Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Mau ikutan masalah ikhlas ini. Ikhlas biasanya dikaitkan dengan tidak
menerima imbalan duniawi. Ketika seorang kyai dipanggil ceramah ke tempat
yang terpencil, dan beliau harus terpaksa mengeluarkan biaya untuk ke tempat
tersebut, dan kemudian beliau tidak mau menerima imbalan upah tertentu
berupa uang dari panitia setempat maka kemudian orang mengatakan bahwa kyai
tersebut ikhlas.
Saya pernah mendengar cerita dari pak Jalaluddin tentang seseorang ustadh di
kampung yang dimintai pertolongan oleh beberapa orang kaya di kampung
tersebut untuk mengajar anak-anak mereka mengaji. Maka kemudian Ustadh
tersebut menyanggupinya dan kemudian seminggu dua kali mengajar anak-anak
tersebut mengaji di rumah masing-masing. Setelah sebulan, maka di rumah
pertama si orang kaya mengatakan bahwa ybs tidak memberikan uang kepada
ustadh tersebut demi menjaga keikhlasan ustadh tsb atau memberikan upah yang
sangat sedikit. Demikian juga di rumah kedua, dst. Ustadh tersbut menjadi
terpojok, dia teringat anak-anaknya sendiri di rumah yang butuh biaya untuk
sekolah dst.
Dengan definisi ikhlas yang demikian maka kemudian orang-orang yang baik ini
dikuras tenaganya, dihabiskan waktunya, sehingga mereka tidak mampu mencari
rizki dan kemudian tidak diberi imbalan apa-apa dengan alasan ikhlas.
Pengertian ikhlas seperti ini sangat negatif dan menghancurkan jiwa-jiwa
baik. Akibatnya ustadh-ustadh ini menjadi kurus kering, anak-anaknya
terlantar, keluarganya hidup sangat kekurangan karena waktu mereka
dihabiskan oleh umat tanpa diberi imbalan yang layak.
Sesuai definisi-definisi ikhals yang diberikan oleh rekan-0rekan disini maka
Ikhlas tidak ada hubungannya dengan menerima imbalan materi ataupun tidak
melainkan di hati. Ketika tidak mau menerima imbalan materi dengan niat agar
dibilang oleh orang lain sebagi ikhlas maka pada saat itu dia tidak ikhlas.
Sebaliknya ketika ustadh dalam contoh tadi kemudian menerima imbalan materi
yang cukup banyak atas pekerjaan yang dia lakukan, boleh jadi itu
mendorongnya untuk semakin ikhlas dalam mengajar anak-anak tersebut mengaji.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
> ----------
> From: Abah Hilmy[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Wednesday, 2 June 1999 18:51
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: RE: [Tasawuf] Iklas
>
> At 03:43 PM 6/1/99 +0700, you wrote:
>
> >> Seorang Abdi Dalem di keraton Yogya, dengan ikhlas menjadi Abdi Dalem,
> >> walaupun sebulan ia digaji hanya Rp. 1000,- Bahkan yang timbul darinya
> >> adalah kebanggaan menjadi seorang abdi dalem, karena tidak semua orang
> >> bisa
> >> menjadi abdi dalem.
>
> Hendra Nur Arifin wrote:
>
> >Wah ini sih bukan masalah Ikhlas , tapi keterlaluan yg memberi gajinya.
> >Memanfaatkan kebanggaan orang dengan upah dibawah umr banget.
> >Tentunya karunia-Nya amat banyak bila disadari.
>
> Hehehe...
> Memang begitulah Mas. Saya waktu lihat kisah tersebut juga sempat
> geleng-geleng. Acara itu di tayangkan di TV ketika sedang dirayakan hari
> Ultah Sri Sultan yang terakhir.
>
> Terlepas dari Rp. 1000,- nya...
> Saya sangat bersyukur melihat acara tersebut, menambah wawasan saya
> tentang
> "Ikhlas" atau "tulus" sebagai sebuah refleksi kesyukuran.
>
>
>
>
>
> +++++++
> Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau
> ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
> Bijaksana. (QS. 2:32)
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)