Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya sangat berterimakasih  atas tanggapan-tanggapannya.

Kalau misalnya dihadapkan pada dua pilihan antara ada guru (manusia) atau
belajar sendiri, ya tentu saja dengan adanya guru akan lebih baik (dengan
alasan-alasan yang telah dijelaskan).

Apakah belajar tasawuf itu hanya dua ada kriteria yaitu: berhasil atau
gagal, sebagaimana ujian kenaikan kelas? Selama ini saya membaca beberapa
buku-buku ringan tentang hati, yang sangat menarik hati saya (tepatnya
Keajaiban Hati-nya Imam Gazali, dan beberapa buku lain seperti karya Imam
Ja'far dan M. Muthohari).  Kemudian bolehkan saya menganggap mereka sebagai
guru yang mengajarkan kepada saya melalui buku-bukunya?

Saya memang tidak bisa mengatakan berhasil atau gagal, namun saya merasakan
ada perubahan dan peningkatan iman saya. Tidak ada guru yang menilai saya,
namun apakah kita tidak bisa menilai diri kita sendiri. Bukankah kita bisa
bercermin dari hati kita sendiri dan melihat siapa kita sebenarnya? Saya
ingat sekali, bagaimana petuah-petuah Imam Gazali saya sampaikan ke teman
saya yang "urakan". Alhamdulillah tak terlalu lama beliau memakai jilbab.
Yah, mungkin ini tidak bisa dijadikan tolok ukur, namun bisa memberi "clue"
apakah iman kita naik atau turun.

Lalu bagaimana andaikan saja ada sesuatu yang tidak jelas, kepada siapa kita
tanyakan?
Selama ini metode saya adalah dengan membaca buku sebanyak-banyaknya. Dengan
itu saya bisa mencari jawabanya menurut orang yang berbeda dengan dasar
pemikiran yang berbeda pula. Artinya kita bisa mendapatkan spektrum cara
pandang yang sangat luas untuk kita pilih mana yang paling pas.  Ada satu
kekhawatiran saya yang tersembunyi, bila kita berguru pada satu sumber maka
wawasan kita akan terbatas pada pola pikir sumber ita saja, yang bisa
membuat kita picik dan merasa benar sendiri. Dengan membaca banyak-banyak,
kita bisa meluaskan wawasan kita, kita bisa keluar dan melihat seperti apa
sebenarnya kotak hitam tempat saya selama ini bersemayam? Bisa saya katakan,
saya bisa menjawab pertanyaan yang mengganggu dengan membaca.

Cerita orang yang belajar sendiri kemudian menjadi "miring" tentu saja
membuat saya jadi ngeri (saya tidak membaca postingya, kalau yang masih
punya bolehkah saya di kirimi?).  Apakah kira-kira problem ini bisa dicegah
andaikan si calon "salik" itu bisa ber-tawazun, menjaga keseimbangan fisik,
rohani dan akal? Mohon maaf lho, bukannya saya "ngeyel", saya hanya mohon
masukan yang insya Allah akan berguna bagi saya dan... saya takut "miring".

Wassalamualaikum
Pungkas B. Ali




Adhi Wibowo wrote:

> Assalamu'alaikum
>
> Mas Wargino, rupanya banyak yang bingung tentang perlunya guru atau
> tidak. Padahal menurut saya sih, masalahnya sederhana saja. Seperti bang
> Ali Abidin yang tertawa-tawa geli ketika membaca "Miring karena tasawuf
> ?"..., saya sebenarnya juga rada sedikit tertawa, sedikit saja
> tertawanya hi hi :-).
>
> Kalau belajar sesuatu kan cuma ada dua pilihannya: 1) berhasil atau 2 )
> gagal.
>
> Nah... kalau belajar sendiri, taruhlah berhasil. Ukurannya apa, siapa
> yang menjamin keberhasilan ? Apakah ada jaminan bahwa kalau belajar
> sendiri terus lantas berhasil ? Bagaimana kalau gagal ? Masih untung
> kalau tidak menjadi "miring". Bagaimana kalau menjadi "miring" ? Siapa
> yang bertanggung jawab ? Ya... tentu saja diri sendiri. Dengan kata
> lain, risikonya terima sendiri. Kalau kata orang sono, "miring-miring
> karepmu dhewe...".
>
> Bagaimana alternatif kedua kalau punya guru ? Pertama, ada ukurannya
> kalau kita berhasil atau gagal, paling tidak di mata guru. Layaknya kita
> bersekolah, ada guru, ada pelajaran, kita rajin sekolah, tidak mbolosan,
> rasa-rasanya kalau tidak amat sangat bodo... ya tentu lulus. Kedua,
> tentu guru bertanggung jawab kalau ada "apa-apa", dan tanggung jawab ini
> tidak main-main. Tanggung jawabnya sampai dunia-akhirat, karena bukankah
> tasawuf ilmunya tentang dunia-akhirat ? Istilah mas Wargino, 'ada yang
> tiup peluit', begitu murid mulai melenceng. Jadi kalau gagal belajarnya,
> ya paling-paling "tidak naik kelas" dan bukan menjadi "miring". Kalau
> "tidak naik kelas" kan gampang, tinggal mengulang lagi (tahun
> depan...daripada "miring" hi hi hi :-) ).
>
> Tinggal pilih, mau alternatif yang mana ?
>
> Wassalamu'alaikum wr wb
> adhiw
>
> > -----Original Message-----
> > From: [EMAIL PROTECTED]
> > [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > Sent: Thursday, June 24, 1999 10:20 AM
> > To:   [EMAIL PROTECTED]
> > Subject:      [Tasawuf] Perlukah pembimbing - [miring karena tasawuf?]
> >
> >
> > Assalamu'alaikum wr wb,
> >
> > Pak Pungkas, kalau kita bicara teori, logikanya bisa-bisa saja. Dan
> > memang
> > mungkin juga bisa. Masalah ini memang sering menjadi pertanyaan
> > kebanyakan
> > 'calon' salik. Secara faktual mungkin sedikit berbeda dari teori.
> > Tanpa
> > guru
> > biasanya agak sulit untuk menyelesaikan masalah. Misalnya tidak ada
> > tempat
> > untuk bertanya secara langsung, atau tidak ada yang membunyikan
> > 'peluit'
> > di saat kita akan tersesat jalan.
>


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke