On 10/2/05, Ronny Haryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> On Sun, Oct 02, 2005 at 10:29:24AM -0700, Patriawan, Carlos wrote:
> > Indonesia bisa jadi jauh lebih maju kalau ada 1,000 atau 10,000 orang
> > Indonesia yang terlibat sesuatu dalam hal yang sifatnya inventif dan
> > research,entah di IT,biotech/drug discovery,energy tidak jadi masalah.
>
> Ini asumsinya mau stay di Indonesia dulu ya.

Sory,asumsi saya justru sebaliknya,maaf kalau kurang jelas :)

Investor(baca: majoritas) itu tujuannya cuman making money dan managed
risk,mereka gak punya interest untuk "memajukan" orang. Agar
proyek/company berhasil,mereka hiring experienced people,yang
kebanyakan dari India/China,etc .Mereka gak  invest IT di Indonesia
karena memang "belum kelihatan" secara global.

Intinya,harus kita dulu (baca: orang IT Indonesia) yang harus jauh
lebih agresif untuk  ambil jobs2 di luar itu,terutama yg berhubungan
dengan riset/R&D. Nah gw sendiri,karena pernah berada di perkembangan
dua paradigma ini,melihat masih banyak sebenarnya pekerjaan2 yang bisa
direbut dan dimanfaatkan org Indonesia,tapi mungkin karena kita(org
Indon) yg berada didalam negeri tidak bisa melihat(atau berani
mengambil) peluang tsb,akhirnya chance tsb hilang ....

Salah satu Contoh realnya begini,di persh saya sebelumnya,saya
terlibat pd pemindahan sebagian engineering group dari SV ke
bangalore(jadi bukan cuman outsourcing),kita interview org di
bangalore,etc..sampai kemudian total employee menjadi 100-200
orang,yang gw lihat,meskipun sebagian "top", tapi kebanyakan engineer
levelnya masih mid-level,yang menurut gw masih banyak bisa didapatkan
di Indonesia.

Cuman kan,untuk minta ke persh agar pemindahannya dilakukan ke
Indonesia sama saja dengan mission impossible (wong 1 company yang
indonesiannya cuman satu).

Nah kalau dilihat,mereka pindah ke India kan karena memang sudah
terbukti dari dulunya,nah "pembuktian" ini adalah efek tidak langsung
"0.5"% engineer(istilah dari email gw sebelumnya) satu dua dekade
sebelumnya  yang berani ambil kesempatan.


> Kayaknya semuanya balik
> ke duit deh. Maksudnya ya mencari pekerjaan research seperti itu atau
> mau memulai membuka lapangan kerja research itu perasaan kok lebih
> susah, pekerja udah kebelet ngasih makan ke keluarga, dan pemodal
> maunya yg cepet menghasilkan.

ini semua saya setuju,makanya asumsi saya sebenarnya export dulu,ini
strategi jangka panjaaaaaaang :)

> > Masalahnya di Indonesia,potensi dan talent tsb gak bisa berkembang
> > karena hal2 external,mau mengharapkan orang lain (dalam hal ini
> > pemerintah) untuk merubah keadaan ? no way.....yang bisa merubah
> > keadaan *saat ini* hanya kita sendiri yang bergerak mengadakan
> > perubahan.
>
> Saya assume yg anda maksud memulai perubahan ini either memulai
> research/inventing, or export talent seperti India dan China. Atau
> mungkin baiknya anda elaborate lagi mungkin gimana praktisnya kita
> bersama2 bisa memulai perubahan ini?
>

Di India,China dilakukan melalui "export talent" dulu selama
bertahun-tahun,terus mereka ambil experience/best practice .....lantas
satu-dua dekade kemudian,dari ilmu, pengalaman, best-practice dan
capital yang kita dapat,mereka re-invest ke negaranya masing2,jadilah
seperti sekarang.

Sorry kalau maksud saya kurang jelas diatas,tapi yg saya maksud memang
99% export.
Tapi yang saya tekankan bukan hanya exportnya,tapi agresifitas untuk
bisa melihat peluang worldwide.Tidak cuman bengong melototin harga
minyak,yah kemiskinan yang tercipta skrg adalah salah satu efek dari
gagalnya kita mengambil peluang2 tsb juga.

Calros

Kirim email ke