On 9/5/05, Ikhlasul Amal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

On 9/5/05, Mohammad DAMT <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> On Sen, 2005-09-05 at 08:22 +0700, fade2blac wrote:
> > Pointnya adalah, tidak perlu mencari bentuk transportasi baru. Tapi sistem yang ada dibenahi agar lebih efisien. Jika Busway sekarang dianggap sukses apa indikatornya? Sukses berarti kemacetan berkurang, ternyata tidak. Lalu monorel? Sependek pengetahuan saya, itu pointless. Subway? Ngatasin banjir aja nggak gape mau bikin subway.. :-)
>
> semuanya ga ada gunanya kalau orang2nya masih kayak begini juga.
> bikin robot baru yang ga bisa disogok untuk tembak mati orang2 yg ga
> beres.
>

Kalau begitu, kita bagi-bagi tugas:
1) pemerintah menyediakan infrastruktur yang memungkinkan manusia
diperlakukan dengan baik dan adil;
2) kita membantu membangun karakter pemakai infrastruktur sehingga
usia fasilitas awet dan dipakai dengan efisien.

Bagaimana? ;-)


Sebenarnya perbaikan sedikit pada *sistem* sudah bisa memberi kontribusi banyak pada kenyamanan transportasi umum di Jakarta.

Beberapa contoh sederhana hasil perbandingan dengan kondisi di Bangkok sini.

1. Supir bus tidak dikenakan target setoran, tapi merupakan pegawai perusahaan armada bus. Prestasi supir dilihat dari rata-rata pemasukan seluruh supir dengan standar deviasi tertentu. Kalo jauh banget dibanding dengan pemasukan bus lain, baru kena masalah. Result >> supir tidak ugal-ugalan mencari penumpang.

2. Pintu bis hanya bisa dibuka oleh supir. Result >> penumpang tidak turun sembarangan, hanya ketika pintu dibuka.

3. Penumpang menerima karcis dimana tertera tarif yang harus dibayar berdasarkan peraturan, sesuai dengan jarak tempuh. Result >> penumpang tidak takut tertipu karena tarif yang dibayarkan jelas tertera di karcis.



--enda
Visit my blog. Click here
http://enda.goblogmedia.com

Kirim email ke