--- Oskar Syahbana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> On 11/13/05, James A <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >
> > --cut--
> >
> > Bicara kultur dan budaya, ini cakupannya "sangat mendalam", membawa kita
> > ke zaman kakek nenek
> > moyang kita zaman dahulu hingga sekarang.
> >
> > Apakah benar "sejak dahulu" (budaya) bangsa Indonesia "potretnya" seperti
> > yang disebutkan Carlos
> > ...
>
> Nyambung dikit ah :-). Kalau dilihat dari jaman nenek moyang Indonesia sampe
> yang dulu - dulu, maka potret kebudayaan kita:
>
> 1. Makan bangsa sendiri. Ya itu, mandor - mandor tanah yang biasanya
> nilep duit pengolahan tanah, padahal duitnya sendiri udah dikit. Belum lagi
> bangsawan - bangsawan tukang tanah yang menerapkan rodi buat memenuhi
> target
> sang kompeni.
> 2. Penjilat. Masih ada hubungannya sama yang di atas, rodi supaya
> hasilnya banyak, jadi anak emasnya kompeni.
> 3. Individualistis. Penjajahan yang ada di Sumatra, ya bukan urusan
> orang di pulau Jawa. Makanya bisa sampe 3,5 abad dijajah...
> 4. Rendah diri. Menganggap kaum kulit putih bak dewa... makanya, bisa
> dijajah 3,5 abad.
>
> Itu kalo mau dilihat nenek moyang. Mending kita ngelihat realita sekarang:
>
> 1. Tahan banting. Tukang jualan nasi goreng di deket rumah saya dari
> sebelum krismon sampe sekarang tetep aja tuh bisa hidup dari cuma jualan
> nasi goreng. Anak - anaknya malah bisa kuliah (sebagian besar biaya
> beasiswa
> sih), tapi ya... hard knocks.
> 2. Pekerja Keras. Coba deh ke pasar... itu biasanya mereka tutup udah
> malem (ya setidaknya pasar di Suci deket rumah saya gitu), eh pas jam 3
> pagi
> lewat situ, udah mulai buka lagi. Padahal saya yakin rumahnya jauh - jauh
> dan sebagian besar memakai kendaraan umum. Bayangkan yang itu.
> 3. Suka berbagi. Ada seseorang penjaga masjid (juga deket rumah ini)
> yang tiap hari bisa aja nyumbang buat infaq, padahal saya yang jelas -
> jelas
> lebih berkecukupan engga sampe sebegitunya... (jadi malu sendiri...)
>
> Jadi indikasinya, memang engga semua orang Indonesia yang seperti dikatakan
> mas Carlos. Tapi mas James, kita tidak bisa menutup mata kalau memang
> seperti itulah kondisi bangsa ini sekarang. Rakyat kecilnya justru lebih
> memiliki nurani daripada kita - kita ini.
Ha..ha..ha :) Makanya, menurut saya, tidak tepat kalau masalah kultur budaya
ini sampai dijadikan
kesimpulan atau generalisasi (stereotype). Agak gimana gitu ya, masa diskusi
tentang "sharing"
lalu gebyah uyah bahwa kultur budaya bangsa Indonesia seperti yang ditulis
Carlos.
Kalau memang ada sekelompok orang yang bertingkah seperti itu (seperti yang
ditulis Carlos), apa
bisa itu mewakili kultur budaya Indonesia? :)
Mungkin penggunaan istilah "kultur" ini yang tidak tepat, seharusnya pakai
istilah "sifat" ?
Karena menurut saya, "sifat" lebih berkesan "individu". Loh kok malah membahas
masalah bahasa :)
J.
__________________________________
Yahoo! Mail - PC Magazine Editors' Choice 2005
http://mail.yahoo.com