On 11/21/05, Pakcik <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
...
> ada perkumpulan (tempat tukar2 informasi) dari yang bikin SOFTWARE2
> KECIL ini nggak? menurut gue, ini yang REAL di depan mata. kenapa ini
> gak DIRAME kan? biar jadi industri.
...

Ada, tapi saya amati beda bentuknya dengan di LN.

Kalau di LN, orang2 yang seide dan sependeritaan ini
kadang2 ngumpul2 di kampus (sewa ruangan) dan diskusi.

[Sejarah] Dulu Homebrew computer club yang sering ngumpul
di Stanford merupakan tempat untuk orang2 ngoprek.
Dari sini muncul eksperimen dengan Altair dan ...
munculnya Apple computer.
Aura yang ada dalam pertemuan tersebut adalah:
- apa yang bisa saya perbuat
- "show off"; nih saya bisa ini, kamu mau?
  Am I a great guy (helping you)? he he he.
- cerita tentang pengalaman (baik *DAN* buruk)
Jadi ... semua mendapatkan manfaat

Kalau di Indonesia, ketika kita kumpul2  ...
kebanyakan yang datang *MINTA DISUAPI*.
Mereka datang kemudian bertanya, "saya dapat apa?"
Dalam pertemuan BHTV pun saya mendeteksi aura ini.
Kalau nggak dapet apa-apa (dalam jangka dekat),
ngapain saya ikutan ini.
Padahal dalam pertemuan seperti inilah timbulnya
ide, bisnis, sparks, etc.



> Kebanyakan yang bikin software2
> kecil ini, ada sekarang, besok2 udah bubar.  Karna biasanya anak2 muda
> yang baru lulus atau belum lulus kuliah yang bikin. Belum ada
> pengalaman. Perlu di arahkan biar jangan mati.

Setuju. Tapi ... harus sabar.


> Gue orang yang percaya sama "URUTAN".  Bahwa itu harus dimulai dari
> pengembangan manusianya.  Di Silicon valley dulu gak ada Google,
> Microsoft, dan lain2 itu. Manusianya yang bikin itu. Dulu gak ada
> infrastruktur bagus disana, manusianya yang bikin.

Are you sure? he he he.
Contohnya manusianya yang dibikin dulu itu gimana?

Memang bedanya antara Silicon Valley dan tempat2 lain di dunia
adalah mereka fluid (pindah sana sini).
TIDAK HARUS mereka menciptakan orangnya sendiri.
Yang penting, orangnya ada.
Contohnya, yang dekat2 ini ... ya si Carlos ini.
he he he.
Dia kan bukan buatan/didikan Silicon Valley, akan tetapi
perusahaan di sana ambil dia juga. They don't really care
if you graduated from Stanford or Nigeria.
As long as you can get the job done, we'll hire you.


Saya bukan berniat untuk mengecilkan peranan pengembangan
SDM lho. Justru sebaliknya, salah satu kunci keberhasilan
sebuah daerah dengan industri teknologinya adalah adanya
mekanisme untuk melakukan pengembangan SDM.
Ini bisa lewat perguruan tinggi, training, research, dan
ambil dari tempat lain. Yang penting, ada SDM-nya.
(Itulah sebabnya saya tidak yakin Balicamp sukses karena
sulit menghasilkan SDM di sana. Of course, this is a
hindsight evaluation.)
Jadi saya lebih yakin *BANDUNG* is the place.
The ingredient (yaitu SDM generator) sudah ada!
Yang kurang, justru ketidak adaanya MNC!


> Jadi ini kritik saya buat BHTV. Mendatangkan Google, Microsoft dan
> lain2 itu bukanlah prioritas. Gak perlu diharap2kan.

Maaf, Anda salah untuk hal ini.
Justru ini yang tidak ada di Bandung.

Wired magazine berkali-kali memebuat evaluasi mengenai
tempat2 yang mau nyontek Silicon Valley di seluruh dunia.
(Ada banyak yang mau seperti ini, bukan hanya Bandung.)
Mereka membuat 4 kriteria:

•       the ability of area universities and research facilities  to train
skilled workers or develop new technologies;
•       the presence of established companies and multinationals to provide
expertise and economic stability;
•       the population's entrepreneurial drive to start new ventures;
•       the availability of venture capital to ensure that  the ideas make
it to market.


Kalau diperhatikan, salah satunya adalah:
"the presence of established companies" ...
Ini yang tidak ada di Bandung, yang membuat saya ngotot.

Mengapa ini penting?

Well, start-up (di bidang apa pun, termasuk IT, biotech,...)
memiliki resiko yang tinggi. Siapa yang sanggup meng-
absorb resiko yang tinggi ini? Ada dua:
- perusahaan besar tersebut
- pemerintah (dengan research grants)

Ceritanya begini.
Kalau misalnya saya buka start-up kemudian gagal,
kemana orang2 saya harus pergi? Sayang kalau orang2 ini
dilepaskan. Mereka bagus, tapi saya gak punya dana untuk
keep mereka. Caranya ...
saya "titipkan" di perusahaan besar tersebut.
Mereka bisa bekerja ke Google tersebut, sampai saya punya
ide lagi dan punya dana untuk memulai start-up lagi.
Orang2 tsb. saya tarik lagi dari Google :D
Cara lain adalah, orang2 ini saya "titipkan" di research
center yang mendapat dana (grant) dari Pemerintah untuk
meneliti sebuah hal tertentu.

Nah, di Silicon Valley keduanya ada. Ada perusahaan besar
yang bisa menjadi "bemper" kalau start-up kita pingsan!
Ada juga research grant dari DoD, dst.

Lihat saja, si Carlos. Perusahaan start-up dimana dia kerja
tutup. Dia bisa pindah ke tempat lain. Gak perlu pulang
ke Indonesia. Bagi Silicon Valley ini sebuah keuntungan
karena mereka tidak perlu memulangkan Carlos dan jika ada
sebuah ide baru lagi, mereka tinggal tarik Carlos.
Kepentingan adalah kepentingan bersama, bukan kepentingan
sebuah perusahaan.


Hal kedua yang penting dari adanya MNC ini adalah ...
pengalaman bekerja (yang saya sebut proses dalam email
sebelumnya).
Ya, kita ini pinter2 bikin program karena kita belajar
di kampus dan magang di perusahan ... atau apa pun.
Saya pun pernah sekolah di LN, jadi tahu yang namanya.
sekolahan di Indonesia dan LN. Banyak orang yang seperti
kita-kita ini.

Tapi ...

berapa banyak orang yang pernah bekerja di perusahaan
besar (dan bahkan terlibat dalam proses non-teknis,
also known as managerial)???
Pengalaman dalam proses ini-lah yang kita masih miskin,
yang orang India kaya! Banyak mereka yang sudah pernah
(dan masih) bekerja di Silicon Valley.

Ada dua cara untuk menyikapi hal ini:
1. Kirim orang Indonesia ke luar negeri dan bekerja
   di perusahan, *BUKAN SEKOLAH*
   Contoh: Carlos, MDAMT, ...
2. Bawa perusahaan tersebut ke Indonesia.
   Harapannya lebih banyak orang Indonesia yang
   bisa "belajar/sekolah" di perusahaan ini.

Jadi, adanya perusahaan seperti Google, Microsoft, IBM, dll.
di Indonesia ini *PENTING*.
Tujuan kita bukan mereka untuk jualan di Indonesia,
(Peduli amat untuk urusan ini. Itu urusan mereka.)
Kepentingan kita adalah mereka di sini untuk kita pelajari.
Kita magang dengan proses yang mereka terapkan di perusahaan
mereka, to get the job done.

Mudah-mudahan kebayang dengan uraian saya yang singkat
ini. (Saya lagi mau nulis buku tentang hal2 ini.
Tapi kagak selesai mulu. Kebanyakan proyek dan kebanyakan
baca/nulis email dari/ke teknologia ini he he he)


> ada data berapa jumlah developer di Indonesia gak pak Budi?

Nah ini juga salah satu kerjaan di BHTV :(
Kita sudah mencoba mendata terus, tapi jatuh bangun terus.
Kita ingin tahu *dan* memantau perkembangannya.
Maksudnya kita ingin tahu: nambah? kurang? berkembang? mati?
skala? dsb.
Kita menanyakan ke perusahaan2 mengenai SDM mereka.
Jumlah S3? S2? S1? D3? D1? tidak bergelar? ...
revenue total, dsb.
Semua ini untuk mengukur tingkat "kesehatan" regional dalam
industri software. Sayangnya, susah ...
Tapi kita akan coba terus. Pantang mundur!

(Lihat di web BHTV:  http://BHTV.info  mengenai dokumen ini)




> Dulu baca berita, katanya pemerintah menyiapkan 300 hektar di cikarang
> untuk microsoft research center. 300 hektar? mau ngapain? nanam
> singkong?

Kalau bagi saya, bukan luasnya ... yang penting lokasi.
Kedekatan Microsoft Research Center dengan perguruan tinggi
(misal ITB), *SANGAT PENTING* karena mereka saling terkait.
Kalau Microsoft Research Center ada di Jababeka, misalnya
(seperti yang diusulkan), saya yakin gak bakal berhasil.
Coba deh ... saya tanya: diantara Anda ini ada yang mau
kerja di Jababeka? he he he...

Lain ceritanya kalau misalnya Microsoft Research Center
ini terletak di Jl. Dago (atau bahkan Kebon Bibit,
tempat anak2 kos) di Bandung . he he he.
Pasti *BANYAK* yang mau.
Dan isinya *pasti* banyak mahasiswa.
Pagi dia kuliah di kampus. Malam dia nongkrong di pusat
penelitian, ngoprek (karena fasilitasnya jauh lebih bagus
dari kampus, internetnya zoot zoot zoot ngebut, kopi ada
terusss, dll.)
Dijamin, mereka gak pulang ke rumah/tempat kos-kosan.
Hidup mereka akan didedikasikan ke ngoprek.
(Mudah2an ngopreknya jadi produk / servis ... )



> Jadi kita hentikan lah mimpi di siang bolong beginian.

Yang saya utarakan itu bukan sekedar mimpi asal-asalan lho.
Ada teori dan prakteknya (pengalaman).
Sayangnya, banyak orang yang tidak mengerti filosofinya,
kemudian menjadi selebritis ... he he he.

Jadi mereka nggak ngerti mengapa Google, Microsoft, dll
harus ada di Bandung! (bukan tempat lain)
There is a reason for this. ;-)


> Kalau kita mau
> maju IT nya, ayo kita  rame kan apa yang REAL
> di depan mata kita.

Kalau yang di depan mata adalah short term bikin
accounting software semua, saya yakin bakalan tetap
seperti itu seumur hidup. he he he.

But, prove me wrong!
Saya tetap terbuka dengan segala ide.

Tapi ... harus ada alasan atau logika di belakangnya.



> Gue lebih senang kalau kita ekspos perusahaan2 kecil
> itu. Tunjukkan bahwa kita berkualitas lewat perusahaan2
> kecil itu. Kalau kita udah rame di
> Indonesia, perusahaan2 raksasa itu akan datang
> dengan sendirinya.

I don't think so. Mereka tidak akan datang dengan sendirinya.
- Apa bedanya kita2 ini dengan Vietnam misalnya?
- Apa kita tidak ingin ber-strategi dan mencoba memahami
  apa yang menyebabkan Silicon Valley sukes, kemudian
  India (dan sekarang China) sukses?
Harus ada effort yang terstruktur dari kita...


Eh, bukan maksud saya untuk mengecilhatikan rekan2 lho.
Justru kita tukar menukar ide, teori, pengalaman, sehingga
kita menjadi lebih kaya dengan pengetahuan & pengalaman.

Keep 'em (ideas, opinions) coming...


-- budi

Kirim email ke