On Fri, 14 Jan 2005 08:38:27 +0900, Pakcik <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Voice recognition hanya input saja. satu level dengan keyboard dan > mouse. Memang cukup membantu buat orang tua misalnya atau nenek2 yg > takut liat keyboard dan mouse. Atau buat PDA/HandPhone yg repot untuk > embed keyboard yg lengkap ke sana.
Multi modal interface mungkin akan banyak nongol di masa mendatang. Untuk mengatasi keterbatasan User Interface yanag ada saat ini > Jef Raskin. Jef Raskin pengennya computer tanpa ada konsep filename. > Bayangkan aja kita harus cari nama baru untuk setiap document yg kita > baru kita bikin. Bandingkan dengan mau kasih nama ke anak yg baru > lahir. Kadang butuh berbulan2 baru ketemu namanya. Ini kalo orang Indonesia, orang Jerman tidak, karena di Jerman berlaku aturan "nama depan" ada daftarnya (jadi tinggal pilih berdasarkan list nama tersebut). Sebetulnya saat ini utk studi User Interface yg masih sedikit adalah studi yang berkaitan dengan manusia itu sendiri (termasuk kultur yg melingkupinya), kalau toh baca mentok-mentok ketemu bukunya Hofstede lagi, Hofstede lagi. Saya pernah workshop dengan berapa orang User Interface terutama bidang kritis, rata-rata masih mengabaikan pengaruh _kultur_ terhadap penggunaan User Interface (mereka bukan lagi mahasiswa, tapi rata-rata sudah disainer, expert). Termasuk orangnya Fabian Paterno (yang sering baca User Interface mungkin kenal nama ini). Waktu meeting Road Map Dependency model, Profesor saya menyajikan contoh pengaruh kultur ini, dengan suatu UI yg berbahasa Indonesia utk menyatakan betapa pengaruh kultur ini besar sekali. IMW
