> Sebetulnya ada satu yg sama mau tanya dan "ngajak" om carlos dengan
> cerita2 nya ttg "Valley" dan kawan2nya. Kapan dong 'om mencoba untuk
> menggerakan IT di Indonesia paling ngak coba2 dong ajak kawan2 untuk
> naruh BPO (Business Process Outsource) unit mereka ke Indonesia. Kalau
> cuman om aja yg "kaya" dan maju kan, dunia ini sama aja antara ada
> carlos atau tidak ;p

Well there's nothing special about me Sir,orang yg wawasan,pola
pikirnya & teknis actionya mirip2 dengan apa yang saya tulis di milis
ada ratusan ribu jumlahnya di valley,yang beda cuman asalnya,kalau
mereka datang dari "Tamil" ,"Andhra Pradesh" ,"Bihar" atau
"Mumbai",saya dari Jakarta.

Ada 2 pengalaman yang terkait nich:
1. Doeloe banget waktu ada rencana vendor/persh gw sebelumnya untuk
buka R&D Centre di Banaglore gua shocked dan protest.Ini bener ? masak
gaji fresh graduate kalau dirupiahin 10-13 juta-perbulan ? Gua protes
dan bilang kalo standard penggajianya terlalu tinggi dan jika India
(waktu itu) dianggap murah,company bisa hire double  resources di
Indonesia dibandingkan di India jika patokanya gaji.Dengan santainya
bos gua bilang: How many Carlos we could get in Indonesia ? Sampai
pertanyaan ini gua kabur karena memang tidak bisa jawab (jangan ketawa
atau dijadikan joke ya karena ini memang bener2 kejadian).

2. Di Lain waktu,gua lobby habis2an supaya orang Indonesia (yang
bener2 tinggal di Indonesia) di-interview,gua dah bilang sich ke
kandidatnya,elo kalo mau coba masuk,harus expert dibidang teknis,persh
disini doesn't give too much s**t about your background/education as
long as you could get the job done,jadi pertanyaanya akan selalu  di
bidang teknis sampai hal2 yang sangat dalam dan tidak ditanyakan di
Indonesia.Walhasil,dari 4 orang yang kita lakukan phone
interview,tidak ada satupun yang lolos.Feedback mereka thd interview
rata2 sama,mereka bialng pertanyaanya sangat sulit,tidak ada persh di
Indonesia yg bakal interview kayak begitu dan kedua,pekerjaan mereka
lebih cenderung ke "sales" jadi gak terlalu tahu yang detail-detail.

Kalau hal per-BPO-an/outsourcing process,etc ..,itu teh Pak Budi
masternya,saya kurang tahu detail teknisnya dan proses apa yang harus
dijalankan.Yang saya bener-bener tahu justru sebaliknya,how to export
people to come to valley and which startup goes to IPO next year :-)

Tapi dari Dua pengalaman diatas:
-"Get The Job Done" should be number priority.No excuse.
-Think Globally Act Globally.Seringkali karena kita terpesona dengan
sikon di tanah air dan baca/tulis 1001 analisa dari Gatra sampai Pos
Kita, kita malah jadi lupa untuk bener2 belajar dan imlementasi teknis
dan lupa tentang *sense of urgency* (yah mungkin karena industri R&D
kagak ada,jadi kebanyakan orang cuman mikirin "sales" doang).

Saya 1000% pendukung opini "sense of urgency"-nya Pak Budi di blogs
GBT.Inget gak waktu kemaren ini gua posting ada artikel dari NY Times
bahwa orang amerika  saking takutnya dengan anak2 muda dari Bihar dan
Andhra Pradesh ini,mereka sampe bilang keanaknya: Kerjakan PR
matematikmu Nak,kalau tidak,kamu bakal kelaparan karena semua
pekerjaanmu nanti diambil orang2 India.
Yah Points2 BBR dicermatilah,jangan cuman jadi wacana di mailing-list
saja,it may save this nation.Point well taken Sir.

Carlos

Kirim email ke