Pada 10 Jan 2005, 18:29:05 +0700, Yulian F. Hendriyana menulis (diringkas):
>
> Dan saya pikir kurikulum pengajaran bahasa Indonesia cenderung gagal,
> indikasinya yang saya lihat dari milis ke milis antara lain:
> * Struktur yang berantakan. Yang paling sederhana yaitu SPO saja sering
> membuat pembaca berpikir dua kali menangkap kalimat.
> * Typo yang bukan saalh keitk tak disengaja. Kecenderungannya karena
> tidak aware, seperti tanda tanya/seru tidak nempel di kata (bagaimana?
> bukan bagaimana ?), penulisan unit (1000m bukan 1000 m misalnya), dll.
> * Penulisan imbuhan di dengan kata kerja dan kata benda yang
> terbolak-balik
> * Rasa malu menulis bahasa Indonesia yang benar.
>
> Padahal bahasa Indonesia diajarkan dari sejak "Ini Budi" hingga
> penulisan teknis karya ilmiah di tingkat satu jenjang sarjana.
>
---akhir kutipan---
Bravo untuk Jay yang dengan lantang menyebut sekian item di
atas. Saya belum seberani itu dalam hal menularkan pemakaian
Bahasa Indonesia.
:-)
cat.: bukan "tidak nempel", melainkan "tidak menempel"; "tidak
aware" sebaiknya diganti menjadi "tidak peduli".
"Di" yang lengket dengan kata kerja adalah imbuhan (lebih
persisnya awalan), sedangkan "di" yang berdiri sendiri sebelum
kata benda adalah kata sambung.
--
amal
You are going to have a new love affair.