Syariefudin Algadrie wrote:

> Assalamu'alaikum Wr.Wb

Wa 'alaikum wr.wb.

> Bismillahirrahmanirrahim.
>
> Terima kasih sebelumnya atas tanggapan simpatik pak Agus atas posting saya.
> Pak Agus benar bahwa keburukan sering terjadi dan kita menyaksikannya, serta
> selain Allah tidak ada yang wujud dengan sendirinya. Tetapi, pak Agus, justru
> karena keburukan itu sama dengan ketiadaan atau ketidakwujudan (tidak wujud) maka
> keburukan tidak memerlukan pencipta. Sebab memang tidak wujud/tidak ada.
> Mari kita ambil salah satu contoh bentuk keburukan yaitu kejahatan. Misalkan ada
> orang katakan si A membunuh  orang lain katakan si B. Dalam hal ini A dikatakan
> berbuat kejahatan karena telah membunuh B. Kalau kita perhatikan maka  kejahatan
> tsb adalah berkenaan dengan matinya si B sebab kalau tidak karena
> terbunuhnya/matinya si B tentu si A tidak akan dikatakan telah berbuat kejahatan
> (dalam contoh kasus ini).

Alhamdulillah, benar pak.

> Karena mati adalah bersumber dari ketiadaan yakni
> ketiadaan hidup maka disini mati tentunya tidak memerlukan pencipta karena memang
> tidak ada/tidak wujud. (dapat dipahami dalam akal kita tetapi sebenarnya tidak
> mempunyai eksistensi diluar akal kita karena yang eksis diluar akal kita adalah
> keberadaan hidup itu sendiri). Dengan demikian kejahatan tersebut juga tidak
> memerlukan pencipta karena bersumber dari ketiadaan.

Yang bisa saya pahami dari penjelasan pak Syarifuedin di atas, kejahatan itu tidak
memerlukan penciptaan. Benar nggak, pak?

>
>
> Kita tahu bahwa mati adalah lawan dari pada hidup atau sebaliknya. Maksudnya,
> sebelum ada hidup maka yang ada adalah ketiadaan hidup atau lazim kita sebut
> mati. Nah, kalau seandainya mati memerlukan pencipta maka sebelum mati itu
> diciptakan tentunya yang ada adalah hidup (lawan dari mati). Padahal kita tahu
> sebelum kita hidup didunia ini kita tidak pernah mengalami hidup sebelumnya
> kecuali mati bukan? Jadi kesimpulannya mati tidak memerlukan penciptaan karena
> memang bersumber dari ketiadaan, maka dari itu keburukan/kejahatan dalam kasus di
> atas juga tidak memerlukan pencipta. Dari penjelasan contoh kasus di atas mungkin
> pak Agus bisa menyimpulkan sendiri kira-kira siapa yang bertanggung jawab atas
> keburukan (kejahatan) yang terjadi. Tuhankah atau si A ? Kalau pak Agus menjawab
> si A yang bertanggung jawab, berarti pak Agus sudah bisa memahami mana jawaban
> yang benar.

Setuju pak Syarifudin, si A.Mungkin saya melihatnya dari sisi lain yang tidak sama
dengan pak Syarifuedin dalam pembahasan kita ini. Maka dari awal saya tidak
menyebutkan Allah mencipta kebaikan/keburukan (karena mencipta berhubungan dengan
materi), tapi Allah menyediakan kebaikan/keburukan (sedang menyediakan berhubungan
dengan hal/keadaan). Maksud saya bagaimana kita tahu bahwa keberadaan suatu keadaan
itu berupa kebaikan atau keburukan, kalau bukan Allah yang memberitahukan. Jadi hal
yang namanya kebaikan dan keburukan itu sendiri  (maaf, tidak berhubungan dengan
prilaku manusia) Allah yang menyediakan. Sedang untuk menjadikan sesuatu peristiwa
itu suatu kebaikan atau keburukan, manusia diberi kebebasan untuk memilih. Tetapi
Allah telah menentukan suatu keadaan kebaikan yang dikehendaki-Nya (maaf, ada yang
bisa membantu saya menyebutkan ayat-ayat-Nya, karena saya tidak tahu, cuma dari apa
yang saya dengar dari penceramah atau guru ngaji saya bisa pahami seperti ini). Nah,
dari contoh posting saya sebelumnya tentang masalah ulangan, bila murid memilih
jawaban sesuai dengan kehendak(penilaian) guru, maka itulah jawaban yang benar. Tapi
bila tidak sama, maka jawabannya salah atau nilainya berkurang. Akibatnya, ya si
murid itu akan menerima nilai sesuai dengan jawaban yang dipilihya. Kiranya sama
dengan contoh bapak si A yang bertanggung jawab. Bukankah dunia ini tempat ujian?

Dan kalau saya merujuk kepada apa yang ditulis pak Wargino, dalam persoalan
penciptaan maka benar sesuatu yang diciptakan oleh Allah swt itu baik tidak ada yang
tidak baik. Artinya nilai dari sesuatu itu pasti baik. Dan dalam masalah prilaku
manusia Allah swt juga lebih suka manusia itu memilih (berbuat) kebaikan. Nah,
kesimpulannya, saya hanya menambahi apa yang ditulis pak Wargino, bahwa "Allah hanya
mencipta kecuali hanya untuk kebaikan", tetapi Allah swt sendiri menyediakan
hal/keadaan yang kalau begini ..... namanya kebaikan dan kalau begitu ..... namanya
keburukan.


> NB: 1. Maaf pak Wargino, jawaban atas pertanyaan pak Wargino akan menyusul.
> Terima kasih.
>         2. Pak Ali Abidin, saya juga mengucapkan syukur Alhamdulillah, dengan
> demikian kita tidak akan pernah berpikir untuk mengkambing hitamkan Tuhan atas
> segala perbuatan yang kita lakukan didunia ini. Semua itu 100% adalah menjadi
> tanggung jawab kita. Karena itu sudah sewajarnya kelak Allah Azza wa Jalla akan
> mengganjar kita dengan Surga atau neraka, tergantung dari timbangan amalan kita.
>

Demikian yang bisa saya tulis, mohon maaf ata kekurangan saya.
Astagfirullah,

Wassalam,
Agus Haryono



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke