On 10/15/05, adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> On Fri, Oct 14, 2005 at 05:16:53PM -0700, Patriawan, Carlos wrote:
> > Yuuppe,ini intinya perbedaan pendapat kita:
> > -Per-Om Adi,West=evil power sementara menurut hemat saya tidak.
> > -Per-Om Adi,peningkatan kualitas SDM perananya kecil,sementara menurut
> > saya tidak.
> >
> > Ya kita masih mentok disini mungkin karena experience dan wawasan yang
> > berbeda atau sayanya kali yang masih kuper :)
>
> atau saya yang kuper? :-) atau maksud saya yang kurang bisa ditangkap?
> tentu saja kesimpulan/keinginan saya itu berkaitan dengan pengelolaan
> sumber daya alam. pengembangan sdm di satu sisi penting. tapi kalau
> pengelolaan sumber daya alam diembat 'mereka' habis-habisan, buat apa,
> misalnya, ITB meluluskan sarjana teknik perminyakan/kimia? cuman
> dijadiin kacung dengan gaji besar sehingga mereka bisa bilang: nih, udah
> gue kasih gaji besar, jangan cerewet mulu makanya :-) Kan lebih baik
> dikelola sendiri, kalau ada yang 'kurang' dengan sdm dan teknologi kita
> import saja, jadi gantian kita yang bilang: nih gue kasih gaji segitu,
> gedhe kan, kerja jangan cerewet, kalau kagak mau pulang gih. tapi yang
> terjadi justru cekereme yang dikirim kesini tapi gayannya kayak einstein
> dan inlander-inlander kita pada tiarap menghadapi orang kayak gini.
> petronas aja bisa. mereka bisa dengan bangga bilang: 'ini kita orang
> malaysia', kalau inlander-inlander kita mah lebih suka tiarap.
> postulat IMF misalnya, orang malaysia lebih suka bilang 'go away!', tapi
> inlander-inlander kita lebih memilih tiarap. terus kenapa bisa ada
> 'salah-salahan', ya jelas lah, selama berpuluh-puluh tahun rakyat cuman
> jadi obyek doang. makanya kalau usulan saya perlu ada mekanisme
> 'impeachment' dan standardisasi perhitungan public accountibility untuk
> semua institusi di negara kita ini. biar tidak ada yang bisa
> petentang-petenteng ngembat uang gedung sama spp seenaknya tanpa bisa
> 'digulingkan' karena tidak accountable.

Iya setuju,tapi kalau ngomong SDA,yang salah terbesar menurut saya
bukan Barat,tapi sebagian kecil **penguasaha** yang mega korupsi ambil
jatah negeri ini masuk ke kantongnya mereka.

Contohnya,tahun 1970an oil futures juga naik,amerika teriak2
kepayahan,nah waktu itu jumlah penduduk indonesia masih
sedikit,Indonesia masih jadi exporter minyak,kita kebanjiran duit,nah
dikala itulah,well as everybody know,mismanagement SDA terbesar
terjadi.Kalo gak salah waktu itu pameonya,sampai 100 tahun juga
kekayaan negeri ini gak habis-habis.Contohnya Pertamina habis-habisan
jadi mesin ATM untuk penguasaha dan birokrat didalamnya,paling besar
di jaman Alm. Ibnu Sutowo (yang 6 bulan lalu anaknya waktu
"minum-minum" nembak dan membunuh pegawai restorannya sendiri hanya
karena urusan "ketersinggungan").Well Duit haram gak bisa bikin orang
bahagia tooh.

Masalah Freeport,etc juga sama kalau dilihat dari sisi historisnya,dan
cerita lain2nya.Pasti ada hubunganya dengan "babeh" atau anak2nya
"babeh".

Intinya siapapun yang "kaya" SDA,selalu akan ada "kekuasaan luar" yang
berusaha untuk ambil keuntungan(gak cuman Barat,tapi juga begitu
katanya orang Aceh terhadap pemerintah Pusat).Kalau kita(dalam hal ini
orang tua kita) **lemah iman**,gak mikirin masa
depan,mega-korupsi,mismanagement/kongkalikong supaya regulasinya jadi
duit masuk ke kantong mereka sendiri,ya jadinya begini,aibnya terbuka
semua setelah 30 tahun.

Gw sebelum tidur membayangkan,kalau dulu "Babeh" "mandul",mungkin
Indonesia gak seburuk ini wajahnya ya... hehehhehe...btw,gw juga gak
berani nulis kayak begini 10 tahun yang lalu,kecuali orang2 PRD yang
militan dan ultra-left-wing :)

Sekarang situasinya "terlanjur basah",ya wess kalau negeri kita bisa
hidupkan 240 juta penduduk dimana 20% unemployed dan 30% penduduk
miskin,go ahead with nasionalisasi dan sebagainya,tapi jika tidak,mari
kita turut membantu pemerintahan SBY.Gua cuman liat Indonesia ini ada
harapan untuk maju dalam satu atau dekade kedepan setelah Presidennya
Megawati dan SBY.

Terus terang gua setuju dengan hampir semua kebijakan SBY (regardless
IMF's or not)
kecuali pajak bandwidth.


Carlos

Kirim email ke