Assalamu'alaikum wr wrb,

Bagus sekali hikayat bulan ini, paling tidak lebih membuka mata kita
yang selama ini sering bercermin di depan kaca namun tidak pernah berfikir
tentang makna cermin. Apalagi bercermin dari cermin kehidupan.

Suhrawardi membangunkan kita bahwa ada cermin yang lebih besar yaitu
bulan dan matahari. Walaupun bulan akan selamanya menjadi bulan
tapi ia sadar bahwa dirinya bercahaya karena matahari. Yang lebih menarik
adalah di saat bulan sepenuhnya menyerahkan wajahnya bulat-bulat
ke matahari maka bulanpun mulai berbisik lirih,... wahai matahariku
engkaulah aku... dan akulah engaku.

Bulanpun menangis tatkala dia tersilap berbuat kesalahan, sehingga
membawa derajat kelangitannya turun menjadi derajat kebumian...
ia dirundung kegelapan. Dia hanya melihat kegelapan (bumi) yang
menghalangi datangnya sinar sang matahari yang dirindukannya....
itulah gerhana..... gerhana.... di saat bumi menutupi sang bulan dari
cahaya kekasihnya...

Kasihan si bulan...... adakah kita juga bernasib seperti gerhan abulan?
Yaa Allah..... Yaa Nuur........................!!!

Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino

---------------------------------
[Radityo<[EMAIL PROTECTED] on 07/06/99 11:25:01AM
Assalamu'alaikum

Sebuah hikayat dari Syaikh Al-Isyraq Syihabuddin Yahya
As-Suhrawardi....semoga bisa diambil hikmahnya....

Idris dan Bulan

Semua bintang dan benda angkasa berbicara dengan Idris, yang bertanya
kepada bulan, "Mengapa cahayamu kadang-kadang lebih banyak, dan
kadang-kadang lebih sedikit ?"
"Hendaklah kamu ketahui," jawab bulan,"bahwa badanku ini murni, terpoles,
dan hitam. Aku sendiri tidak mempunyai cahaya, tetapi jika aku berada di
seberang matahari, kesamaan cahayanya muncul pada cermin badanku yang
proporsinya sesuai dengan derajat oposisinya, sebagaimana bentuk-bentuk
ragawi lainnya muncul di dalam cermin. Ketika derajat oposisinya
bertambah, aku beranjak dari nadir sebagai bulan sabit, ke zenit sebagai
bulan purnama."
Idris bertanya pada bulan sejauh mana persahabatannya dengan matahari.
Ia menjawab,"Sedemikian rupa sehingga setiap kali aku memandang diriku
sendiri, ketika kami berhadapan satu sama lain, aku melihat matahari,
karena kesamaan cahaya matahari muncul dalam diriku, dikarenakan kehalusan
permukaanku dan wajahku yang terpoles, yang cocok untuk menerima
cahayanya. Oleh karena itu, setiap kali aku memandang diriku, aku melihat
matahari secara keseluruhan. Tidaklah kamu tahu bahwa jika sebuah cermin
dipegang menghadap matahari, bentuk matahari itu muncul di dalamnya ? Jika
seseorang dapat membayangkan bahwa cermin itu mempunyai mata dan memandang
pada dirinya sendiri saat ia berhadapan dengan matahari, meskipun terbuat
dari besi, ia akan dapat melihat matahari. Ia akan berkata,"Akulah
matahari," sebab ia akan melihat dalam dirinya hanya ada matahari. Jika
seseorang berkata, "Akulah yang Real," atau "Mulialah diriku:betapa
hebatnya aku !" maka dia patut dimaklumi.

"Begitu dekatnya aku padamu,
sehingga aku membayangkan dirimu itu aku."

Wassalamu'alaikum



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke