Assalamualaikum, Sepengetahuan saya Guru tersebut harus seorang manusia yang masih hidup, yang membimbing secara langsung, baik secara fisik maupun secara rohani. Karena dalam proses bimbing-membimbing ada suatu proses yang disebut: Tawajjuh yang, kalau tidak salah, artinya saling berhadapan wajah (face to face). Tawajjuh sendiri asal katanya, kalau tidak salah (mohon koreksi ahli bahasa Arab), adalah wajah (face). Jadi dalam hal ini buku-buku atau bacaan tidak bisa dijadikan guru. Jika dipaksakan juga menjadikan bacaan sebagai guru, maka akan ada kehilangan suatu proses, yang salah satu akibatnya ya....miring itu! Wassalamualaikum, Raspio Wismono On Mon, 21 Jun 1999, Pungkas Ali wrote: > Assalamualaikum, > > Ada sebuah pertanyaan yang selama ini selalu bergaung dalam pikiran saya. > Hampir disemua buku bacaan ataupun dari nasehat-nasehat seperti dibawah ini > yang menekankan pentingnya guru dalam membersihkan hati (Imam Gazali dalam > buku Keajaiban Hati, mengharuskan adanya guru). Apakah dalam hal ini > buku-buku, atau bahan bacaan lain bisa dianggap guru, ataukah harus guru > seorang manusia yang membimbing langsung? Atas tanggapannya saya ucapkan > terimakasih. > > Wassalamualaikum > Pungkas B. Ali > > > > --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
