On 10/25/05, Patriawan, Carlos <[EMAIL PROTECTED]> wrote: ... > Ada 2 pengalaman yang terkait nich: > 1 ... > How many Carlos we could get in Indonesia ?
Persis! Orang di sono tidak begitu peduli asalnya orang darimana asal bisa mengerjakan pekerjaan. > 2. Di Lain waktu,gua lobby habis2an supaya orang Indonesia (yang > bener2 tinggal di Indonesia) di-interview, ... > Walhasil,dari 4 orang yang kita lakukan phone > interview,tidak ada satupun yang lolos. Pengalaman saya melakukan interview untuk perusahaan2 di Indonesia juga sama. (Saya beberapa kali di-hire untuk melakukan recruitmen di perusahaan yang cukup besar.) Rata-rata, kualitas teknisnya sangat kurang. Dari 75 orang yang diinterview, paling-paling yang bagus hanya ada 3 orang! Ada lagi pengalaman saya (dulu sekali) mengirimkan orang ke Malaysia untuk outsourcing. Ternyata pulang lagi karena orangnya agak manja :( Gak mau kerja agak keras sedikit dan homesick. Padahal ini Malaysia lho. (Kebayang kalau saya kirim dia ke Amerika.) > Kalau hal per-BPO-an/outsourcing process,etc ..,itu teh Pak Budi > masternya,saya kurang tahu detail teknisnya dan proses apa yang harus > dijalankan. Yang jelas harus ada kemampuan mempartisi (membagi-bagi) pekerjaan, mendistribusikan, kemudian mengintegrasi kembali. Kita tidak punya kemampuan itu. Ini yang dimiliki oleh rekan-rekan kita di India. (Jagonya jelas seperti Tata, Wipro, Infosys.) Saya masih belajar dalam skala yang sangat kecil :( Hanya untuk perusahaan Indonesia pun sudah sangat sulit. Kayaknya harus magang dulu di Infosys. he he he. > Yang saya bener-bener tahu justru sebaliknya,how to export > people to come to valley and which startup goes to IPO next year :-) Langkah ini dulu dilakukan oleh India. Dulu kita mengenalnya dengan istilah "body bags" :-) Berapa orang (India) yang bisa dibawa ke sono? [Kebetulan dulu saya pernah mau buat perusahaan dengan seorang India waktu di Kanada dulu. Sudah sempat muter2 cari venture dari komunitas India. Dan sesungguhnya dapat!] Hanya, pendekatan ini sekarang sudah tidak se-critical dahulu. (Baca buku Thomas Friedman, "The World is Flat") Sekarang hal tersebut dapat dilakukan langsung melalui Internet tanpa perlu melalui pendekatan "body bags" dulu. > Tapi dari Dua pengalaman diatas: > -"Get The Job Done" should be number priority.No excuse. Agreed! > -Think Globally Act Globally.Seringkali karena kita terpesona dengan > sikon di tanah air dan baca/tulis 1001 analisa dari Gatra sampai Pos > Kita, kita malah jadi lupa untuk bener2 belajar dan imlementasi teknis > dan lupa tentang *sense of urgency* (yah mungkin karena industri R&D > kagak ada,jadi kebanyakan orang cuman mikirin "sales" doang). Yup! > Saya 1000% pendukung opini "sense of urgency"-nya Pak Budi di blogs > GBT. Inget gak waktu kemaren ini gua posting ada artikel dari NY Times > bahwa orang amerika saking takutnya dengan anak2 muda dari Bihar dan > Andhra Pradesh ini,mereka sampe bilang keanaknya: Kerjakan PR > matematikmu Nak,kalau tidak,kamu bakal kelaparan karena semua > pekerjaanmu nanti diambil orang2 India. Hal yang sama terjadi di Indonesia. Pekerjaan orang2 di Indonesia akan diambil orang2 dari India, Vietnam, China, dan ... bahkan Bangladesh! (Untuk yang India, sudah terjadi.) Tren sudah terlihat. Dahulu, bandwidth Internet ITB merupakan yang terbesar di kawasan Asia Tenggara (excluding Singapore). Akhir tahun ini, kita akan mendapat 45 MB. Tapi ... sebuah universitas di Vietnam akan mendapat > 100 MB! Dengan kata lain ... akhir tahun ini, Internet di ITB akan menjadi yang paling kecil di Asia Tenggara. Padahal ... kita akan 45 MB! Mudah-mudahan rekan-rekan memahami "sense of urgency"nya. Akhir tahun ini kita akan ketinggalan dari ... Vietnam!!! Sebagai catatan, India baru membuka ekonominya di tahun 1991! Ya. Hanya baru-baru ini. Demikian pula China juga baru2 ini. Ayo ... kita mulai disalip oleh semua negara di Asia Tenggara. Mungkin hanya Laos saja yang belum menyusul kita? > Yah Points2 BBR dicermatilah,jangan cuman jadi wacana di mailing-list > saja,it may save this nation.Point well taken Sir. Ya. Let's do something about it. -- budi
