>
>Assalaamu'alaykum ww.

Ini pengalaman pribadi saya dan mungkin bisa dijadikan pelajaran berkaitan
dengan kasus "Nyleleng" khususnya untuk diri saya sendiri dan alhamdulillah
bila berguna bagi sahabat sekalian
"Sewaktu SMA saya mempunyai seorang teman yang gerak-geriknya aneh.
Kelihatannya sehat2 saja tapi sering tidak masuk sekolah. Setelah saya
dekati dia menceritakan bahwa ada Jin yang masuk dalam tubuhnya sudah
hampir setahun. Kalau dibawa ke "Orang Pinter" sembuh sementara seminggu
kemudian Jin-nya masuk lagi. Alhamdulillah setelah saya minta dia amalkan
beberapa surat kemudian Jin-nya benar2 pergi.
Singkat cerita dia masuk tarekat bersama saya, waktu SMA semuanya berjalan
normal2 saja karena memang ada temen discuss tapi setelah saya kuliah kita
pisah dan dia mulai mempelajari ilmu tasawuf sendiri melalui buku2 yang
dijual di pinggir jalan (mujarobat + buku2 lainnya).
Sewaktu saya pulang kampung, keluarganya sering kali cerita pada saya
keanehan2 pada teman saya..
dia melakukan puasa 40 hari, kalau malam jarang tidur (mengamalkan
mujarobat) hal ini berjalan hampir 2 tahun
Ibunya juga cerita dia sering mengiris kulitnya dan menghisap darahnya
(seperti morfinis).
Saya pernah discuss dengan dia..Dia hanya berkata "Darahku terasa nikmat
karena berisi Laa ilaaha illallah". Saya melihat di tangan dan tubuhnya
penuh dengan bekas sayatan2  tapi dia menceritakan semuanya dengan bahagia.
 Dia juga mengarang buku yang meghubungkan antara al-qur'an, keesaan Allah
dan technologi yang saya tidak faham karena terlalu mengada2 (menurut
saya)..sayang bukunya sekarang tidak tahu ada dimana
Semua identitas (KTP, SIM, Ijasah) dibakar dengan alasan " Dunia tidak akan
semakin memperlambat dirinya menuju Allah".
Idhul Fitri tahun kemaren akhirnya dia meninggal (Inna lillahi wa inna
ilaihi raaji'un). Saya hanya dapat kabar dari adik bahwa dia meninggal
karena sakit.
3 minggu kemudian saya sempatkan pulang untuk menemui keluarganya, sebelum
meninggal dia berpesan
"Tidak ada sesuatu yang kekal selain yang kekal itu sendiri" seterusnya
saya lupa..kemudian meninggal. Ayahnya hanya cerita dia meninggal dengan
tersenyum..saya hanya berdo'a semoga Allah menerimanya..Amien  
  

Wassalaaam


 
>Pak Sunarman menulis; "Saya menemukan beberapa kasus orang yang miring
pikirannya setelah beberapa waktu menjalankan amalan yang dibacanya dari
sebuah buku"

>
>Menarik sekali, sekaligus argumen bahwa dalam menempuh jalur thariqat
memang benar-benar diperlukan mursyid yang dapat membimbing. Bukan hanya
agar kita tidak tersesat, melainkan karena keunikan masing-masing pribadi
sehingga memerlukan "modifikasi" formula.
>
>Saya pernah berkunjung ke masjid / makam Sunan Ampel dan melihat beberapa
orang (pemuda) yang berperilaku aneh, misal tersenyum sendiri, tertawa atau
bengong. Kata rekan saya, mereka itu "nyeleleng". Wah....saya juga nggak
paham apa arti kata "nyeleleng". Lanjut rekan saya tadi, mereka itu
"kabotan ilmu (terlalu berat menyandang ilmu)" sehingga pikirannya menjadi
miring. Malahan, katanya, mereka itu bisa melihat siapa jati diri kita
sebenarnya. Misal, kalau kita suka maksiat maka akan tampak di penglihatan
mereka seperti binatang kera, babi atau yang lain. Makanya sewaktu saya
melintas di depan mereka, hati ini  minder juga, jangan-jangan ada yang
nyeletuk...awas ada monyet lewat. (bisa gawat...ha..ha...ha)
>
>Beberapa (calon...?) Kiyai atau Gus (seperti Gus Liem...?) terkadang
berperilaku "aneh". (Saya tidak mengatakan "miring" lho). Misal, tiba-tiba
berteriak mengumpat mengusir tamunya yang baru datang, atau meludah
sembarangan, atau melempar seseorang yang minta doa. Banyak orang yang
tidak menganggapnya aneh, karena biasalah Kiyai / Gus begitu.
>
>Sekali lagi, saya adalah orang awam yang belum pernah melangkah walau
setapak dalam samudra tasawuf yang begituan, sehingga fenomena-fenomena
tadi tidak sepenuhnya paham.
>
>Saya ingin mendapat penjelasan dari para salik dan ahlinya (Pak Sunarman,
Mas Wargino, Abah, Gus Liem, dll.) mengenai perubahan-perubahan kejiwaan
yang terjadi pada diri pejalan. Bagaimana suatu amalan dapat berpengaruh
terhadap keunikan seseorang. Betulkah, amalan shalawat, seperti kata rekan
yang lain, adalah amalan yang adem...yeesss. Beda dengan amalan tahlil yang
berat dan panas. Mengapa seseorang salik bisa "miring" dan apa sebenarnya
yang menimpa dirinya (apa yang ada dalam benaknya).
>
>Maaf kalau terlalu naif.
>
>Wassalaamu'alaykum ww.
>Jaret
>
>
>Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
>Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke