On 11/23/05, Muhamad Carlos Patriawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>  walau sering dg
> asumsi "ah itu khan cuma masalah sosial dan sejarah:", Dan bukannya dari
> dulu kita udah banyak kirim orang teknis ke luar ?, belajar ini dan itu.

Banyak kirim ini dalam pengertian "dikirim lembaga(dibiayai gov)" atau
"kirim/datang dengan sendirian ? (biaya sendiri)"


Terserah mo dikirim lembaga, atau pas lagi belajar atau pas lagi jalan-jalan. Yang penting apa yang dilakukan. 


Apakah yang dimaksud yang pertama Pak Made ?

Kalau iya,yang dimaksud Pak Budi -->
orang teknis datang atas biaya dan kemauan sendiri untuk keperluan
Bekerja
(dan bukan belajar).Tidak membuang Devisa negara malah nyumbang devisa

Jalan-jalan liburan biaya sendiri juga ndak buang devisa negara :-)  Intinya, kita jangan hanya terpaku kepada situasi teknis, finansial saja.  Tapi coba kita explorasi faktor non teknis "jiwa" dari situasi itu.

BTW, saran saya baca beberapa artikel di AI dan Society, yg tiap edisi membahas perkembangan industri TI di beberapa negara.  Rata-rata ditulis oleh ethnographer dan orang teknis (bareng nulisnya).   Tentu saja yg dibutuhkan adalah studi semacam ini tetapi tanpa lepas dari dunia nyata yang ada di Indonesia.  Dengan kata lain tidak sekedar bermimpi dan di awang-awang.

IMW

Kirim email ke