R. Sunarman wrote:
> 
> Assalamu'alaikum Wr.Wb.
> 
> Radityo wrote:
> 
> > "Begitu dekatnya aku padamu,
> > sehingga aku membayangkan dirimu itu aku."
> 
> Bambang Edy wrote:
> 
> > Bagaimana dengan Syeih Siti Jenar yang pernah mengeluarkan pernyataan
> > (persisnya lupa) kalau tidak salah intinya "aku adalah Allah, Allah
> > adalah aku" ??  Kelihatannya ada makna yang dalam dalam pernyataan itu,
> > nemun dinyatakan sesat ??  Mohon bantuannya untuk dapat membuat analisa
> > yang sederhana, hingga kami yang awam dapat memahaminya, trims.
> 
> Perkenankan saya urun pendapat.
> Allah itu sesuatu yang immaterial dan undescribable, tiada perkataan
> yang cukup untuk menerangkannya. Salah satu penjelasan sempit mengenai
> Allah adalah 99 sifat yang kita kenal dengan asma-ul-husna; semuanya
> menggunakan kata Maha yang menunjukkan sifat tanpa batas. Sifat Maha
> Pengasih, misalnya, hanya pantas dimiliki oleh dzat yang mampu
> memberikannya tanpa batas, tanpa henti, tanpa pilih-pilih, tanpa
> memandang siapa yang diberi, tanpa syarat apapun. Secara eksplisit
> sifat demikian hanya dimiliki oleh Allah.
> 
> Sekarang kita gunakan sudut pandang A. Seseorang telah berhasil
> memuliakan dirinya hingga ia memiliki sifat welas asih yang [hampir]
> tak berbatas. Dalam keadaan demikian, ia dikatakan sangat dekat
> (mirip) dengan Allah, ia mempunyai sifat yang dimiliki Allah, Allah
> merefleksikan sifat-Nya melalui diri orang itu, Allah menggunakan
> orang itu untuk memanifestasikan sifat Maha Pengasih-Nya. Singkat
> kata, ia "adalah" Allah [ketika ia merefleksikan sifat tersebut];
> tidak ada yang mampu mempertunjukkan sifat pengasih yang begitu besar
> kecuali Allah. Orang-orang yang diasosiasikan dengan penyebutan
> demikian itu antara lain Syeh Sitijenar, Al Hallaj, Nabi Isa.
> Ketiganya dihukum mati, dan semuanya menerima kematian itu dengan
> ikhlas.
> 
> Bagaimana dengan pandangan B? Sudut pandang A itu, meskipun benar,
> berbahaya bagi orang awam karena dapat menyesatkan ke arah syirik.
> Orang dapat terbawa untuk menjadikan orang tersebut Tuhan; orang
> menjadi lalai dengan hakikat Allah dan cenderung untuk mengalihkannya
> ke dalam personifikasi yang sempit, yaitu hanya terbatas orang yang
> dipertuhan itu; orang dapat lupa menyadari bahwa Allah berada di
> mana-mana, tidak terbatas pada orang itu.
> 
> Memang benar bahwa Yesus {nabi Isa] adalah Tuhan dalam pandangan A,
> tetapi Yesus hanyalah SALAH SATU manifestasi Allah dalam pandangan B.
> Kalau kita mau meminjam sudut pandang A, kita pun boleh menyebut bahwa
> Muhammad itu Allah ketika beliau menyampaikan ayat-ayat Allah. Kita
> juga boleh menyebut bahwa Al Qur'an itu Allah dengan cara memandang
> yang sama.
> 
> Kalau secara metafor, Allah diibaratkan sebagai matahari dan manusia
> sebagai bulan, tampaknya ini sesuai dengan padangan B. Seberapapun
> terangnya cahaya yang dipancarkan oleh bulan, cahaya itu tetap bukan
> cahaya bulan karena bulan hanyalah sebagai reflektor cahaya yang
> berasal dari matahari. Kalaupun bulan berkata "Aku adalah matahari,"
> sebenarnya ia hendak menyatakan bahwa cahaya yang sipancarkannya
> adalah cahaya matahari, bukan cahaya bulan itu sendiri.
> 
> Pandangan B dipegang oleh kebanyakan aliran tasawuf Islam.
> 
> Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
> RS
> 
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Yth. Pak Sunarman,
Terimakasih atas penjelasan Bapak, semuanya menjadi lebih jelas.
Wassalamu'alaikum Wr.Wn
Edy W. +++
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke