adi wrote:
> tapi yang paling menyedihkan justru anda berkali-kali bilang kita ini > idiot-idiot-idiot-dan-idiot, dan 'mereka' lebih baik. masalahnya saya > lebih suka kalau keidiotan kita bisa diperbaiki. itu namanya masih punya > harapan boss :-) orang kalau sudah tidak punya harapan lagi, ya sudah. > saya tidak berargumen bahwa kita ini "idiot" dan mereka lebih dari kita. Saya tidak sependapat dengan opini dimana "mereka" tidak boleh berusaha disini dan lebih baik kita saja yang berusaha. Point saya, saya tidak peduli siapa yg jadi pengusaha, yang penting ada investasi masuk, menggerakan ekonomi dan menyerap tenaga kerja. Itu aja yang penting. Mau pengusahanya itu namanya buyung atau james, semuanya sama karena tujuan pengusaha adalah mencari untung. Sebetulnya ada satu yg sama mau tanya dan "ngajak" om carlos dengan cerita2 nya ttg "Valley" dan kawan2nya. Kapan dong 'om mencoba untuk menggerakan IT di Indonesia paling ngak coba2 dong ajak kawan2 untuk naruh BPO (Business Process Outsource) unit mereka ke Indonesia. Kalau cuman om aja yg "kaya" dan maju kan, dunia ini sama aja antara ada carlos atau tidak ;p Tapi kalau ngomongin BPO, Malaysia jadi incaran pertama untuk Asia Tenggara karena banyak 'labor' yg bisa bahasa inggris dan biaya hidup yang tidak teralu mahal dibandingkan Singapore. Tapi gimana yah supaya masyarakat Indonesia (paling tidak jakarta lah) untuk lebih bisa dinaikan lagi "english literature" jadi paling ngak ada nilai jualnya dikit lah. btw, beberapa lowongan di jobsdb sepertinya sudah ada perusahaan outsource callcentre untuk webhosting tapi untuk telemarketing. --alex
