dapat dipahami dalam akal kita tetapi sebenarnya tidak
mempunyai eksistensi diluar akal kita karena yang eksis diluar akal kita adalah
keberadaan hidup itu sendiri). Dengan demikian kejahatan tersebut juga tidak
memerlukan pencipta karena bersumber dari ketiadaan.

Kita tahu bahwa mati adalah lawan dari pada hidup atau sebaliknya. Maksudnya,
sebelum ada hidup maka yang ada adalah ketiadaan hidup atau lazim kita sebut
mati. Nah, kalau seandainya mati memerlukan pencipta maka sebelum mati itu
diciptakan tentunya yang ada adalah hidup (lawan dari mati). Padahal kita tahu
sebelum kita hidup didunia ini kita tidak pernah mengalami hidup sebelumnya
kecuali mati bukan? Jadi kesimpulannya mati tidak memerlukan penciptaan karena
memang bersumber dari ketiadaan, maka dari itu keburukan/kejahatan dalam kasus di
atas juga tidak memerlukan pencipta. Dari penjelasan contoh kasus di atas mungkin
pak Agus bisa menyimpulkan sendiri kira-kira siapa yang bertanggung jawab atas
keburukan (kejahatan) yang terjadi. Tuhankah atau si A ? Kalau pak Agus menjawab
si A yang bertanggung jawab, berarti pak Agus sudah bisa memahami mana jawaban
yang benar.

Alhamdulillah Robbul'alamin.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Syariefudin A.

NB: 1. Maaf pak Wargino, jawaban atas pertanyaan pak Wargino akan menyusul.
Terima kasih.
        2. Pak Ali Abidin, saya juga mengucapkan syukur Alhamdulillah, dengan
demikian kita tidak akan pernah berpikir untuk mengkambing hitamkan Tuhan atas
segala perbuatan yang kita lakukan didunia ini. Semua itu 100% adalah menjadi
tanggung jawab kita. Karena itu sudah sewajarnya kelak Allah Azza wa Jalla akan
mengganjar kita dengan Surga atau neraka, tergantung dari timbangan amalan kita.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke