Assalamu'laikum Wr.Wb
Segala pekerjaan harus ada metodenya. Kalau tidak memakai metode
maka tidak jadi (batal).
Mensucikan jasmani harus dengan metodenya (ada syarat dan
rukunnya). Seperti wudlu, mandi, dsb. Apalagi mensucikan hati,
harus dengan metodenya pula.
Metode mensucikan hati ada di dalam Ilmu Tasawuf, yang
pelaksanaan teknisnya disebut Thariqat.
Yang membuat kotornya hati adalah dosa, ada dosa lahir dan ada
dosa batin. Dosa batin ini yang sulit terdeteksi (tidak kita
sadari). Termasuk "syirik khafi" akibat anasir-anasir iblis di
dalam hati.
Hakikat syurga adalah "beserta" dengan Allah. Jika sudah mampu
sampai kehadirat Allah, beserta dengan Allah, maka syurga-lah
itu. [Syurga ada di sisi Allah].
Itulah tujuan pokok Tasawuf, mampu sampai kehadirat Allah dan
meraih ridla dan kasihNya.
Itulah maqam Ikhsan.
"Kemanapun kau hadapkan wajahmu disitulah wajah Allah".
Untuk sampai kehadirat Allah Yang Maha Suci, tentunya Ruh harus
disucikan terlebih dahulu.
[Saya coba untuk berfikir eksak]
Allah bersemayam di Arsy di dimensi yang tak tehingga jauhnya.
Untuk dapat sampai kehadirat Allah, diperlukan "frekuensi" yang
tak terhingga pula. Pada waktu Nabi Isra' Mi'raj dimasyurkan
dengan "Al Buroq".
Tanpa frekuensi itu, manusia yang "baharu" tidak akan mungkin
sampai kepada Yang Maha Qadim.
Untuk dapat sampai kehadirat Allah, sama seperti halnya
Rasulullah SAW, mendarat di tempat yang sama, maka harus memakai
frekeunsi yang sama pula, seperti yang dipakai oleh Rasulullah
SAW.
Di dalam QS Al Maidah, ayat 35 disebut sebagai "Wasilah". Di
dalam QS An Nur ayat 35 disebut "Nurun Ala Nurin".
Itu hanya dapat diwarisi dari [Ruhani] Rasulullah SAW. Yang
diwariskan kepada Aulia-Aulia Allah, para pewaris Nabi.
Rasulullah adalah sebagai ikutan/tauladan (lahir dan batin) bagi
umatnya yang ingin berjumpa dengan Tuhannya.
Jika kita ingin sampai kehadirat Allah (yang berarti pula segala
ibadah diterima/sampai kehadirat Allah), harus mengikuti
Rasulullah secara lahir dan batin (ruhani).
Bagaimana dengan kita yang tidak pernah bertemu Rasulullah?
[Bukankah masih ada Pewaris Nabi?]
Saya ilustrasikan sbb :
Misalnya di Las Vegas AS ada pertandingan tinju yang liput
langsung oleh CNN. Kita mau melihat siaran langsung tersebut,
tapi kita tidak punya frekuensi "channel" ke CNN. Kita punya
frekuensi ke TVRI, dan TVRI menyambungkan frekuensinya ke CNN,
lalu kita menyambungkan frekuensi kita ke TVRI. Maka pada saat
itu juga kita dapat menyaksikan siaran langsung pertandingan
tinju tersebut. Dinamakan "siaran langsung", bukan perantara,
walaupun melalui channel TVRI.
Wassalamu'laikum Wr.Wb
Djafar wrote:
> Ass.wr.wb
> Sekedar sharing ilmu.
>
> Mungkin keterangan saya ini bisa sedikit membuka wawasan
> Sdr/Ibu
> Rachmasari.. Bahwasanya inti dari tasawuf adalah kesucian
> hati.Hati yang
> suci inginnya cuma bersembah pada Gusti. Hendaklah mengetahui
> apa yang bisa
> membuat kotornya hati, yaitu dosa. Dosa itulah yang membutakan
> mata hati
> sehingga kita tidak dapat melihat kebenaran yang hakiki.Jadi
> yang harus
> diketahui itu adalah apa itu dosa? Apa yang menyebabkan kita
> berbuat dosa,
> bagaimana membersihkannya, dsb. Yang paling sulit adalah
> menyelaraskan
> karsa kita dengan karsa Allah, sebab itu adalah dosa yang
> hakiki. Saya
> kurang mengerti kebahagiaan yang hakiki, mungkin yang dimaksud
> adalah
> bersanding dengan Gusti?
>
> Mungkin yang dimaksud dengan hati nurani di dini adalah jiwa.
> memang jiwa
> yang sudah suci inginya bersemabh pada Gusti dan selalu mencari
> kebenaran.
> Setelah menemukan kebenaran pada yang Haq, nanti akan
> mengetahui
> siapa-siapa atau apa yang mengikuti kebenaran itu
> ("ditunjuki").
>
> Awal beragama adalah ma'rifatullah. Dan awal ma'rifatulloh
> adalah
> ma'rifatunnafs (mengenal diri sendir i= menemukan jati diri).
> Mohon dikoreksi kalau keliru dan mohon maaf.
>
> Wassalam
> Djafar Amir
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)