On 6/17/05, Budi Rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> On 6/17/05, Made Wiryana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Salah satu ajaran Paulo ini menyatakan
> > tujuan pendidikan adalah mencapai kemerdekaan dari ketergantungan.
> > Paulo ini yg juga terkendal dengan ungkapan berpolitik tanpa menjadi
> > kontestan.
> >
> Saya belum pernah kenal pendidikan yang bobrok seperti
> di Brazil ini. Kalau mahasiswa saya berikan pertanyaan
> seperti yang saya ajarkan di kelas, dengan cepat mereka
> menjawab pertanyaan. Tapi kalau pertanyaannya saya ubah,
> ternyata mereka tidak bisa menjawab. (Jadi rupanya mereka
> hanya menghafal akan tetapi tidak memahami.)
> Tapi ... kata dia meskipun demikian, ada 3 mahasiswa di
> kelas saya yang nilainya baik. Jadi nampaknya meskipun
> bobrok ada juga hasilnya.

Saya tadinya tergolong orang yg sering menilai keaktifan seperti di
atas, tapi sekarang tidak lagi.  Setelah "kelamaan di Jerman" ternyata
saya sering menemui orang di Jerman ini sering "aktif bertanya" tapi
malas berfikir atau bekerja :-).  Kalau udah pernah ngerasain rapat
ama orang Jerman mungkin paham maksudnya.

Sehingga banyak mahasiswa secara sekilas sepertinya aktif dan pintar,
tapi ketika mengerjakan juga tidak bisa begitu bagus. Di ruangan saya,
karena sebel ama beberapa mahasiswa dan staf (Univ Jerman) yg
"kebanyakan nanya dan diskusi" saya tempelin tulisan gede-gede

                         "Say No to NATO"

Kesan Feynman itu adalah kesan yg dia terima ketika sabatical di
Brazil, mungkin kalau dia tinggal lebih lama, maka akan berubah.  Di
IEEE Software (lupa edisi berapa) ada kesan seorang Profesor (seingat
saya dia salah satu pengurus IEEE) ketika menjadi profesor tamu di
Afrika Selatan, dan dia menyarankan para profesor di negara maju utk
sering-sering ke negara berkembang, biar tidak salah judgement.

IMW

Kirim email ke