Dengan nama Allah yang Maha Adil dan Maha Bijaksana, yang Maha Kasih dan 
Maha Sayang kepada setiap hamba-Nya, saya haturkan selamat kepada seluruh 
Salik yang dengan tekun dan senang tetap berada di jalan Allah ini. 
Menarik juga menyimak diskusi para Salik tentang "Kebaikan dan 
Keburukan". Mohon izin untuk ikut duduk bersama-sama dalam diskusi yang 
bagus ini.

> Syariefudin Algadrie (SA) wrote:
> 
> > Pak Agus benar bahwa keburukan sering terjadi dan kita menyaksikannya, serta
> > selain Allah tidak ada yang wujud dengan sendirinya. Tetapi, pak Agus, justru
> > karena keburukan itu sama dengan ketiadaan atau ketidakwujudan (tidak wujud) maka
> > keburukan tidak memerlukan pencipta. Sebab memang tidak wujud/tidak ada.
> > Mari kita ambil salah satu contoh bentuk keburukan yaitu kejahatan. Misalkan ada
> > orang katakan si A membunuh  orang lain katakan si B. Dalam hal ini A dikatakan
> > berbuat kejahatan karena telah membunuh B. Kalau kita perhatikan maka  kejahatan
SM:
Dalam memahami masalah ini, saya suka metodenya Mas Wargino, yang agak 
sedikit 'beda' tetapi masuk dalam aqal saya. Saya setuju bahwa "untung 
Allah menciptakan Iblis dan mengadakan syetan". Syetan biasanya 
kita asosiasikan dengan 'keburukan' sedangkan Malaikat, sering menjadi 
simbol bagi 'kebaikan'. Saya tak melihat perbedaan antara keduanya dari 
segi penciptaannya. Perbedaan terdapat pada fungsinya atau tugas 
masing-masingnya. Mengapa ?

Dalam pandangan saya (saya baru menyadarinya dengan baik dalam dua hari 
ini), 'keburukan' adalah sebuah indikator, maka dia sebenarnya 
adalah sebuah kebaikan juga. Misalnya, tentang nyamuk, yang selalu 
dimusuhi oleh pabrik pembuat obat nyamuk. Kita dilarang membunuh, 
termasuk membunuh nyamuk. Mengapa ? Karena dengan adanya nyamuk itu 
menandakan bahwa lingkungan kehidupan kita belum suci dan bersih. Sebab 
nyamuk hanya akan berada di tempat-tempat yang kotor dan tak suci. Dengan 
hanya membersihkan dan mensucikan lingkungan kita, kita tidak perlu 
membunuh nyamuk karena nyamuk pasti tidak akan datang kesitu.

Hal ini berlaku secara umum untuk semua unsur kegiatan kehidupan makhluk. 
Keburukan adalah sebuah batas, jadi keburukan exist dan tak mungkin tak 
ada. Keburukan menjadi tak akan terlihat dan tak terjumpai bagi setiap 
hamba yang benar-benar mengikuti petunjuk dari tuhan yang menciptakannya.

SA:
> > Kita tahu bahwa mati adalah lawan dari pada hidup atau sebaliknya. Maksudnya,
> > sebelum ada hidup maka yang ada adalah ketiadaan hidup atau lazim kita sebut
> > mati. Nah, kalau seandainya mati memerlukan pencipta maka sebelum mati itu
> > diciptakan tentunya yang ada adalah hidup (lawan dari mati). Padahal kita tahu
> > sebelum kita hidup didunia ini kita tidak pernah mengalami hidup sebelumnya
> > kecuali mati bukan? Jadi kesimpulannya mati tidak memerlukan penciptaan karena
> > memang bersumber dari ketiadaan, maka dari itu keburukan/kejahatan dalam kasus di
> > atas juga tidak memerlukan pencipta. 

SM: 
Mungkin lebih baik kita menggunakan istilah "ada" dan "tiada" untuk 
menggantikan kata "hidup" dan "mati". Setiap ciptaan adalah bersifat 
"huduts", yaitu sesuatu yang ada di alam ini didahului oleh tiada atau 
disebut juga "berpermulaan". (Hanya Allah-lah yang tidak berpermulaan dan 
tiada akhir, Qidam). Apakah sifat itu memerlukan penciptaan ? Tentu ! 
Tanpa diciptakan pasti tidak akan dikenali adanya.

 R. Sunarman (RS) wrote: 
> Penjelasan semacam ini memang valid dan dapat diterima, tetapi tidak
> untuk selamanya. Orang-orang yang berpikiran 'nakal' tetap saja masih
> diliputi pertanyaan mengapa keburukan itu dikatakan tidak wujud
> padahal jelas-jelas tersaksikan, mengapa ada sesuatu tanpa ada
> penciptanya; mengapa kita harus berkata bahwa yang ADA adalah kebaikan
> sedangkan keburukan itu TIADA, bukan sebaliknya. 
>

SM: 
Saya setuju dengan pertanyaan Pak R. Sunarman ini. Dan masih berpendapat 
bahwa keburukan dan kebaikan itu memang ada secara bergantian. Ketika 
KEBAIKAN "ada", maka ketika itu KEBURUKAN "tiada". Tak mungkin hadir 
secara bersamaan.

Marilah kita simak Firman Allah berikut ini:
--------------------------------------------
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih 
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang 
berakal, (QS. 3:190) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil 
berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang 
penciptaan langit 
dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini 
dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. 
(QS. 3:191)
 
Setiap ciptaan Allah tiadalah yang sia-sia, meskipun itu sebuah keburukan 
menurut pandangan manusia. Jadi jika kita masih menggunakan kacamata kita 
manusia, maka antara keburukan dan kebaikan adalah sesuatu yang saling 
"tiada meniadakan" dan artinya dua-duanya adalah ADA.

RS:
> Diskusi mengenai penciptaan baik-buruk tidak akan menghasilkan
> kesepakatan apapun kecuali kesepakatan untuk saling berbeda pendapat.
> Hadits Qudsi menyebutkan "Aku adalah sebagaimana persangkaan
> hamba-hamba-Ku" -- ini saya anggap sebagai legalitas bagi siapapun
> yang berpendapat bahwa Allah adalah pencipta keburukan [atau
> membiarkan keburukan itu terjadi], setara dengan legalitas bagi mereka
> yang berpendapat bahwa Allah hanya menciptakan kebaikan.
>
SM: 
Saya setuju dengan pendapat ini.
 
RS:
> Saya termasuk orang yang berasumsi bahwa segala sesuatu di dunia ini
> mempunyai sisi baik dan sisi buruk sekaligus. Demikian pula kedua
> pendapat di atas. Berpendapat bahwa Allah hanya menciptakan kebaikan
> akan membawa orang itu berpihak kepada orang-orang yang berbuat baik,
> tetapi ia sekaligus dapat mempunyai kebencian atau dendam kesumat yang
> dalam kepada orang-orang yang dianggapnya berbuat buruk, lalu berbuat
> tidak adil kepada mereka.

SM:
Mas R. Sunarman yang dirahmati Allah dengan pandangan dan pendengaran 
yang baik dari Allah. Memang benar, jika pengertian "tiada meniadakan"    
antara kebaikan dan keburukan, tidak dapat didudukkan secara enak dan 
baik, maka si 'dendam kesumat' sepertinya sulit untuk kita elakkan akan  
terjadi. 'Tiada meniadakan' antara kebaikan dan keburukan bukanlah 
berarti bahwa mereka berlawanan. Perlawanan hanya akan terjadi di dalam 
suatu arena yang sama. Akan tetapi, kebaikan tidaklah dapat dicampurkan 
dengan keburukan. Kalaupun dicampurkan, salah satu haruslah "menang", tak 
ada istilah "seimbang". Ketika keburukan masih ada, maka pasti kebaikan 
belum ada !

RS:
> Sebaliknya, berpendapat bahwa Allah menciptakan baik dan buruk
> sekaligus, memang dapat menurunkan citra kesucian Allah di mata
> orang-orang tertentu, tetapi dengan meyakini bahwa orang yang
> melakukan kejahatan pun merupakan ciptaan Allah, ia menjadi tidak
> semena-mena terhadap orang itu; boleh jadi ia malah memancarkan
> kasih-sayangnya dan menolong orang tersebut hingga terlepas dari
> cengkeraman syaitan. Jadi, saya tidak berpihak kepada siapa-siapa.
> Apapun pendapat kita, kita tetap tahu kepada siapa harus berpihak
> sesuai dengan ajaran agama.

SM:
Saya sangat setuju dengan pendapat ini. Jika ada keburukan pada seseorang 
untuk suatu hal, pastilah kebaikan belum ada pada hal itu dalam diri 
seseorang itu. Maka dia perlu pertolongan agar kebaikanlah yang 
menghinggapinya. Di sinilah diperlukan kasih-sayang di antara sesama 
hamba ciptaan Allah, tanpa membedakan SARA.

Demikian sekedar urun pendapat. Maafkan saya, jika ternyata tidak 
mengandung makna apa pun. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Wa salamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Syaifuddin Ma'rifatullah, Aceh.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke