BismilLaahir Rahmaanir Rahiim
Assalaamu'alaykum ww.

Ternyata  bab "nikmat" yang tampaknya sering diucapkan ini jadi rumit. Saya
ingat katanya Timbul, "wong senengane kok repot" :-) Dan ternyata saya juga
jadi  ikut-ikutan  "lieur"  - apalagi setelah mendapat materi KTTV-nya abah
Hilmy.  Mudah-mudahan  pembahasan  kita  bisa  menyederhanakan  bagian ini,
supaya kita menjadi benar dalam menyikapi "nikmat".

Ini  pendapat saya yang gampang-gampangan aja. Serta merta terlintas begitu
saja   tanpa   banyak  dirumuskan.  Jadi  kalau  terkesan  "ngawur"  tolong
diluruskan.

***

Rahmat  atau  kasih sayang Allah swt. serba meliputi segala sesuatu. Bahkan
segala  sesuatu  itu  tercipta karena rahmat Allah swt. yang tak terhitung.
Pada  saat  rahmat  tersebut  dirasakan  dan  dimanfaatkan  maka ia disebut
nikmat.  Jadi  nikmat  adalah  rahmat Allah swt yang dirasakan kehadirannya
serta dimanfaatkan.

Nikmat  ini  akan menjadi berlipat-lipat pada saat kita bisa mensyukurinya,
yaitu meletakkannya sesuai tujuan penciptaan (hikmah).

Hanya orang-orang tertentu yang mampu merasakan kehadiran rahmat Allah swt.
untuk kemudian memanfaatnya sesuai dengan hikmah rahmat tersebut. Dan Allah
swt.  akan  menambah  nikmat itu karena ia bersyukur, yaitu dengan petunjuk
(huda).  Dan  ia  pun  bertaubat karena merasakan kebesaran Allah swt. lalu
berserah diri.

Whuiih...ini  mah  level  kelas  tinggi.  Pantas  Al Qur'an mendudukan para
penempuh shirat al-mustaqiim ke dalam orang-orang yang mendapat nikmat.

Semoga  kita  senantiasa  termasuk orang-orang yang mampu mensyukuri nikmat
Allah swt.

Maaf, pendapat ini sederhana saja. Mohon koreksi.

Wassalaam
Leo Yuliawan Eka Putra



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke