>On Thu, Dec 22, 2005 at 07:08:06AM +0700, Budi Rahardjo wrote: >> Nah, kalau di Indonesia, yang nomor (1) itu tidak masalah! >> Hah?!? Betul. Di Indonesia, manusia tidak dihargai dan bisa >> dijadikan kelinci percobaan (untuk obat misalnya) dengan mudah >> dan murah. Saya pernah ketemu dengan seorang ahli hukum yang >> ingin menggugah orang2 Indonesia (dan hukum) agar penelitian >> yang melibatkan manusia (sebagai obyek) perlu diberi pagar2.
Ya, saya juga membaca artikel, yag membeberkan bagaimana vaksin baru itu di uji coba dulu di negara2 "bekembang". Kadang uji cobanya bisa sampai 20 tahun, sebelum kemudian bisa dipasarkan di negara "maju". Mungkin muka orang Indonesia semuanya kayak kelinci yang imut-imut :) jadi ingat kasus yang baru saja terjadi; beberapa hari yang lalu, sekolah anak saya mengirimkan form persetujuan vaksinasi DDT-TT untuk anak saya. Berbeda dengan orang tua lainnya, saya telpon dulu sekolahnya - DDT-TT itu vaksinasi apa ? Ternyata, koordinator program vaksinasi tsb juga tidak tahu vaksinasi apa itu ! *speechless* Tentu saya kemudian saya melarang anak saya untuk disuntik pada event tsb :) kalau yang disuntikkan ternyata <paranoid>racun yang membunuh pelan-pelan ?</paranoid> Orang kita kelihatannya masih sangat pasif / 'nrimo ya, tapi yang seperti ini sih sudah keterlaluan banget. Salam, Harry
