[EMAIL PROTECTED] wrote:
> Bagaimana caranya menumbuhkan keiklasan dalam diri kita.
> Hal - hal paling mendasar ( sikap, pemikiran ) apakah yang harus
> dilakukan.
Assalamu'alaikum wr.wb.
Dalam pandangan saya yang picik, keikhlasan dalam menerima suatu
cobaan itu lebih sulit dibentuk daripada keihklasan dalam berbuat
kebajikan. Keikhlasan muncul ketika kita memahami dan menerima [tidak
mengingkari] hakikat kehidupan, termasuk tujuan penciptaan alam
semesta. Sayang sekali bahwa kesadaran akan hakikat hidup ini tidak
mudah dicapai sekalipun teknik-tekniknya dijelaskan secara gamblang;
kesadaran ini tidak dapat diperoleh semata-mata dari membaca atau
mendengar, tetapi harus pula dengan mengalami sendiri berbagai cobaan
berulang-ulang.
Menurut pengamatan saya, keikhlasan dapat diperoleh melalui cara-cara
berikut:
1. Secara alami. Pada umumnya orang mengalami berbagai cobaan hidup
secara alami. Apabila sejalan dengan itu ia memperoleh bimbingan
Allah, ia akan mampu melihat bahwa semua cobaan itu datang dari Allah
untuk kepentingan kita sendiri, ia merasa bodoh dan merugi bila tidak
mampu mengambil hikmah dari setiap cobaan hidup yang dialaminya.
Karena prosesnya alami, keikhlasan [dan kearifan] itu umumnya baru
didapat setelah berusia 40 tahun atau lebih. Tanpa bimbingan Allah,
orang akan tetap saja hidup jauh dari keiklasan dan kerarifan sampai
akhir hayatnya.
2. Melalui tasawuf. Dengan memasuki arena tasawuf, orang menerima
bai'at yang dapat dipandang sebagai 'teken kontrak' dengan Allah,
menerima dunia baru dengan cobaan-cobaan yang lebih berat. Di dunia
baru ini orang mengalami akselerasi dalam pembinaan sikap mental dan
perilaku, sehingga keikhlasan dan kearifan dapat diperoleh lebih cepat
daripada yang diperoleh secara alami. Meskipun mengalami akselerasi,
tetap saja keikhlasan baru diperoleh setelah berjalan bertahun-tahun.
Membaca sejarah hidupnya, saya menduga bahwa Nabi Muhammad menerima
bai'at dalam masa kanak-kanak.
Kedua metode di atas mungkin saja bermanfaat untuk jangka panjang
sebagai semacam perisai diri, tetapi mungkin tidak dapat mengatasi
penderitaan apapun yang kini tengah anda hadapi. Untuk mengatasi
tekanan jiwa yang mendesak untuk segera diringankan, saya melihat 3
jalan keluar [mungkin masih ada yang lain]:
a. Minta pertolongan seorang ahli jiwa (psikolog), karena orang ini
memang keahliannya di bidang ini. Terapi diberikan dengan bertemu
muka, dan wawancara yang panjang dalam suasana santai.
Karena ilmunya diperoleh dengan beaya yang relatif besar, mungkin saja
kita perlu merogoh kantong agak dalam.
b. Minta bantuan seorang ruhaniwan. Allah menyebar merata orang-orang
yang demikian untuk membantu umat manusia. Banyak pengurus masjid yang
juga ruhaniwan, atau sekurang-kurangnya mampu menunjukkan siapa
ruhaniwan yang terdekat dengan lokasi anda. Orang ini dikaruniai
penglihatan Allah untuk menemukan bagian dari sistem kita yang
mengalami error sehingga menimbulkan penderitaan, dan membetulkannya.
Keahlian ini tidak untuk dijual, tetapi sudah sepantasnya anda
berterimakasih dengan cara anda sendiri.
c. Perbanyak shalat malam, mohon agar bukan hanya dikaruniai kesadaran
dalam menerima dengan ikhlas, tetapi juga agar mampu mengambil hikmah
dari setiap cobaan. Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang;
mana mungkin cobaan yang diberikanNya bukan merupakan rahmat.
Maaf, ini pendapat dan saran orang bodoh, lho!
Wassalamu'alaikum wr.wb.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)