On Thu, 13 Jan 2005 10:07:20 +0700, Budi Rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Ini hanya butuh waktu saja. > Saya sekarang justru stress kalau harus buat dokumen dengan > Microsoft Word karena sudah *berkali-kali* ada masalah dengan > Word. (Formating berantakan, nggak bisa diprint. Sungguh, nggak > bisa diprint!) Jadi ... tegang dan was-was. Akhirnya saya membuat > revisi dalam bentuk file word banyak sekali. Nggak bohong. Kalao format bukan salahnya Word, tapi salahnya "wordprocessor" 8-). Justru itu untuk dokumen saya tetap cinta dengan LyX. Ndak pusing, walau harus bekerja dengan rekan lain yg setting printernya berbeda jauh dengan saya. Tinggal saya kirim file lyx, dan packet yg dibutuhkan (terutama hypenation bahasa Indonesia). > > (meskipun di Linux juga bisa dipasang > > TrueTypeFont ini, tetapi secara default tidak ada). > > Nah, ini yang tadinya membuat saya tetap di MS Windows. > Saya ini fonts maniac. Jadi gonta-ganti fonts terus. Pasang aja font font itu di Linux-nya lhan sekarang gampang banget, Saya sendiri gemar melihat font, tapi tidak suka ganti-ganti font (takut kena penyakit gegar typografi he he he) > KDE terlalu berat (lambat banget startupnya). Compile sendiri 8-) he he Kayaknya kalo KDE itu bawaannya SuSE yg paling sip konfigurasinya. Kalau yang mau optimal cari aplikasi-aplikasi yang dipaketin oleh si "packman" Saya senengnya KDE bisa jadi jembatan bagi pengguna awal yg sudah terbiasa dengan Windows. Plus dengan KDE bisa bikin utilitas kecil buat orang baru dg cepat (kjsembed, kdlialog, kaptain, kommander dsb) IMW
