On 9/30/05, adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > On Fri, Sep 30, 2005 at 10:42:10PM +0700, G. Ramadhani wrote: > > Aniwei, kita tidak perlu paranoid dg teknologi nuklir krn satu saat cepat > > atau lambat, suka atau tidak suka, kita pasti akan memakainya. > > yo wis. yang penting bbm disubsidi dulu, soalnya reaktor nuklir > tidak bisa dibangun dengan pensil dan buku. buat bayar spp saja > bisa sekarat. > > btw, kayaknya masih banyak yang merasa 'kita harus berkorban, > menerima kenaikan bbm, demi kemajuan bangsa'. lah iya yang masih > sempat bisa berkorban. kalau yang sudah menjadi korban tergencet > bertahun-tahun masa masih mau disuruh berkorban. yang > diuntungkan
Iya mas Adi tapi seperti katanya Dono Kasino Indro maju kena mundur kena,siapapun yg jadi presiden pasti akan menghadapi dilema yang sama. Kalau sesuai yg diberitakan bahwa uang subsidi tinggal 9 trilyun sampai akhir tahun ini,ya gak ada pilihan kecuali kalau mau Rupiah merosot lagi jadi Rp. 15,000 ,atau 20,000 ? debt-rating Indonesia kacau balau,gak ada investasi,demo dimana2,inflasi. > perasaan kok tambah ruwet saja (ada/atau tidak ada pt sama saja). > kayaknya waktu kuliah cuman diajarin ngomong cas-cis-cus tapi > kerja nggak becus. Entar kalu punya anak udah gede disekolahin di India atau China aja,seriously... :) Gak usah bayar mahal untuk sekolah ke Amrik,toh kualitasnya mungkin sama. Carlos
