Assalamualaikum Wr. Wb.
Pungkas Ali wrote:
> Apakah belajar tasawuf itu hanya dua ada kriteria yaitu: berhasil atau
> gagal, sebagaimana ujian kenaikan kelas? Selama ini saya membaca beberapa
> buku-buku ringan tentang hati, yang sangat menarik hati saya (tepatnya
> Keajaiban Hati-nya Imam Gazali, dan beberapa buku lain seperti karya Imam
> Ja'far dan M. Muthohari). Kemudian bolehkan saya menganggap mereka sebagai
> guru yang mengajarkan kepada saya melalui buku-bukunya?
Bagaimanapun lengkapnya, buku yang ditulis seorang guru spiritual
sehebat Imam Ghazali sekalipun, tidak dapat menggantikan KEHADIRAN
guru itu sendiri. Komunikasi dengan buku hanya berjalan searah,
sedangkan komunikasi dengan guru dua arah. Buku itu pasif, sedangkan
guru secara aktif memberitahukan sesuatu yang perlu meskipun tidak
ditanyakan. Ibarat belajar nyetir mobil, keselamatan anda akan lebih
terjamin di samping seorang pelatih daripada di samping sebuah buku.
Namun demikian, setahu saya, buku Imam Ghazali yang anda sebut itu
cukup aman untuk diikuti meskipun tanpa guru, karena hanya menyentuh
aspek-aspek permukaan, yaitu sebatas yang aman untuk dibaca dan
diikuti oleh orang awam. Kalau anda cukup puas dengan tingkatan itu,
ya boleh-boleh saja. Lain halnya kalau anda ingin menyelam agar dapat
MELIHAT LANGSUNG keindahan yang terkandung di dalam lautan ilmu yang
maha luas itu ... jangan coba-coba menyelam sendirian!
Mengenai buku-buku yang lain... saya tidak tahu sampai di mana
batas-batasnya.
PS: Seri Bimbingan Praktis Tasawuf dari Abah Hilmy termasuk aman
untuk diikuti tanpa guru.
> Saya memang tidak bisa mengatakan berhasil atau gagal, namun saya merasakan
> ada perubahan dan peningkatan iman saya. Tidak ada guru yang menilai saya,
> namun apakah kita tidak bisa menilai diri kita sendiri. Bukankah kita bisa
> bercermin dari hati kita sendiri dan melihat siapa kita sebenarnya? Saya
> ingat sekali, bagaimana petuah-petuah Imam Gazali saya sampaikan ke teman
> saya yang "urakan". Alhamdulillah tak terlalu lama beliau memakai jilbab.
> Yah, mungkin ini tidak bisa dijadikan tolok ukur, namun bisa memberi "clue"
> apakah iman kita naik atau turun.
Perkembangan dalam tasawuf tak dapat dinilai dengan menggunakan panca
indera dan pertimbangan akal semata-mata.
> Lalu bagaimana andaikan saja ada sesuatu yang tidak jelas, kepada siapa kita
> tanyakan?
Kalau anda belajar dari buku, tanyakan kepada penulisnya.
> Selama ini metode saya adalah dengan membaca buku sebanyak-banyaknya. Dengan
> itu saya bisa mencari jawabanya menurut orang yang berbeda dengan dasar
> pemikiran yang berbeda pula. Artinya kita bisa mendapatkan spektrum cara
> pandang yang sangat luas untuk kita pilih mana yang paling pas. Ada satu
> kekhawatiran saya yang tersembunyi, bila kita berguru pada satu sumber maka
> wawasan kita akan terbatas pada pola pikir sumber ita saja, yang bisa
> membuat kita picik dan merasa benar sendiri. Dengan membaca banyak-banyak,
> kita bisa meluaskan wawasan kita, kita bisa keluar dan melihat seperti apa
> sebenarnya kotak hitam tempat saya selama ini bersemayam? Bisa saya katakan,
> saya bisa menjawab pertanyaan yang mengganggu dengan membaca.
Thariqat itu berbeda dari ilmu kanuragan (seni bela diri). Dalam ilmu
kanuragan, kita dapat menggabungkan jurus-jurus dari berbagai aliran,
tetapi dalam thariqat kita harus memilih salah satu aliran, lalu
menapaki jalan yang ditetapkan secara konsekuen. Biarpun kita banyak
membaca tentang metode dan pandangan-pandangan dari berbagai aliran
lain, kita tetap harus berpijak di jalur yang telah kita pilih.
> Cerita orang yang belajar sendiri kemudian menjadi "miring" tentu saja
> membuat saya jadi ngeri (saya tidak membaca postingya, kalau yang masih
> punya bolehkah saya di kirimi?). Apakah kira-kira problem ini bisa dicegah
> andaikan si calon "salik" itu bisa ber-tawazun, menjaga keseimbangan fisik,
> rohani dan akal? Mohon maaf lho, bukannya saya "ngeyel", saya hanya mohon
> masukan yang insya Allah akan berguna bagi saya dan... saya takut "miring".
Memang benar, perjalanan tasawuf memerlukan pengendalian keseimbangan
jasmaniah dan ruhaniah secara ketat. Orang dapat menjadi miring karena
memaksakan sesuatu amalan padahal kondisi jasmaniah dan/atau
ruhaniahnya [sedang] tidak mendukung. Seorang guru yang bertanggung
jawab, sebelum memerintahkan muridnya untuk melakukan sesuatu,
terlebih dahulu meneliti keadaan muridnya orang per orang dari
berbagai segi, dan melakukan perbaikan, pengkondisian atau penyesuaian
seperlunya. Tiap murid mempunyai kondisi yang spesifik, sehingga
instruksi guru
kadang-kadang berbeda dari murid yang satu dengan yang lain.
Untuk dapat melakukan tugas itu dengan baik, seorang guru harus
mempunyai kemampuan khusus yang tidak dimiliki sembarang orang. Tidak
semua ahli tasawuf dapat melakukannya meskipun ia sudah mencapai
tingkatan yang tinggi, karena tiap orang mempunyai bidang spesialisasi
tersendiri.
Yang pasti, fungsi guru/pembimbing tidak dapat digantikan oleh sebuah
buku, dan terlebih lagi... seorang salik tidak dapat diharapkan
sepenuhnya untuk mampu menjaga dirinya sendiri. Meskipun [atas
pertolongan Allah] seseorang dapat saja [pada akhirnya] selamat dalam
berjalan 'sendirian' di jalur thariqat, harus disadari bahwa kasus
demikian ini sangat langka sehingga jangan terlalu diharapkan. Selain
itu perlu pula disadari bahwa pertolongan Allah itu datang melalui
seorang guru atau semacamnya, baik guru yang tampak di depan mata
maupun yang tidak tampak; Allah tidak akan turun tangan sendiri.
Kita tak boleh menutup mata dari kenyataan bahwa Allah menyebarkan
hamba-hamba-Nya di antara kita untuk menolong sesiapa yang tersesat
jalan atau terancam miring, tetapi bagaimana kita bisa yakin bahwa
kita termasuk hamba yang ditolong-Nya? Bukankah lebih aman jika
sesekali kita memeriksakan kesehatan ruhani kepada hamba-hamba-Nya
yang tahu, seperti sesekali kita memeriksakan kesehatan jasmani kita
kepada seorang dokter?
Wassalamu'alaikum wr. wb.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)