On Wed, 16 Mar 2005 08:42:43 +0900, Pakcik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> Bagaimana media tradisional mengatasi ini? media tradisional hire
> ratusan wartawan, dan disebar mencari berita dan hasilnya disebar ke
> seluruh pelosok negri. detik walaupun online masih berupa media
> tradisional, cara kerjanya tidak berbeda dgn media cetak offline.

Kalau ini saya setuju. Detik ini tidak bisa dikategorikan sebagai "New
Media", dia itu "Traditional/Old Media" hanya saja distribusinya
menggunakan media digital saja.

Secara tampilan dan fitur yang disediakan oleh detik sudah terlihat
bahwa detik itu sama sekali tidak mengadopsi konsep jurnalistik "new
media" dan masih terpaku dengan metode jurnalistik tradisional.


> Media tradisional seperti detik akan menjadi tidak terlalu significan
> lagi di masa depan. karna beritanya akan basi (blog akan lebih cepat),
> dan tidak bisa menjangkau semua sumber berita. bagaimana detik
> menjangkau berita di kampung saya?? kecuali detik menghire semua orang
> jadi wartawan. Tiap individu adalah sumber berita. ketika ada jutaan
> berita tiap hari, media tradisional akan menjadi tidak pas lagi.

Coba lihat ini: http://www.broom.org/epic/

Apakah itu menggembirakan? Mengerikan? Memang yang umat manusia inginkan? Atau?


> media tradisional mungkin bisa berargument bahwa mereka punya standard
> kualitas. percaya atau tidak (ini bukan hasil survey), saya tanya
> beberapa teman2 saya yg pake news aggregator (termasuk saya), mereka
> akan mengklik entry dari orang yg dikenalnya dulu dari pada entry dari
> situs2 berkualitas seperti new york times, dan lain2.

Di acara "Daily Show"-nya John Stewart pernah dibahas (secara bercanda
tentunya, it's John Stewart) bahwa blogger itu TIDAK PUNYA
kredibilitas. Yang mereka punya hanya FAKTA. Dan tentunya sesuai
dengan tradisi bahwa kredibilitas kadang lebih penting daripada fakta.

-- 
<avianto /> - http://avianto.com/

Kirim email ke