Assalamu'alaikum wr wb,
Pak Pungkas, kalau kita bicara teori, logikanya bisa-bisa saja. Dan memang
mungkin juga bisa. Masalah ini memang sering menjadi pertanyaan kebanyakan
'calon' salik. Secara faktual mungkin sedikit berbeda dari teori. Tanpa
guru
biasanya agak sulit untuk menyelesaikan masalah. Misalnya tidak ada tempat
untuk bertanya secara langsung, atau tidak ada yang membunyikan 'peluit'
di saat kita akan tersesat jalan.
Sebuah ilustrasi:
--------------------
Novel karya Bastian Tito yang berjudul Wiro Sableng adalah sebuah novel
yang
cukup terkenal di dunia novel persilatan. Kita misalkan Pak Bastian itu
sebagai
seseorang yang bukan hanya mengarang melainkan juga seorang guru silat.
Si 'A' adalah pengagum Wiro Sableng 212, ingin mempelajari ilmunya Wiro
Sableng.
Ia dihadapkan dengan tiga pilihan :
1. Membaca Novel Wiro Sableng dan berlatih sendiri.
2. Melihat filem seri Wiro Sableng di TV dan berlatih sendiri.
3. Datang ke tempat Pak Bastian untuk berguru.
Dari ketiga pilihan itu semuanya mempunyai kemungkinan 'bisa' walaupun
prosentasi keberhasilannya dari ketiga metode itu berbeda-beda.
Pada kenyataannya setelah si 'A' sudah benar-benar masuk ke dunia
persilatan,
dia tidak akan bertanya lagi metode yang mana yang terbaik bagi seorang
calon-pesilat.
Jadi bagi kita yang berpendapat bahwa tanpa guru bisa jalan, walaupun sudah
dikasih
saran dari seseorang yang sudah berpengalaman tapi kita tetap berkeyakinan
bisa,
itu tidak salah. Menurut pendapat saya JANGAN DIPIKIR BISA ATAU TIDAK BISA.
Yang penting adalah LAKUKAN SAJA. Silakan lakukan dulu sambil mengharap
bimbingan Allah.
Tapi kalau dengan cara begitu mendapat kesulitan ya jangan malu untuk
bertanya
atau mencari pembimbing.
Kurang lebih mohon maaf,
Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino
>[Pamungkas Ali wrote]:
>Assalamualaikum,
>Ada sebuah pertanyaan yang selama ini selalu bergaung dalam pikiran saya.
Hampir disemua buku bacaan ataupun dari nasehat-nasehat seperti dibawah ini
yang menekankan pentingnya guru dalam membersihkan hati (Imam Gazali dalam
buku Keajaiban Hati, mengharuskan adanya guru). Apakah dalam hal ini
buku-buku, atau bahan bacaan lain bisa dianggap guru, ataukah harus guru
seorang manusia yang membimbing langsung? Atas tanggapannya saya ucapkan
terimakasih.
Wassalamualaikum
Pungkas B. Ali
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)