On 12/22/05, Muhamad Carlos Patriawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Justru karena tidak terlepas dari faktor moral,agama,etc tersebut > itulah yang membuat saya bertanya,apakah mungkin ada stem cell research > di Indonesia ?
Sebetulnya ada dua faktor yang bisa dipisahkan: 1. penelitian yang berhubungan dengan manusia 2. penelitian yang berhubungan dengan agama Untuk yang nomor 1, di luar negeri ada batasan - atau lebih tepatnya panduan - untuk melakukan penelitian yang melibatkan manusia. Kita tidak bisa seenaknya saja melibatkan manusia sebagai obyek penelitian. (Soalnya waktu S2 dulu penelitian saya banyak melibatkan manusia. Maklum di biomedical.) Tujuannya adalah agar berhati-hati. Nyawa dihargai mahal di sana. Nah, kalau di Indonesia, yang nomor (1) itu tidak masalah! Hah?!? Betul. Di Indonesia, manusia tidak dihargai dan bisa dijadikan kelinci percobaan (untuk obat misalnya) dengan mudah dan murah. Saya pernah ketemu dengan seorang ahli hukum yang ingin menggugah orang2 Indonesia (dan hukum) agar penelitian yang melibatkan manusia (sebagai obyek) perlu diberi pagar2. Jadi ... sebetulnya Indonesia ini lahan bagi penelitian, ... sebagai kelinci, oops bukan, sebagai manusia percobaan. Untuk yang kedua (2), soal yang nyerempet agama, bakalan sama susahnya di Indonesia. Di Indonesia dan di Amerika, ada massa yang very religious - aka garis keras yang militan. Barrier ini yang mungkin tidak ada di Korea Selatan sehingga mereka menjadi nomor #1 dalam penelitian ini. PS: mungkin ada yang bisa menjelaskan issues yang terkait dengan stem cells dan agama sehingga rekan2 di sini bisa lebih memahami. (I don't have the time to do it ... he3x.) Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mencari obat penyakit parkinson, misalnya. (Mengerti ini waktu membaca biografinya Michael J. Fox yang bintang film itu.) -- budi
