On Sun, Dec 25, 2005 at 05:51:42AM +0700, Budi Rahardjo wrote:
> he he he. wah kalau diskusinya mau syntax atau semantics,
> ntar kayak diskusi dengan "pakar" dong.
> apakah "mudah == tinggal tunjuk"?

isu 'mengabuse manusia indonesia' itu bukan soal syntax :-)
kalau ditemukan ternyata perangkat perundang-undangan belum benar-benar
melindungi hal ini, justru itu perlu diangkat dan dijabarkan secara
eksplisit, untuk dicari solusinya (kalau benar ada masalah).

> nah ini dia. mengapa harus pakai duit rakyat indonesia?
...
> apakah kalau penelitian di indonesia harus didanai oleh indonesia?
> hanya, saya mengusulkan agar kita jangan sampai menjadi pengganjel.
> belum apa-apa, sudah mengganjel. gitu maksud saya, mas adi.

sebenarnya saya ini ndak boleh nulis lebih dari 10 baris, haram
hukumnya. kalau dipaksakan jadinya ngaco :-)

rekayasa genetika adalah jargon payung. kalau itu diarahkan ke bidang
kesehatan, nah .. jelas aneh. kenapa? lah untuk PR yang *real* di depan
mata saja belum sanggup, sampai dibelain ngutang (yang secara holistik
ini seperti menggali lubang kubur sendiri). kalau toh ada orang jenius
yang pinter dan bisa meraup dana ratusan trilyun untuk mengembangkan *R&D*
dibidang kesehatan, kenapa tidak diarahkan saja untuk menggempur masalah
yang sudah jelas-jelas jadi momok? kurang logis? :-)

gini deh contohnya, dulu saya membantu mengajar metode analisis data
untuk kesehatan masyarakat (dan epidemologi) menggunakan epiinfo
(program analisis data epidemologi dan kesehatan masyarakat bikinan CDC
dan WHO). saya sudah berbusa-busa ngomong dari A-Z soal underlying
assumptions dst..dst.. begitu selesai ngomong dan lemes (kenapa ya kalau
'ngajar' perut jadi keroncongan?) berikut memandu dengan contoh-contoh
dst..dst.., tiba-tiba ada seorang Bapak yang dengan polosnya bertanya:
"Tanya Pak", sambil tunjuk jari. "Oh, silakan", saya menimpali.
"Bagaiamana kalau di tempat kerja kita tidak ada komputer Pak?".

One step ahead itu bagus, tapi ya jangan sampai, bahasa latinnya 'ora et
labora' .. eh .. salah 'ora waton'.

kalau kita sudah berbusa-busa membahas soal etika, moral, agama, PMP,
PHP soal rekayasa genetika, lantas mau apa? melupakan PR yang di depan
mata dan melakukan yang kita mau saja? asas manfaat ya asas manfaat,
prioritas tetap harus ada.

BTW, soal istilah 'pengganjel', sebenarnya kalau ada yang nekad
melakukan riset rekayasa genetika di Indonesia itu ibarat koor, ybs.
nyanyinya pales :-)

Salam,

P.Y. Adi Prasaja

-- 
Ini signature saya. Pasang iklan anda di sini ... tarif menantang :-)

Kirim email ke