On 10/26/05, Budi Rahardjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> On 10/26/05, Patriawan, Carlos <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Mau tanya,apakah memungkinkan development (bukan small outsourcing)
> > seperti diatas bisa dimulai tanpa mempunyai SDM
> > extra-kualified/berpengalaman dulu di"sono" bertahun2 ?
>
> Kalau dilihat dari contoh yang dikemukakan Friedman,
> jawaban singkatnya adalah bisa!
>
> Masalah yang utama adalah masalah trust.
> Bagaimana menimbulkan sebuah kepercayaan (trust) kalau
> belum pernah ketemu? Bisa sih bisa, akan tetapi akan
> lebih mudah kalau sudah memiliki hubungan baik.
> Nah, yang ini bisa terbentuk dari perkawanan.
>
> Kalau kita mau meng-outsource pekerjaan, secara logis
> kita akan outsource kepada orang yang kita kenal kan?
> Itulah dia mengapa US companies berani mengoutsource
> ke India karena mereka pernah kenal (bahkan cukup lama
> kenal) orang India tersebut.

Sekarang ini trendnya bukan outsourcing lagi,tapi pindah/relocation
R&D Total ke India terutama untuk pengembangan software.Ini yang belum
kita perhitungkan atau diskusikan.

Kalau outsource kan seperti BPO,yang menjalankan BPO-nya persh lain
yang terima sub-kontrak.Sementara kalau relocation itu ya sebagian
atau semua kapasitas engineering resources (10% s/d 100%) dipindahkan
total ke India,jadi tidak ada third party disitu.
Contohnya saja,persh seperti HP,Juniper,IBM itu sudah punya
fully-independent R&D Center di Bangalore dan bukan berupa
outsourcing.Kalau Cisco-kan masih setengah-setengah(via
HCL).Kebanyakan persh finansial masih outsourcing-typed.

Jadi ada 2 pilihan untuk persh yg ingin cost-reduction: Outsourcing
atau Relocation.

Masalah praktisnya untuk relocation adalah: outsourcing jauh lebih
mudah dilakukan,contohnya untuk software company,yang di India hanya
mengerjakan software maintenance release saja,responsible thd stable
software,small bug fixes,terima TAC calls,etc,tapi untuk persh. yang
ambil pilihan untuk "relocation" itu jauh lebih sulit,karena semua
proses yang sudah ada di AS harus dicopy ulang di India dan mereka
harus responsible dengan new software,new products,design software
architecture dari awal,etc yang mana human resource qualificationya
harus *match* dengan qualification yang ada di US,dan ini teryata
sangat sulit ditemukan (even in Bangalore)--Bahkan Google starts di
Bangalore dengan hanya sepuluh employees waktu kemaren
buka,requirement mereka sangat tinggi.

Makanya yang saya lihat sich,untuk model ini masih tetap kebanyakan
"lead" di management dan technical aspeknya masih dipegang orang2 yang
punya experienced bertahun2 mengerjakan hal yang sama di US.

Untuk buku Friedman,mungkin authornya lebih banyak fokus ke
outsourcing,padahal sekarang ini yang terjadi adalah fully relocation
ke India,yang tantanganya (untuk persh) double dibanding sekedar
outsourcing.


Carlos
ps:kemaren iseng2 omong dan dapat info kalau di India melalui VoIP ada yang buka
bisnis "remote personal secretary",nah kalo ini mungkin Indonesia bisa
ambil nich :)

Kirim email ke